Apa itu sistem Multi Cropping?

Multi Cropping

Ada banyak teknik untuk meningkatkan produktivitas pangan seperti meningkatkan intensitas tanam, berlatih multiple cropping, mengadopsi teknik hidroponik dan lainnya. Namun diantara beberapa teknik tersebut, katanya multiple cropping adalah langkah yang paling efektif. Apakah kalian tahu apa itu sistem multi cropping?

5 Likes

Penanaman beberapa jenis tanaman dalam system ganda ( multiple cropping ) merupakan suatu usaha untuk meningkatkan hasil pertanian dengan memperhatikan pemilihan kombinasi tanaman yang tepat, sehingga tidak menimbulkan persaingan antar tanaman yang ditanam dalam hal mendapatkan radiasi matahari, air dan nutrisi yang akan berpengaruh pada pertumbuhan maupun hasil.

Adapun bentuk-bentuk multiple cropping diantaranya yaitu:

  1. Tanaman Campuran ( mixed cropping ) yaitu dua atau lebih jenis tanaman ditanam serentak dan tercampur dengan tidak membentuk barisan tanaman yang beratur.

  2. Tumpang sari seumur ( inter cropping ) yaitu dua atau lebih jenis tanaman seumur ditanam serentak dengan membentuk barisan-barisan yang lurus dan tiap jenis tanaman ditanam berseling pada lahan yang sama.

  3. Tumpang sari berbeda umur (inter planting) yaitu menanam tanaman berumur lebih genja berbaris diantara jenis tanaman lain yang berumur lebih dalam pada sebidang lahan yang sama.

  4. Tanaman sela (inter culture) yaitu tanaman semusim atau setahun ditanam diantara tanaman tahunan dengan barisan yang lurus.Sistem ini biasanya dilakukan pada tanaman perkebunan atau tanaman kehutanan, misalnya perkebunan kelapa sawit, karet atau jati. Pada sistem ini tanaman semusim ditanam sewaktu tanaman tahunan masih kecil dan belum produktif. Beberapa jenis tanaman yang biasanya dilakukan dengan sistem tumpang sela yaitu jeruk dan jagung, karet dan padi.

  5. Tanaman beruntun (sequential planting) yaitu menanam tanaman berikut sesegera mungkin setelah tanaman terdahulu di panen pada sebidang lahan yang sama.

  6. Tanaman sisipan (relay planting) yaitu penyisipan tanaman dalam bentuk penanaman benih diantara tanaman lama yang sudah berbunga atau setengah umur.

Referensi:
Dwiputra, G. O. 2017. Pengaruh Dosis Pupuk Organik Limbah Baglog Jamur Tiram Putih Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah Ditumpangsari Pakcoy. [skripsi]. Yogyakarta: Universitas Mecu Buana.

Solar, M. 2015. Kajian Usahatani Tumpang Gilir Tanaman Padi dan Tomat di Desa Wolaang Kecamatan Langowan Timur. 6(17): 1-10.

3 Likes

Multiple cropping didefinisikan sebagai intensifikasi penanaman dalam waktu dan ruang yang mengarah pada penanaman dua atau lebih tanaman di lahan yang sama dalam setahun (Andrews 1976, Joshi 2007, Degla et al 2016). Bertanam ganda bukanlah bentuk baru teknologi pertanian, melainkan merupakan cara kuno bertani intensif. Berbagai tanam telah dipraktikkan di banyak bagian dunia sebagai cara untuk memaksimalkan produktivitas lahan di daerah kecil di musim tanam dengan meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan tenaga kerja untuk keuntungan yang lebih baik dan menstabilkan pendapatan pertanian (Joshi 2007). Dalam pola tanam ini, menanam dua atau lebih tanaman di lahan yang sama lebih umum di daerah tropis yang memiliki lebih banyak curah hujan, suhu lebih tinggi, dan musim tanam yang lebih lama untuk produksi tanaman berkelanjutan.

Pola tanam yang dilaksanakan secara ganda ini memegang peranan yang
sangat penting agar dapat meningkatkan hasil-hasil pertanian. Penanaman berganda atau multiple cropping membuat penggunaan input yang efektif seperti tanah, air, pupuk, tanah dan tenaga kerja, modal, faktor-faktor produksi secara keseluruhan. Penanaman berganda atau multiple croppingdibedakan menjadi 3 tipe pokok yaitu :

  1. Pola tanam tumpang sari (Intercropping) adalah menanam dua atau lebih jenis tanaman pokok dan tanaman yang lain sebagai tanaman tambahan atau tanaman sela.

  2. Pola tanam bergilir (Sequential cropping) adalah menanam dua atau lebih jenis tanaman secara bergilir pada waktu tertentu, jenis tanaman kedua ditanam sesudah tanaman yang pertama dipanen

  3. Pola tanam sela adalah suatu bentuk pola tanam campuran yang dilakukan antara jenis tanaman semusim dengan tanaman tahunan. Sistem ini biasanya dilakukan pada tanaman perkebunan atau tanaman kehutanan, misalnya perkebunan kelapa sawit, karet atau jati. Pada sistem ini tanaman semusim ditanam sewaktu tanaman tahunan masih kecil dan belum produktif. Beberapa jenis tanaman yang biasanya dilakukan dengan sistem tumpang sela yaitu jeruk dan jagung, karet dan padi.

Referensi

Degla P K, S A Adekambi, P Adanhoussode. (2016). Drivers of Multiple Cropping-Systems as Adaptive Strategy to Climate Econometric Methods, International Journal of Energy Economics and Policy, 2015, 5(3), 851-868.

Paudel, M. N. (2016). Multiple Cropping for Raising Productivity and Farm Income of Small Farmers. National Agriculture Genetic Resources Center, Khumaltar, Kathmandu. Journal of Nepal Agricultural Research Council Vol. 2:37-45.

3 Likes

Sistem pertanaman berganda atau tumpangsari merupakan pola pertanaman yang melibatkan penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada suatu hamparan lahan. Prinsip esensial yang terkandung didalamnya adalah penanaman beberapa jenis tanaman secara sekaligus pada sehamparan lahan (intercropping) dan penanaman beberapa jenis tanaman secara bertahap pada sehamparan lahan (sequential cropping). Pertanaman ganda (multiple cropping) merupakan intensifikasi pertanaman dalam dimensi waktu dan ruang. Penanaman dua atau lebih tanaman dalam sebidang lahan yang sama selama setahun.

Tumpangsari digunakan untuk meningkatkan diversitas hasil tanaman dan stabilitas hasil tanamannya. Keuntungan yang diperoleh dengan penanaman secara tumpangsari, yaitu memudahkan pemeliharaan, memperkecil risiko gagal panen, hemat dalam pemakaian sarana produksi, dan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan.

Berdasarkan hasil penelitian Perrin, sistem pertanaman berganda (multiple cropping) atau tumpangsari, secara umum, memiliki tingkat produktivitas lebih tinggi yang tercermin dari lebih tingginya pendapatan kotor per hektar. Pemilihan kombinasi tanaman yang tepat perlu diperhatikan dalam penggunaan sistem multiple cropping. Hal tersebut agar tidak menimbulkan persaingan antar tanaman yang ditumpangsari dalam hal mendapatkan radiasi matahari, air, dan nutrisi yang akan berpengaruh pada pertumbuhan maupun hasil tanaman.

Bentuk-bentuk multiple cropping adalah, sebagai berikut.

  • Pola tanam tumpang sari (Inter cropping) adalah menanam dua atau lebih jenis tanaman pokok dan tanaman yang lain sebagai tanaman tambahan atau tanaman sela

  • Pola tanam bergilir (Sequential cropping) adalah menanam dua atau lebih jenis tanaman secara bergilir pada waktu tertentu, jenis tanaman kedua ditanam sesudah tanaman yang pertama dipanen

  • Pola tanam sela adalah suatu bentuk pola tanam polikultur (campuran) yang dilakukan antara jenis tanaman semusim dengan tanaman tahunan. Sistem ini biasanya dilakukan pada tanaman perkebunan atau tanaman kehutanan, misalnya perkebunan kelapa sawit, karet, atau jati. Pada sistem ini tanaman semusim ditanam sewaktu tanaman tahunan masih kecil dan belum produktif. Beberapa jenis tanaman yang biasanya dilakukan dengan sistem tumpang sela yaitu jeruk dan jagung, karet, dan padi

Referensi

Beets, W. C. 1982. Multiple Cropping and Tropical Farming Systems. England: Gower Publishing Company Limited

Dja’far S., Putus S., dan Tohari. 2018. Aspek Dasar Agronomi Berkelanjutan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Gomez, A. A., dan R. W. Willey. 2008. Multiple Cropping in the Humid Tropics of Asia. Ottawa: international Development Research Center

Perrin, R. M. 1977. Pest Management in Multiple Cropping Systems. Agro-Ecosystems. 3: 93-118

Steiner, K. G. 1984. Intercropping in Tropical Smallholder Agriculture with Special Reference to West Africa. GTZ Eschborn, West Germany

Witono, A., Rachman S., Nikardi, G., dan Achmad H. 2004. Aspek Nonteknis dan Indikator Efisiensi Sistem Pertanaman Tumpang Sari Sayuran Dataran Tinggi. Jurnal Hortikultura. 14 (3): 1-7

2 Likes

Secara singkatnya sistem multi cropping adalah Pola penanaman yang dilakukan dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama selama satu tahun untuk memperoleh lebih dari satu hasil panen.

Sumber : Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Jenis-jenis Pola Tanam Polikultur yang Sering Digunakan. March, 05, 2020. Retriev : bulelengkab.go.id

2 Likes

Pertanaman ganda (Multiple Cropping) adalah suatu sistem pertanaman atau usahatani yang mengusahakan dua atau lebih tanaman budidaya pada suatu luasan lahan tertentu. Tujuan pertanaman ganda ini adalah untuk meningkatkan produktivitas lahan dan mengurangi resiko kegagalan panen. Saat ini Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan juga sedang giat melakukan sistem pertanaman ganda di lahan balai.

Pertanaman ganda ini telah lama dipraktekkan oleh banyak petani di daerah tropis sejak beberapa tahun silam dengan input produksi yang sederhana, produksi dan tingkat teknologi yang variatif. Awalnya ditujukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, namun akhir-akhir ini penerapan Multiple Cropping tidak hanya ditujukan untuk keperluan rumah tangga saja dalam waktu terbatas, tetapi telah dikembangkan dengan mengaplikasikan berbagai jenis tanaman yang mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan yang bervariasi untuk mencukupi kebutuhan pasar dengan teknologi ramah lingkungan.

Sumber : http://www.swadayaonline.com/artikel/2228/Galakkan-Kembali-Budidaya-Tanaman-Dengan-Sistem-Multiple-Cropping/

1 Like

Penanaman beberapa jenis tanaman dalam system ganda (multiple cropping) merupakan satu usaha untuk meningkatkan hasil pertanian, dengan memperhatikan pemilihan kombinasi tanaman yang tepat, sehingga tidak menimbulkan medan persaingan antar tanaman yang ditumpangsarikan dalam hal mendapatkan radiasi matahari, air dan nutrisi yang akan berpengaruh pada pertumbuhan maupun hasil.

Tumpang sari suatu tanaman merupakan salah satu bentuk atau cara pengaturan tanaman dalam satu lahan. Penanaman tumpang sari disamping dapat meningkatkan produk total, juga meningkatkan pedapatan yang lebih besar dibandingkan dengan penanaman monokultur. Selain itu, tumpang sari juga dapat meningkatkan daya guna zat hara dalam tanah, dapat meningkatkan efisiensi penggunaan ruang dan cahaya, mengurangi gangguan hama, penyakit dan gulma serta mengurangi besarnya erosi. Dalam tumpang sari (intercropping) selain terjadi adanya persamaan kebutuhan pertumbuhannya, maka pola pertanaman untuk tanaman bersamaan waktu masaknya dapat memberikan total produksi yang lebih tinggi dibandingkan pola tanam system monokultur.

Pola tanam yang dilaksanakan secara ganda ini memegang peranan yang sangat penting agar dapat meningkatkan hasil-hasil pertanian. Menurut Mangoendidjojo (1983), sistem tanam ganda dibedakan menjadi 3 tipe pokok yaitu :

  1. Pola tanam tumpang sari (Inter cropping) adalah menanam dua atau lebih jenis tanaman pokok dan tanaman yang lain sebagai tanaman tambahan atau tanaman sela.

  2. Pola tanam bergilir (Sequential cropping) adalah menanam dua atau lebih jenis tanaman secara bergilir pada waktu tertentu, jenis tanaman kedua ditanam sesudah tanaman yang pertama dipanen.

  3. Pola tanam sela adalah suatu bentuk pola tanam polykultur (campuran) yang dilakukan antara jenis tanaman semusim dengan tanaman tahunan. Sistem ini biasanya dilakukan pada tanaman perkebunan atau tanaman kehutanan, misalnya perkebunan kelapa sawit, karet atau jati. Pada sistem ini tanaman semusim ditanam sewaktu tanaman tahunan masih kecil dan belum produktif. Beberapa jenis tanaman yang biasanya dilakukan dengan sistem tumpang sela yaitu jeruk dan jagung, karet dan padi

Sumber : Beets, W. C. 1982. Multiple Cropping and Tropical Farming Systems. Gower Publishing Company Limited. England

1 Like

Multiple cropping atau diversifikasi/tumpangsari pertanian adalah menanam lebihd ari satu jenis tanaman dalam satu lahan dalam satu musim tanam. Teknik ini membuat efektifitas dalam penggunaan tanah, air dan pupuk. Jadi hasil panen akan lebih meningkat dan petani lebih diuntungkan.
Multiple cropping dapat dilakukan pada varietas tanaman tahunan. Ini memungkinkan negara menjadi mandiri dalam produksi pangan dan ekspor menjadi surplus sehingga devisa negara bertambah dan dapat digunakan untuk mebiayai program pembangunan di sektor lainnya.

2 Likes

Batasan sederhana dari Multiple Cropping dapat dilihat dari dua suku kata yang menyusunnya, yakni ”multiple” artinya ”ganda” dan ”cropping” artinya ”pertanaman”, maka arti Multiple Cropping dari asal katanya adalah ”pertanaman ganda”. Namun demikian secara sederhana Multiple cropping pengertiannya disamakan dengan tanaman ganda atau tumpang gilir adalah pengusahaan berbagai jenis tanaman pada sebidang lahan yang sama dalam jangka waktu satu tahun. Sedang menurut Neal C. Stoskopt (1981) mengartikan multiple cropping adalah pertumbuhan dua jenis tanaman atau lebih pada sebidang lahan yang sama dalam waktu satu tahun. Dengan demikian memberikan gambaran yang komprehensif bahwa dalam multiple cropping dapat dilakukan pemungutan hasil atau panen lebih dari satu kali dalam jangka waktu selama satu tahun.

Praktek pengusahaan tanaman dalam multiple cropping meliputi semua jenis tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat seperti tanaman semusim, tanaman tahunan, ternak, atau ikan yang dipelihara di sawah melalui pola penanaman yang tepat dan sesuai.

Sistem tersebut sudah tidak asing lagi bagi kita karena sudah lama dikenal oleh petani secara tradisional di Indonesia. Pada lahan kering, tegalan, dan pekarangan diusahakan pertumbuhan tanaman dan pola tanam yang sesuai pada suatu lahan merupakan interaksi antara tanah, iklim, tanaman dan pengelolaannya. Setiap jenis tanaman akan tumbuh dengan baik apabila kebutuhan minimal terhadap faktor-faktor yang diperlukan terpenuhi. Sedangkan hasil yang diperoleh akan menguntungkan bilamana susunan faktor-faktor yang diperlukan tersedia secara optimal.

Berbagai terobosan dalam teknologi pertanian telah ditemukan oleh ahli agronomi dan telah dilakukan oleh petani untuk melipatgandakan hasil pertanian tanpa merusak kesuburan tanah, kelestarian air, serta dengan biaya produksi yang sangat rendah. Salah satu di antaranya adalah pemanfaatan lahan dengan berbagai jenis tanaman per satuan luas dalam jangka waktu tertentu. Sistem ini dikenal multiple cropping sebagai dimensi ketiga dalam upaya peningkatan produksi pertanian. Aneka macam tanaman pangan, dan tanaman perkebunan yang diusahakan oleh petani seperti kelapa, cengkeh, jambu mete dan sebagainya.

Pada lahan sawah yang beririgasi dalam musim hujan di samping ditanami padi, juga petani sempat menanam palawija seperti jagung, kacang panjang dan sebagainya. Di atas pematang atau gelengan sawah tersebut. Apalagi sawah sistem sorjan dimana lahan pertanian dapat dibagi dua secara berselingan yaitu lahan kering (guludan) dan lahan basah (tabukan).

Daerah persawahan yang memperoleh air pengairan sepanjang tahun dimungkinkan untuk menanam padi secara terus menerus, kecuali ada masalah lain. Biasanya pada daerah irigasi ini lahan yang dimiliki petani lebih sempit bila dibandingkan dengan lahan tanpa irigasi. Berdasarkan kenyataan ini masih banyak petani yang mengusahakan padi sawah satu kali dalam setahun dengan lahan yang begitu sempit sehingga hasilnya tidak cukup untuk kebutuhan keluarganya. Mereka membiarkan tanahnya kosong setelah panen padi walaupun masih ada kemungkinan untuk mengusahakan satu kali pertanaman lagi, terutama jenis-jenis tanaman yang berumur pendek.

Petani dengan tanah garapan yang terbatas mengusahakannya secara efisien mungkin untuk mencukupi keperluan hidup keluarganya sehari-hari. Dengan demikian usaha mempertinggi produksi pertanian persatuan luas sambil menjaga kesuburan tanah dan kelestarian air, tentu akan menjadi sangat penting dan besar artinya bagi kesejahteraan petani. Telah diketahui bahwa peningkatan produktivitas satuan luas lahan dapat dilakukan dengan perbaikann kinetika tanaman, peningkatan pemakaian pupuk, teknik pengendalian hama penyakit yang baik, pengelolaan dan pengolahan tanah yang baik serta pengelolaan dan pemanfaatan air irigasi (Richard et al, 1984).

Dalam usaha meningkatkan produksi pertanian per satuan luas persatuan waktu maka daya guna tanah, air, sinar matahari dan waktu perlu ditingkatkan. Melalui upaya ini kita dapat memperpendek saat kosong (bera) sebidang lahan. Dengan kata lain mengusahakan sejauh mungkin adanya pertanaman pada sebidang lahan sepanjang tahun. Upaya seperti tersebut sebenarnya telah dilakukan oleh petani yang memiliki tanah garapan sempit meskipun belum diusahakan secara intensif.

Dalam melaksanakan sistem multiple cropping akan diperoleh manfaat sebagai berikut:

  1. Mencegah tibanya masa paceklik karena volume dan frekuensi panen bertambah.

  2. Mengurangi pengangguran musiman. Dalam hal ini tenaga kerja dapat diatur dengan baik sehingga dapat mencegah pengangguran sepanjang tahun.

  3. Memperbaiki taraf hidup petani karena dengan sistem multiple cropping pendapatan petani meningkat, mengurangi resiko kegagalan panen dan memperbaiki keanekaragaman pangan serta nilai gizi makanan masyarakat.

  4. Bila dilakukan secara intensif dan sistematis akan dapat menekan biaya produksi dan dapat mempertahankan produktifitas tanah yang cukup tinggi.

  5. Dapat membantu mengendalikan hama dan penyakit, tumbuhan penganggu atau mempertahankan stabilitas biologis.

  6. Dengan penerapan multiple cropping baik dan tepat akan dapat memberikan solusi bagi masalah kekurangan pangan umat manusia di daerah rawan dan juga efisien dalam hal penggunaan sumber daya tanah, air, cahaya dan modal lebih ditingkatkan.

  7. Pengendalian erosi dengan penutup tanah karena permukan tanah dapat tertutup sepanjang tahun. Erosi dan pencucian unsur hara juga dapat diminimalkan dengan menggilir tanaman legum dan non-legum.

  8. Merupakan upaya mempertahankan kesuburan tanah dengan penggunaan pupuk hijau terutama tanaman yang dapat mengfiksasi nitrogen dari udara.

Salah satu contoh penerapan sistem multiple cropping (menanam kacang ijo sebelum padi) di Thailand (Pookpakdi, 1992) telah memberikan keuntungan atau manfaat sebagai berikut:

  • Memberikan pendapatan ekstra petani lahan kering hanya dalam jangka waktu pendek (lebih kurang 70 hari).

  • Populasi gulma di lahan petani berkurang, sehingga memudahkan persiapan lahan untuk tanaman padi sebagai tanaman berikutnya.

  • Unsur nitrogen dapat disuplai ke dalam tanah akibat adanya fiksasi nitrogen oleh kacang hijau yang memberikan keuntungan bagi tanaman padi.

  • Meningkatkan ektivitas di lahan pertanian sehingga dapat membantu upaya pengurangan perpindahan penduduk.

Perwujudan dalam sistem multiple cropping antara lain sebagai berikut:

  • Tanam gilir adalah pengusahaan tanaman pada sebidang lahan dengan menanam tanaman jenis lain berikutnya setelah panen.

    Contoh: Setelah panen kapas diikuti dengan penanaman jagung atau kedelai dan lain sebagainya.

  • Tanam sisip adalah pengusahaan tanaman pada sebidang lahan dengan cara menanam benih atau bibit tanaman berikutnya pada saat menjelang panen. Tanaman sisip biasa pula disebut dengan Relay Planting.

    Contoh: Ubi jalar ditanam pada saat menjelang panen jagung.

  • Tanaman sela adalah usaha pertanaman tanaman semusim di antara barisan tanaman utama (tanaman tahunan) selama tanaman utama belum menghasilkan. Tanaman sela biasa pula disebut Interculture.

    Contoh: Padi gogo di antara tanaman kelapa, jagung di antara tanaman cengkeh/ coklat dan sebagainya.

  • Tanaman beruntun adalah pengusahaan satu jenis tanaman pada sebidang lahan yang ditanam segera setelah tanaman sebelumnya selesai dipanen. Tanaman beruntun sama dengan istilah Sequential Planting.

    Contoh: Padi dengan kedelai di lahan sawah.

  • Tumpang sari adalah pengusahaan lebih dari satu jenis tanaman pada sebidang lahan dengan jarak tanam yang teratur. Tumpang sari sama dengan istilah Inter Cropping

    Contoh : padi gogo ditumpangsari dengan jagung dan ubikayu.

  • Tanam kepras adalah pengusahaan tanaman pada sebidang lahan dengan menanam melalui pemangkasan dan memelihara terus hasil pangkasan untuk menghasilkan panen baru. Tanam kepras sama dengan dengan istilah Ratoon.

    Contoh : tebu dan padi

  • Tanam campur adalah pengusahaan lebih dari satu jenis tanaman pada sebidang lahan tanpa jarak tanam yang teratur. Tanam campur sama dengan istilah Mixed Cropping.

  • Sistem surjan adalah sistem pengelolaan sebidang lahan pertanian yang dibagi dua secara berselingan yaitu lahan kering (guludan) dan lahan basah (tabukan) kemudian ditanami dengan jenis tanaman yang cocok dengan kondisinya masing-masing.

    Contoh: lahan basah ditanami dengan padi dan lahan kering ditanami palawija.

Adapun tanaman yang menjadi alternatif pilihan dalam sistem multiple cropping harus memenuhi syarat-syarat antara lain :

  • Harus dapat menambah atau mempertahankan keseburan tanah.

  • Komplementer dan suplementer satu dengan yang lainnya baik dalam hal unsur hara maupun sinar matahari.

  • Nilai ekonomisnya tinggi, laku dipasaran serta mempunyai nilai kompetitif yang tinggi. Disamping itu juga jenis tanaman yang dibutuhkan masayarakat pada setiap saat.

  • Dapat menggunakan tenaga kerja yang efisien.

  • Diharapkan jenis tanaman yang tidak merugikan tanamanlebih baik ditinjau dari aspek morfologi maupun fisiologi.

Referensi :
Jurochman, J.I. 2014. Makalah Sistem Pertanian Tentang Multiple Cropping. Yogyakarta : Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang Jurusan Penyuluhan Pertanian di Yogyakarta