Apa itu penyakit Tuberkulosis Sapi?

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri dari genus Mycobacterium. Sebagai penyakit menular, tuberkulosis sudah dikenal sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu, ditemukan tanda menciri dari penyakit ini pada tulang mumi Mesir kuno. Robert Koch, antara tahun 1882-1884 berhasil memperlihatkan agen penyebab pada jaringan berpenyakit melalui pewarnaan, kemudian menumbuhkannya secara murni pada medium dan membuktikan sifat kepenularan penyakit ini pada hewan percobaan.

image

PENGENALAN PENYAKIT

1. Gejala klinis

Pada hewan, gejala Klinis tuberkulosis dapat bervariasi, hal itu tergantung pada dimana lesi yang berupa bungkul atau tuberkel itu tersebar dalam organ tubuh penderitanya. Dalam banyak hal, gejala klinis tuberkulosis sapi yang menciri kurang terlihat atau tidak mudah diamati, bahkan pada sapi dengan tahap lanjut banyak organ terserang. Pada awal serangannya, banyak sapi yang tidak menampakkan gejala klinis, penyakit tuberculosis sapi biasanya berlangsung menahun (kronis), meskipun tidak selalu demikian halnya.

Pada sapi, kuda, domba dan kambing, penyakit dapat bersifat akut dan progresif, menyerang banyak organ tubuh. Sapi sakit terlihat kondisi badan menurun, dengan bulu-penutup yang bervariasi mungkin kasar atau mungkin lembut. Bila paru-paru terkena, maka terjadi bronkopneumoni yang ditandai dengan terdengarnya batuk serta kesulitan bernapas (dyspnoea) akibat pembesaran kelenjar limfe bronkial yang menekan jalan pernapasan.

Bila penyakit berlanjut, maka terlihat membesarnya kelenjar limfe (beberapa kali lipat dari ukuran kelenjar normal) yang ada pada daerah kepala dan leher. Bahkan kadang-kadang kelenjar yang membesar itu sampai pecah dan mengeluarkan isinya. Isi kelenjar, limfe yang keluar ini mengandung agen penyebab yang bersifat infektif.

Bila saluran pencernaan makanan yang terkena (tetapi ini jarang), maka hal itu ditandai dengan adanya diare yang hilang timbul (intermittent) atau mungkin terjadi konstipasi. Pembesaran kelenjar limfe mediastinal dihubungkan dengan terjadinya kembung rumen pada penderita, bahkan kembung rumen tersebut dapat berlangsung menetap. Kekurusan tubuh yang sangat nyata serta kesulitan bernapas yang akut menandai babak akhir dari serangan tuberkulosis pada seekor hewan. Lesi pada alat kelamin betina (seperti metritis, vaginitis) mungkin dapat ditemukan, sedangkan lesi pada alat kelamin jantan (orchitis) jarang dilihat.

2. Patologi

Meskipun pada dasarnya semua organ tubuh dapat diserang oleh M.bovis, namun kerusakan organ atau lesi yang ditimbulkannya, berbentuk bungkul (nodule) bisa disebut granuloma atau sering pula dikenal dengan sebutan tuberkel (tubercle), pada umumnya kejadiannya diawali dengan organ yang ada dalam rongga dada (organ paru-paru) dan kadang-kadang ada kelenjar limfe (lymph nodes) di daerah kepala atau pada usus (kelenjar limfe retropharyngeal, bronkial, mediastinal dan mesenterik).

Selain itu, lesi yang berupa tuberkel tadi juga ditemukan pada organ lain, seperti pada hati, limpa, glnjal, pleura dan pada membran serous lainnya. Bila penyakit berlanjut maka tuberkel tadi ditemukan menyebar pada organ dan jaringan yang secara primer jarang terkena, seperti kelenjar susu atau ambing yang memungkinkan penularan penyakit melalui konsumsi susu, uterus dan selaput otak.

Catatan: Tuberkel hanya dapat dilihat bila dilakukan bedah bangkai (nekropsi) pada hewan penderita tuberkulosis yang mati akibat penyakit ini.

Tuberkel terdiri dari sel epiteloid yang merupakan sarang bakteri penyebab (yang kemungkinan masih dapat lolos dan menyebar ke organ lain) dan kumpulan makrofag serta sel-sel raksasa tipe Langhans. Adanya tuberkel pada hewan terserang tuberkulosis merupakan upaya dari tubuh penderita untuk melokalisasi infeksi oleh serangan M.bovis. Pada bedah bangkai tadi, biasanya tuberkel terlihat kekuningan dan berkonsistensi seperti keju, keju berkapur atau seperti kapur, kadang-kadang bernanah. Bagian tengah dari jaringan berkeju tadi biasanya kering, keras, diselimuti selubung bersifat fibrosa dengan ketebalan yang bervariasi. Tentang ukuran besarnya tuberkel yang dapat ditemukan sangat bervariasi, dari yang terlembut begitu lembutnya sehingga tidak nampak bila dilihat dengan mata telanjang sampai yang terbesar, yakni sedemikian besarnya sehingga menduduki bagian terbanyak dari suatu organ yang terserang. Sering terjadi bahwa tuberkel yang besar itu, sesungguhnya merupakan gabungan dan sejumlah lesi yang lembut tersebut.

3. Diagnosa

Tuberkulosis sapi dapat didiagnosa baik pada waktu hewan masih hidup maupun sesudah mati. Mengingat gejala klinis yang jelas pada hewan tertular tuberkulosis sapi jarang terlihat, maka untuk mendiagnosa penyakit ini tidak mudah. Pada hewan penderita masih hidup, maka diagnosanya didasarkan pada gejala klinis penyakit yang terlihat dan terutama dititik beratkan pada terdapatnya reaksi hipersensitivitas tipe tertunda (delayed hypersensitivity reactions) dari hewan tersangka, yang dilakukan dengan penerapan uji tuberkulin per individu hewan dari kawanan sapi yang dicurigai tertular tuberkulosis (uji tuberkulin). Pada ternak sapi, uji tuberkulin masih merupakan uji standar dan dipakai dalam perdagangan internasional. Bagi hewan tersangka tuberkulosis sapi yang sudah mati, maka diagnosanya didasarkan pada hasil pemeriksaan pasca mati terhadap bangkainya, yang dilengkapi dengan hasilpemeriksaan di laboratorium, antara lain pemeriksaan histopatologi dan bakteriololgi. Dalam hal ini, pemeriksaan bakteriologi yang dimaksud meliputi pemeriksaan mikroskopik preparat dan isolasi yang dilanjutkan dengan identifi kasi dari bakteri yang ditemukan.

Berbagai cara pemeriksaan lain yang dikembangkan pada tahun akhir ini, seperti teknik reaksi polimerase berantai (PCR), ELISA, uji proliferasi limfosit (lymphocyte proliferation assay) dan uji gamma interferon (Gamma interferon assay, IFN-y) memang dapat dipergunakan untuk mendiagnosa tuberkulosis sapi. Namun uji-uji tersebut menuntut tersedianya fasilitas serta logistik yang memadai dari laboratorium pemeriksa, SDM yang terlatih dan dapat dipergunakan misalnya untuk mendiganosa tuberkulosis pada sapi liar dan pada hewan liar penghuni kebun binatang. Pada hewan dengan teknik radiologi seperti pada manusia mendiagnosa tuberkulosis tidak lazim dilakukan, kecuali pada kera dan domba/kambing

Catatan: Menyadari akan bahaya penularan M.bovis kepada

manusia maka petugas laboratorium diagnostik harus mewaspadai bahwa tuberkulosis sapi besifat zoonosis, sehingga segala pekerjaan yang menyangkut pemrosesan spesimen tuberkulosis harus dilakukan dalam suatu alat yang disebut biohazard cabinet, dapat memberi perlindungan bagi petugas terhadap bahaya kemungkinan penularan dari spesimen yang sedang dikerjakannya.

4. Diagnosa Banding

Penyakit tuberkulosis sapi dapat dikelirukan dengan berbagai penyakit berikut:

a. Kekurusan tubuh pada hewan penderita dapat dikelirukan dengan hewan yang terserang paratuberkulosis. Selain tubuh yang kurus, penderita paratuberkulosis biasanya juga mengalami diare yang menetap.

b. Infestasi cacing gastrointestinal yang berat mengakibatkan kekurusan tubuh penderita yang disertai dengan diare dapat dikelirukan dengan penderita tuberkulosis sapi tahap lanjut.

c. Hewan kurang gizi (baik kuantum maupun mutunya) yang berat dan yang berlangsung lama mengakibatkan kekurusan tubuh hewan yang bersangkutan. Dapat dikelirukan dengan penderita tuberkulosis sapi tahap lanjut.

d. Contagious bovine pleuro pneumonia (CBPP) kronis dapat dikelirukan, terutama bagi daerah yang endemik penyakit ini (perhatian : CBPP tidak didapatkan di Indonesia).

e. Actinobasilosis dan infeksi Actinomyces pyogenes dapat dikelirukan dengan tuberkulosis sapi. Actinobasilosis pada pedet sering disebut sebagai Calf Pneumonia, yang gejala klinisnya jelas bila pedet telah berumur 2-3 bulan, sedangkan pada infeksi Actinomyces, selain sapi terlihat kurus juga terdapat infeksi pada organ paru-parunya.

5. Pengambilan dan Pengiriman Spesimen

Pada bedah bangkai hewan yang mati tersangka tuberkulosis, spesimen yang diperlukan adalah sebagai berikut:

a. Potongan organ yang menyimpang atau tidak normal diambil secara aseptik antara bagian jaringan yang masih sehat dan bagian yang ada tuberkelnya (masing-masing berukuran kira-kira 2 cm) seperti paru-paru, hati dan limfa, juga semua kelenjar-kelenjar limfe pada bagian kepala dan usus, termasuk dahak yang ada dalam saluran pernapasan.

b. Organ tersebut dimasukkan dalam wadah steril tanpa pengawet dan dalam keadaan dingin (masukkan ke dalam termos es) dikirimkan segera ke laboratorium, spesimen ini untuk pemeriksaan kultur di laboratorium.

c. Bila spesimen tersebut diperkirakan tiba di laboratorium melebihi waktu 24 jam, maka pada spesimen tadi perlu ditambahkan asam borak dengan kepekatan akhir 0,5% (w/v), yang dimaksudkan untuk mencegah pencemaran oleh bakteri lainnya.

Referensi:
http://wiki.isikhnas.com/images/b/b9/Manual_Penyakit_Hewan_Mamalia.pdf