Apa itu penyakit Glanders?

image

Glanders adalah penyakit infeksi kronis yang dapat menyerang pada hewan berkuku satu, dan jarang ditemukan pada hewan-hewan lainnya atau juga pada manusia. Penyakit ini ditandai dengan ciri yang spesifi k yaitu adanya formasi nodule fi brokaseous pada alat pernafasan bagian depan, paru-paru dan kulit. Penyakit kebanyakan ditemukan di Asia, Eropa Timur, dan Afrika Utara.

PENGENALAN PENYAKIT

1. Gejala Klinis

Masa inkubasinya amat bervariasi, gejala klinis muncul setelah beberapa hari setelah infeksi atau sekitar 1 - 2 minggu. Namun demikian kadang-kadang masa tunas dapat pendek tetapi dapat juga sampai beberapa bulan bahkan tahun, dan pada beberapa kasus infeksi berjalan subklinis. Penyakit akan nampak muncul apabila hewan mengalami stres seperti karena kerja keras yang berlebihan atau kekurangan pakan.

Pada umumnya kuda penderita glanders tidak menampakkan gejala penyakit, meskipun sebenarnya kuda-kuda tersebut dapat merupakan sumber penularan untuk kuda-kuda lainnya. Gejala pertama yang nampak merupakan gejala umum yang tidak spesifi k. Pada awalnya kuda nampak menurun kondisinya, bulu tidak mengkilat dan kasar, mudah lelah, dan ada kalanya disertai batuk yang kering. Gejala pertama adalah kelainan sebagai akibat adanya lesi di saluran nafas bagian atas atau kulit yang disertai dengan demam naik turun dan hilangnya napsu makan dan minum. Gejala klinis penyakit Glanders secara garis besar dapat dibedakan sebagai bentuk paru-paru, hidung, dan kulit, penderita dapat pula termanifestasi dari ketiga bentuk tersebut.

Pada bentuk akut penyakit ditandai dengan demam, batuk serta bersin (nasal discharge), selanjutnya proses berjalan secara periodik terjadi penyempitan cuping hidung. Kelenjar getah bening submaxillary membesar dan terasa sakit jika dipegang. Juga terdapat gejala kegagalan respirasi (respiratory distress) dan dapat terjadi kematian setelah 2 minggu. Bentuk akut biasanya umum terjadi pada bangsa keledai dan Bagal, tetapi jarang pada bangsa kuda, dan jika terjadi pada kuda biasanya adalah bentuk kronis dengan gejala stres.

Bentuk kronis ditandai dengan kelesuan, batuk, demam yang berselang-seling serta juga bentuk hidung dan kulit juga dapat terlihat, serta pembesaran kelenjar getah bening submaxillary. Dengan istirahat dan pemberian pakan yang baik akan memberi perbaikan pada kondisi tubuh.

Gejala pertama pada lesi hidung terjadi dengan sekresi yang bening tipis berasal dari salah satu atau kedua cuping hidung yang kemudian menjadi purulenta serta kadang-kadang bersama dengan darah. Nodul pada mukosa hidung dapat pecah dan menyebabkan terjadinya luka yang ada area nekrosenya. Hal tersebut merupakan suatu proses menyebabkan terbentuknya bintang pada septum nasal, yang dapat terjadi pada kasus yang ekstrem. Pada mukosa hidung mungkin dapat ditemukan ulserasi dan nodulasi, kelenjar limfe submaksiler mengalami pembengkakan, dan epistasis juga dapat ditemukan pada penderita.

Pada bentuk kulit (farcy), salah satu atau kedua kaki depan biasanya terinfeksi, selain di kaki lesi juga dapat terjadi di tempat lain. Bentuk kulit biasanya ditemukan pada sepanjang garis lymphatik yang ada di kulit. Nodul yang terjadi dengan bentuk seperti kue pea akan pecah dan mengeluarkan sekresi berwarna kuning abu-abuan disertai nanah, dan meninggalkan luka di kulit. Bentuk kulit merupakan metastase secara hematogen dari organ- organ tubuh bagian dalam, dan jarang yang merupakan kejadian primer penyakit.

2. Patologi

Bentuk paru-paru ditemukan pada semua kasus glanders. Pada kejadian yang bersifat fatal lesi-lesi banyak ditemukan di dalam paru-paru, kelenjar limfe trakeal atau bronkhial, mukosa hidung dan kulit. Dapat juga ditemukan limfangitis subakut atau kronis yang kebanyakan mengenai pada kaki-kaki belakang. Lesi kadang ditemukan pada kelenjar limfe mesenterial, limpa dan hati, jarang ditemukan di ginjal, dan kadang-kadang pada skrotum hewan jantan.

Lesi di paru hampir selalu ditemukan pada kuda penderita glanders. Pada gambaran potongan paru, ditemukan adanya nodul keras dengan warna keabu-abuan. Nodul pada kejadian pertama berwarna merah tetapi berikutnya akan berkembang dengan pesat berwarna kekuningan yang akan membesar sampai terjadi bentukan yang menempel di paru dan tidak mudah untuk dilepaskan. Apabila nodul masih baru, pusat nodul berwarna putih kotor, kuning dan bersifat seperti gelatin, bagian pusat terdiri dari nanah yang mengental. Pada nodul yang tua, akan terdapat pusat nodul yang berwarna abu-abu dikelilingi oleh bahan yang lunak dan kering, atau oleh kapsul yang bersifat fi brous.

Lesi di dalam hidung berbentuk sebagai luka, dapat terbentuk pada bagian mukosa tetapi yang paling banyak adalah pada sekat hidung. Ulserasi dapat mengakibatkan tertembusnya sekat hidung. Lesi atau luka glanders mungkin akan mengalami kesembuhan yang akan membekas berbentuk jaringan parut berbentuk seperti bintang atau stelat.

Lesi kulit yang tersifat dikenal dengan nama “Farcy bud”, pada kulit atau jaringan bawah kulit ditemukan adanya pembengkakan dengan diameter 2-3 cm atau lebih. Luka Farcy mempunyai lubang yang berbentuk seperti bibir. Luka dapat meluas dan membesar, biasanya cenderung tidak sembuh dalam waktu yang lama sehingga terbentuk jaringan parut. Tunas lesi atau Farcy bud kebanyakan ditemukan di kaki belakang, pada bagian dalam dari tumit ke bawah. Namun lesi tersebut juga mungkin dapat ditemukan pada bagian tubuh yang lain.

Bila menyerang pada manusia akan menimbulkan lesi ulserasi yang ekstensif pada kulit, kulit akan nampak edem dan hemoragi dengan lesi Farcy berhubungan dengan pembuluh limfe membentuk “Farcy pipes”. Kulit mengelupas, mengalami penebalan, berwarna kemerahan dengan eksudat ektensif yang bernanah (dapat dilihat pada Gambar).

3. Diagnosa

Berbagai metoda diagnosa untuk glanders selain dengan berdasar gejala klinis, hasil pemeriksaan bakteriologis, dapat juga dilakukan secara serologis, dan uji mallein pada penyakit-penyakit yang gejalanya tersembunyi atau tidak jelas.

Metode yang dipakai di lapangan selain melihat gejala klinis, untuk menyeleksi ternak yang terkontaminasi dilakukan dengan intradermo palpebral mallein test. Uji dilakukan dengan menyuntikkan 0,1 ml konsentrat mullein, disuntikkan 5 mm dibawah pelupuk mata. Reaksi positif ditandai dengan adanya kebengkakan lokal dan mukopurulent discharge yang terjadi dalam 24 jam sampai dengan 2-3 hari setelah pengujian. Pada hewan normal dapat terjadi respon kebengkakan yang sangat ringan pada kelopak mata yang mungkin terlihat 2-6 jam setelah penyuntikkan, dan akan menghilang dalam waktu sekitar 12 jam. Cara penyuntikan selain melalui ophthalmik test juga dapat dilakukan secara subkutaneus atau kutaneus.

4. Diagnosa Banding

Kutaneus klinis glanders dapat dikelirukan dengan epizootik lymphangitis dan ulceratif lymphangitis, serta akut glanders dapat dikelirukan dengan strangles.

5. Pengambilan dan Pengiriman Spesimen

Sampel dapat diambil dari lesi segar. Organisme yang cukup banyak dapat diperoleh dari olesan lesi segar, jumlah organisme hanya sedikit ditemukan di lesi yang lebih tua. Selanjutnya harus diwarnai dengan metilen biru atau pengecatan Gram. Lebih baik pengambilan sampel dari lesi yang tidak terkontaminasi (belum terbuka). Dalam sampel yang diperoleh biasanya dalam kondisi yang tidak steril. Untuk menghindari perubahan karakteristik yang dapat terjadi secara in vitro, maka isolat segar harus digunakan dalam upaya identifi kasi. Media kultur harus dikontrol kualitasnya dan harus dapat mendukung pertumbuhan organisme dari inokulum kecil. Strain referensi harus dibudidayakan secara paralel untuk memastikan bahwa tes bekerja dengan benar. Untuk mengatasi kontaminasi, suplementasi media sampel dengan zat yang menghambat pertumbuhan bakteri Gram-positif dengan penambahkan kristal violet atau profl avine telah terbukti bermanfaat.

Referensi