© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa dampaknya apabila gigi hilang atau copot tidak segera diganti?

Gigi

Karena sesuatu hal, gigi geraham bisa saja dicabut atau hilang. Biasanya, gigi yang hilang akan diganti dengan gigi palsu. Apa dampaknya apabila gigi hilang atau copot tidak segera diganti?

Akibat kehilangan gigi bergantung dari pengaruh sejumlah faktor, antara lain; letak, jumlah elemen gigi yang hilang, interdigitasi, kondisi jaringan periodontal dan posisi lidah. Selain hal-hal tersebut, ada juga faktor-faktor lain yang berpengaruh, yakni; usia, kemampuan adaptasi terhadap perubahan karena
kehilangan gigi, serta toleransi neuromuskular.

Beberapa akibat yang terjadi ketika gigi hilang tidak diganti adalah penurunan dukungan jaringan periodontal dan tulang alveolar, atrisi, penurunan geligi dan disfungi TMJ, kehilangan efisiensi mastikasi, pergeseran gigi serta perubahan lengkung oklusal.

  • Penurunan dukungan jaringan periodontal dan tulang alveolar diakibatkan oleh kehilangan kontak proksimal yang terjadi pada ruang diastema. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya impaksi makanan, inflamasi gingiva, dan pembentukkan poket yang pada diikuti oleh destruksi tulang alveolar dan kegoyangan gigi yang berdekatan. Disharmoni oklusal yang disebabkan perubahan posisi gigi akan melukai jaringan periodonsium (trauma from occlusion) dan memulai terjadinya destruksi jaringan. Selanjutnya, terjadi resorbsi progresif dari tulang alveolar. Inilah akibat yang paling tidak diinginkan pada kehilangan gigi sebagian. Semakin besar ruang diastema, semakin cepat resorpsi alveolar yang terjadi sebab beban yang diterima lebih besar.

  • Atrisi, penurunan geligi dan disfungsi TMJ dapat terjadi karena pada kehilangan gigi, cenderung akan terjadi pengunyahan satu sisi pada sisi lengkung yang tidak mengalami kehilangan gigi. Hal ini menyebabkan terpusatnya beban fungsional sehingga geligi terjadi atrisi dan penurunan geligi. Terpusatnya beban fungsional tersebut juga seringkali mengakibatkan adanya disfungsi TMJ. Hal ini berkaitan dengan adanya gangguan neuromuskular yang mengikuti perubahan beban oklusi serta keberadaan occlusal interferences seperti parafungsi, atau bruksisma yang sering mengikuti kehilangan gigi posterior.

  • Penurunan dimensi vertikal dan deviasi mandibula dapat terjadi pada kehilangan beberapa gigi posterior. Hal ini berkaitan dengan keadaan jaringan periodontal geligi sisa yang mengalami gangguan sehingga mengakibatkan penurunan dimensi vertikal. Kehilangan dukungan vertikal juga merupakan rentetan efek lain dari kemiringan molar ke ruang diastema dan pada akhirnya akan diikuti oleh penutupan berlebih segmen anterior dari mandibula. Selain itu pada mandibula juga akan terjadi perubahan dalam bidang sagital dan penutupan linear mandibula karena mandibula cenderung mencari posisi interkuspasi maksimal sedangkan migrasi pada gigi sisa menyebabkan perubahan hubungan interkuspasi.

  • Kehilangan efisiensi mastikasi disebabkan oleh mekanisme sensorik yang mempengaruhi otot-otot motorik pengunyahan mengalami perubahan ketika geligi hilang. Hal ini terjadi karena adanya kehilangan ligamen periodontal yang digantikan oleh reseptor mukosa di area yang telah kehilangan gigi sehingga mastikasi yang terjadi tidak lagi efisien (Owall, 1974).

Pergerakan gigi sisa


Pergerakan gigi sisa biasanya terjadi pada arah mesial karena adanya anterior component of force dan dapat bersamaan dengan tipping atau ekstrusi dari bidang oklusal. Namun, meskipun pergeseran gigi merupakan sequelae yang sering terjadi ketika gigi hilang tidak diganti, hal ini tidak selalu terjadi.

Tipping akan menyebabkan perubahan arah gaya yang tidak diinginkan pada beban oklusal dari gigi antagonis ketika oklusi sentrik. Besarnya tipping bergantung pada interkuspasi gigi di sebelah ruang diastema dan antagonisnya. Jika interkuspasi baik, hanya sedikit pergerakan yang akan terjadi. Diungkapkan, molar pada mandibula akan cenderung miring ke mesial, sedangkan pada maksila cenderung miring ke mesial dan rotasi palatal. Premolar, terutama pada mandibula cenderung tetap lurus dan bergeser bodily ke ruang diastema.

Selain tipping, ekstrusi gigi juga merupakan observasi klinis yang seringkali ditemukan pada kehilangan gigi posterior. Hal ini dapat terjadi pada sekelompok gigi atau seluruh segmen lengkung. Bahwa ekstrusi merupakan akibat kehilangan gigi yang sering terjadi, dibuktikan pada pemeriksaan molar tanpa antagonis oleh Craddock dan Youngson, dimana 83% subjek yang diperiksa mengalami ekstrusi dengan derajat yang bervariasi. Pada akhirnya, ekstrusi akan mengakibatkan perubahan lengkung oklusal dimana salah satu akibat yang tidak diinginkan adalah penurunan efisiensi mastikasi.

Ekstrusi seringkali berhubungan keadaan berikut ini;

  • kehilangan dukungan tulang setempat,
  • terpajannya sementum,
  • karies akar,
  • berkurangnya ruang antar lengkung atas dan bawah.

Gigi antagonis yang ekstrusi akan mengisi lengkung oklusal yang terputus akibat kehilangan gigi, sehingga lengkung oklusal kedua rahang menjadi berubah. Ekstrusi juga seringkali menyebabkan occlusal interferences pada pergerakan lateral dan protrusive. Kontak prematur yang terjadi pada ekstrusi ketika oklusi sentrik dan maksimal mengakibatkan pergerakan menutup mandibula yang akan meluncur ke arah depan atau lateral atau keduanya karena gigitan paksa. Selain itu, ekstrusi juga dapat menyebabkan terjadinya blocking pada artikulasi, hingga akhirnya terjadi mobilitas pada gigi sisa. Hal–hal tersebut seringkali menjadi problem teknis pada pembuatan protesa.

Tidak ada angka pasti yang menyebutkan besar ekstrusi pada gigi posterior yang kehilangan antagonisnya. Menurut love dan adams (1971), migrasi yang paling ringan akan terjadi ketika kehilangan gigi posterior. Semua migrasi ini terutama terjadi selama tahun-tahun pertama setelah ekstraksi. Berkaitan dengan itu, Craddock dan Youngson mengungkapkan derajat rata-rata ekstrusi pada 92% gigi yang tidak memiliki antagonis adalah 1,68 mm. Insidensi derajat ekstrusi tersebut lebih banyak ditemukan pada pasien muda, maksila, premolar, dan wanita.

Ekstrusi gigi berkaitan dengan keadan perlekatan jaringan periodontalnya. Christou dan Kiliaridis dalam penelitiannya mengungkapkan, besarnya perpindahan titik tengah permukaan oklusal yang berhubungan dengan kehilangan perlekatan sebesar 1,97mm. Sedangkan besarnya perpindahan vertikal pada gigi yang memiliki jaringan periodontal sehat sebesar 0.05 mm per tahun.32 Sedangkan pada pemeriksaan lain kasus bounded edentulous space, dalam jangka waktu 6 tahun terjadi ekstrusi gigi antagonis terjadi sebanyak <1 mm pada 99% kasus, dan jumlah kehilangan tulang alveolar di sebelah gigi sebelah <1mm.34 Sedangkan penelitian lain pada 155 pasien yang tidak memiliki gigi antagonis oleh craddock, diungkapkan pada 83% pasien menunjukkan ekstrusi yang bervariasi sebesar 0.5 mm-5.4 mm.

Pada kehilangan gigi molar yang tidak memiliki lawan lebih lama dari 10 tahun tidak mengalami supraerupsi. ¼ sample supraerupsi lebih dari 2 mm dibawah bidang oklusal dan yang lain kurang dari 2mm atau tidak sama sekali. Jadi, derajat supraerupsi pada kehilangan gigi sangat bervariasi besarnya, bergantung dari berbagai faktor umum dan lokal yang mempengaruhinya.

Perubahan lengkung oklusal.


Seperti yang telah disebutkan, supraerupsi gigi geligi tersebut dapat menyebabkan perubahan lengkung oklusal. Contoh kehilangan gigi yang paling sering terjadi adalah hilangnya gigi M1. Kehilangan gigi ini dapat menimbulkan serangkaian efek yang dapat mengakibatkan pergeseran mesiolingual dari M2 dan M3 pada kuadran yang sama, ekstrusi gigi M1 antagonis, peningkatan overbite dan overjet segmen anterior dari lengkung atas dimana I mandibula menekan I maksila ke labial dan lateral atau mengakibatkan trauma pada gingiva sekitarnya , terbukanya kontak interproksimal pada premolar bawah, terutama pada pasien dengan overbite yang dalam. Rentetan efek tersebut disebut juga collapsed of occlusion.

Selain itu, terkadang efek dari kehilangan gigi posterior dapat mengakibatkan reaksi yang letaknya jauh pada beberapa segmen lengkung. Efek ini dikenal dengan Thielemann diagonal law; ”Gangguan yang diakibatkan hipererupsi, pergeseran gigi, dan flap gingiva M3, dapat mengakibatkan perubahan mandibular yang terbatas selama pergerakkan fungsional, dan gigi anterior yang terletak diagonal dari penyebab gangguan akan mengalami kenaikkan gangguan periodontal, elongasi dan mobilitas. Selanjutnya, akan terbentuk pola mastikasi yang terbatas, terutama pada tingkat singulum insisivus atas, mengakibatkan kondisi ekstrusi dan mobilitas gigi lebih lanjut.