© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa dampak dari terlalu memanjakan anak?

Wajar jika orang tua menyayangi dan memanjakan anaknya. Namun jika terlalu berlebihan, bisa jadi malah membentuk perilaku buruk pada anak yang akan sulit dikoreksi.

  1. anak menjadi banyak maunya
  2. anak menjadi keras kepala dan pemarah
  3. anak menjadi egosi
  4. anak menjadi mudah melawan orangtua
  5. anak sulit dewasa
  6. sulit mengatasi kekecewaan

Baumrind (1996: 887-907) menjelaskan bahwa orang tua yang permisif cenderung sangat hangat. Orang tua bersikap sabar namun pasif dalam mengasuh anak mereka, dan percaya bahwa cara untuk menunjukkan cinta mereka adalah menuruti keinginan anak mereka. Orang tua yang permisif menggunakan ungkapan seperti, "tentu, Anda bisa begadang jika Anda mau, " dan “anak tidak perlu melakukan pekerjaan apa pun jika anak tidak merasa menyukainya.”

Orang tua yang permisif tidak suka mengatakan tidak ataupun mengecewakan anak-anak mereka. Akibatnya, anak diperbolehkan membuat keputusan sendiri tanpa masukan orang tua. Orang tua tidak berpartisipasi dalam perkembangan anak. Sebaliknya orang tua memandang diri mereka sebagai sumber daya, seandainya anak memilih untuk meminta nasehat mereka. Temuan penelitian Baumrind menunjukkan bahwa anak dari orang tua permisif belajar bahwa hanya ada sedikit batasan, peraturan, dan konsekuensi yang serius. Akibatnya, anak mungkin mengalami kesulitan dengan pengendalian diri dan menunjukkan kecenderungan egosentris yang dapat mengganggu perkembangan hubungan teman sebaya yang semestinya.

Yatim & Irwanto (1991: 102) menjelaskan mengenai kecenderungan orang tua yang menerapkan pola asuh permisif:

  • Kurang membimbing
  • Kurang kontrol terhadap anak
  • Tidak pernah menghukum ataupun memberi ganjaran pada anak
  • Anak lebih berperan daripada orang tua
  • Memberi kebebasan terhadap anak

Kecenderungan tersebut menurut Yatim & Irwanto (1991: 96-97) menimbulkan sifat yang dihasilkan dari anak permisif biasanya agresif, tidak dapat bekerjasama dengan orang lain, sukar menyesuaikan diri, emosi kurang stabil, serta mempunyai sifat selalu curiga. Akibatnya anak berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri, tidak peduli apakah hal itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak. Keadaan lain pada pola asuh ini adalah anak-anak bebas bertindak dan berbuat.

Hurlock (dalam Sarastuti, 2006: 14) menambahkan mengenai pengasuhan pola asuh permisif yang didasarkan aspek-aspek pola asuh permisif. Aspek-aspek pola asuh tersebut, meliputi:

  • Kontrol terhadap anak kurang, menyangkut tidak adanya pengarahan perilaku anak sesuai dengan norma masyarakat, tidak menaruh perhatian dengan siapa saja anak bergaul.

  • Pengabaian keputusan, mengenai membiarkan anak untuk memutuskan segala sesuatu sendiri, tanpa adanya pertimbangan dengan orang tua.

  • Orang tua bersifat masa bodoh, mengenai ketidak-pedulian orang tua terhadap anak, tidak adanya hukuman saat anak sedang melakukan tindakan yang melanggar norma.

  • Pendidikan bersifat bebas, mengenai kebebasan anak untuk memilih sekolah sesuai dengan keinginan anak, tidak adanya nasihat disaat anak berbuat kesalahan, kurang memperhatikan pendidikan moral.