Apa bedanya jamur kulit pada manusia dan hewan?


Infeksi jamur kulit adalah penyakit pada kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur. Pada tubuh, jamur bisa tumbuh di area yang lembab.
Apa bedanya jamur kulit pada manusia dan hewan ?

Penyakit jamur yang terjadi pada manusia dan hewan disebabkan oleh fungi yang dapat menyebabkan infeksi. Ada banyak penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur pada manusia, tapi yang paling umum menyerang, antara lain:

  • Kutu air (tinea pedis atau athlete’s foot) : Infeksi jamur Trichophyton rubrum yang berkembang biak di jaringan mati di kuku kaki dan lapisan kulit terluar akibat lingkungan yang lembap dan hangat.
  • Panu (tinea versicolor) : infeksi jamur kulit yang berupa bercak putih atau kemerahan atau kecokelatan, disertai sisik halus dan rasa gatal.
  • Jock itch (tinea curis) : infeksi jamur tinea yang biasanya terjadi area kulit yang berlipat-lipat, umumnya terjadi di selangkangan dan ketiak.
  • Ringworm (kurap atau tinea corporis) : infeksi jamur yang sering kali menyebabkan kulit bersisik dan memerah. Infeksi ini dapat terjadi di mana saja di kulit tubuh Anda.

Ciri-ciri infeksi jamur di kulit yang mungkin Anda alami

Meskipun jenis penyakit dan jamur yang menyebabkan infeksi itu berbeda-beda. Namun, gejala yang ditimbulkan tidak berbeda jauh. Berikut ciri-ciri infeksi jamur pada kulit yang perlu Anda waspadai, meliputi:

1. Kulit sangat gatal

Siapa pun pernah merasa gatal, bahkan saat kulit Anda tidak bermasalah. Kulit gatal menandakan adanya reaksi tubuh pada zat asing yang mengenai kulit. Namun, gatal akibat infeksi jamur akan berbeda dengan gatal biasa. Selain terasa lebih parah, gatal akibat infeksi jamur akan lebih sering terasa dan dapat menyebar. Anda mungkin akan merasa sangat terganggu dengan rasa gatal yang muncul.

2. Muncul ruam

Kulit gatal yang muncul bisa membuat Anda gerah karena ingin terus menggaruknya. Dalam beberapa hari, rasa gatal yang terus digaruk akan menimbulkan ruam. Namun, ruam yang timbul akibat infeksi jamur umumnya sangat khas dan dapat Anda bedakan jika diperhatikan dengan baik. Ruam dari kurap akan terlihat seperti berbentuk seperti cincin, bagian dalamnya berwarna putih bersisik dan bagian yang melingkarinya berwarna merah. Sementara tinea curis akan menimbulkan ruam merah berbentuk lingkaran yang tepinya sedikit menonjol1. Kemudian, ruam akibat kutu air menyebabkan kulit merah dan melepuh.

3. Perubahan pada tekstur kulit disertai sensasi panas mengganggu

Seiring waktu ruam kulit akan mengubah tektur kulit. Anda akan merasakan kulit yang terinfeksi terasa lebih lunak, kering, bersisik, menonjol (melenting), atau mengelupas. Selain gatal dan kemerahan, bagian kulit yang terinfeksi juga terasa panas.

Inveksi Jamur Pada Hewan

Beberapa penyakit akibat dari infeksi jamur pada anjing dan kucing diantaranya yaitu: Cryptoccosis , Sporatricosis , Coccidioidomycosis , Histoplasmosis , Blastomycosis , Eumycotic mycetomas , dan Phaeohyphomycosis .

Jamur yang sering menginfeksi kulit dan rambut hewan kesayangan seperti anjing dan kucing yaitu golongan Dermatofita. Jamur Dermatofita yang sering menyerang anjing dan kucing yaitu: Microsporum, Trichophyton, Epidermophyton , Sporotrix, Cryptococcus, dan Malassezia . Penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur Dematofita disebut dengan dermatofitosis. Dermatofitosis merupakan infeksi jamur pada rambut dan stratum korneum yang disebabkan jamur yang bersifat keratinofilik. Kejadian dermatofitosis banyak ditemukan pada anjing dan kucing muda, hewan dengan kekebalan tubuh rendah dan kucing berambut panjang. Menurut Horzinek (2012), kucing ras Persia menjadi salah satu predisposisi penyakit ini. Lebih dari 90% kasus dermatofitosis pada kucing di seluruh dunia disebabkan oleh Microsporum canis , Trichophyton mentagrophytes dan Microsporum gypseum memiliki potensi penyebaran yang rendah dari hewan ke hewan dan tidak dinyatakan sebagai agen zoonotik yang berpotensi tinggi. Semua jenis Microsporum, kecuali M. gypseum menghasilkan enzim proteolitik dan keratolitik yang membuat organisme ini mampu menggunakan keratin sebagai sumber nutrisi, dan mengkeratinisasi bagian dari jaringan epidermal. Jaringan keratin yang digunakan antara lain berasal dari stratum korneum dan rambut, terkadang kuku.

Interaksi kompleks antara faktor virulensi jamur dengan faktor pertahanan inangnya akan menentukan apakah infeksi jamur akan menimbulkan gejala klinis atau tidak. Infeksi bergantung pada ukuran inokulum dan sistem imunitas secara keseluruhan dari inang. Beberapa faktor virulensi (patogenitas) yang dimiliki oleh jamur adalah mampu menempel dengan sel inang melalui glikoprotein pada dinding sel, memproduksi kapsula yang mampu menahan fagositosis, memproduksi sitokin yang disebut Granulocyte Macrophage-Colony Stimulating Factor (GM-CSF), contohnya pada spesies Candida albicans yang menekan produksi komplemen, kemampuan menarik zat besi dari eritrosit ( C. albicans ), kemampuan mencederai inang dengan sekresi enzim keratinase, elastase dan kolagenase, pertahanan terhadap sel fagosit seperti pada jamur dimorfik, sekresi mikotoksin, memiliki kapasitas enzimatik yang unik, ketahanan terhadap perubahan suhu, kemampuan menahan pertahanan sistem sel mediator imun milik inang, dan permukaan yang hidrofobik.

Faktor pertahanan yang dimiliki oleh inang antara lain adalah pelindung fisik yaitu kulit dan membran mukus, asam lemak yang terkandung dalam kulit, pH dari kulit, permukaan mukus dan cairan tubuh, pergantian sel-sel epitel, flora normal, pelindung kimiawi diantaranya sekreta dan serum faktor, sebagian besar jamur adalah mesofil dan tidak dapat tumbuh pada 37°C, sel efektor natural (polimorf nuklear leukosit), dan sel-sel fagosit (monosit dan makrofag). Faktor predisposisi dari infeksi jamur diantaranya adalah terapi antibiotik yang panjang, penyakit yang mendahului (HIV, kanker, diabetes), usia, prosedur operasi, obat-obatan imunosupresif, terapi radiasi, kateterisasi yang tidak lege arts , obesitas, ketergantungan obat, transplantasi dan aktivitas harian

Pemeriksaan secara klinis hewan yang diduga terinfeksi jamur dapat dilakukan dengan beberapa metode. Untuk mendapatkan hasil yang akurat perlu dilakukan sekurang-kurangnya dua metode pemeriksaan. Kecurigaan terhadap dermatofitosis dapat diperiksa dengan metode antara lain superficial skin scrape, trichogram, sitologi ( tape preparation, impression smear, cotton bud swabs ), pemeriksaan dengan Wood’s lamp, dan dermatophyte culture .

Superficial skin scrape dapat dilakukan pada anjing atau kucing yang mengalami pruritus (kegatalan) dan berkerak, dan diperkirakan ada infestasi dari Cheyletiella spp., Otodectes cynotis , Scabies scabiei , Notoedres cati , dan Demodex cati/canis . Trichogram digunakan pada hewan yang mengalami alopesia atau dicurigai terinfeksi dermatofitosis dengan gejala klinis disertai papula, pustula, atau keropeng ( crust ). Teknik ini dilakukan dengan mencabut beberapa helai rambut dan mengevaluasi fase rambut tersebut telogen atau anagen. Kedua fase tersebut dapat mengarah kepada suatu kausa penyebab alopesia. Pemeriksaan sitologi sangat baik digunakan untuk melihat jenis sel yang muncul pada suatu lesio atau mikroorganisme yang hadir sebagai agen penyebab infeksi.

Sumber

https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/dermatologi/infeksi-jamur-pada-kulit/
http://ilmuveteriner.com/infestasi-jamur-atau-mikosis-pada-anjing-dan-kucing/
Boden E. 2005. Black’s Veterinary Dictionary 21st Edition. Hlm:476. London: Publisher.Hoad. J. 2006.
Charmette R, Ferreiro L, Guillot J. 2008. Dermatophytoses in Animals. Mycopathologia. 166, 5-6, 385-405. USA: Elsevier.