Apa bedanya antara liberalisme lama dengan neoliberalisme?

Menurut Priyono (2006: 5) awalan ‘neo’ (yang artinya ‘baru’) dipakai untuk membedakan
diri dari liberalisme abad ke-18 dan ke-19, dengan memasukkan kritik dari gagasan sosialisme. Tapi mari kita lihat prinsip dasar kebijakan dari Konsensus Washington yang di kemukakan Chomsky, yaitu:

liberalisasi perdagangan dan keuangan, biarkan pasar menentukan harga (“dapatkan harga yang tepat”), akhiri inflasi (stabilitas makro-ekonomi), dan privatisasi.

Jika kita bandingkan penjelasan Chomsky tersebut dengan konsep aliran liberalisme klasik dari Adam Smith serta gagasan ‘pertanyaan konkret’ Ordo-Liberal (pada catatan kaki nomor tiga), kita akan menemukan dua tanda evolusi liberal yang membedakan liberalisme lama dengan neoliberalisme.

  • Tanda pertama; mendirikan tata-negara dalam suasana ‘kebebasan ekonomi yang sudah ada’, dimana sebelumnya (era liberalisme klasik) ingin menciptakan ‘kebebasan ekonomi dalam tata-negara yang tidak bebas’.

  • Kedua; munculnya terminologi privatisasi, yang menekankan kepada aspek penjualan suatu aset kepada publik dengan tidak dihalangi oleh batas-batas konvensional suatu negara (dimana sebelumnya Adam Smith menawarkan gagasannya untuk individuindividu berkompetisi dalam batas suatu negara). Michel Foucault menyebut hal itu sebagai absennya seni sosialis dari suatu negara.

Saat sirkulasi kapital pada era pasca-kolonial berkembang pesat, privatisasi (sebagai kekuatan inti dari neoliberalisme) diamini sebagai konsep penting dalam proses ekonomi pasar yang diterapkan besar-besaran di segala sendi perkotaan maupun di pedesaan.

Bagi Khudori (2004: 14-16) ide neoliberalisme adalah pemujaan terhadap pasar (istilah lain: fundamentalisme pasar), yaitu para pemeluk neoliberalisme percaya bahwa tidak hanya produksi, distribusi, dan konsumsi yang tunduk pada hukum pasar, tapi seluruh aspek kehidupan.

Tak ketinggalan Chomsky (2003: 15) dengan keras mendefinisikan bahwa faham neoliberalisme sejatinya adalah mengacu pada kebijakan dimana sekelompok kecil pihak swasta yang saling terkait diizinkan untuk mengontrol sebanyak mungkin kehidupan sosial dalam rangka memaksimalkan keuntungan pibadi mereka.

Dari semua pandangan yang saya kemukakan, konsep neoliberalisme selalu memiliki kecenderungan untuk membuka ruang perdebatan bagi pemikirpemikir modern yang ingin memihak, mengkritik, atau menolak neoliberalisme. Namun pada intinya, ideologi neoliberal ini mengacu kepada situasi dan hasil yang sama, yaitu mengakomodasi pemilik modal (atau orang kaya) menjadi semakin kaya, sedangkan pihak yang tidak memiliki akses terhadap modal (orang miskin, misalnya: buruh) menjadi semakin miskin.

Era neoliberalisme adalah era ketika kekuatan bisnis tumbuh semakin kuat dan agresif, serta menghadapi lebih sedikit oposisi yang terorganisir dari sebelumnya (Chomsky, 2003: 14).

Gagasan tentang neoliberalisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang sama sekali baru. Itu hanyalah versi terbaru dari apa yang disebut Marx sebagai perjuangan segelintir orang kaya yang ingin membatasi hingga ke titik minimal hak politis dan kekuatan sipil dari masyarakat luas. Bahkan Ferguson (2009: 166) mengekspresikannya dalam sebuah bentuk kalimat yang sederhana: “neoliberalisme adalah hal yang buruk untuk para pekerja dan orang miskin, oleh karena itulah kita harus melawannya!”.

Sebenarnya semua definisi dan penjelasan teoritis tentang neoliberalisme hampir tidak ada yang berbeda substansi serta gejala-gejala yang muncul dari diterapkannya ideologi tersebut. Sejauh ini saya merasa paling sepakat dengan penjelasan David Harvey, yang mendefinisikan dengan aspek-aspek yang jelas serta paling komprehensif tentang bagaimana ideologi neoliberal dirumuskan, yaitu:

Neoliberalism is the first instance a theory of political economic practices which proposes that human well-being can best be advanced by the maximization of entrepreneurial freedoms within an institutional framework characterized by private property rights, individual liberty, free markets and free trade (Harvey, 2006: 145)

Neoliberalisme adalahPolitical economic practices that proposes that human well-being can best be advanced by liberating individual entrepreneurial freedoms and skills within an institutional framework characterized by strong private property rights, free markets, and free trade“, menurut David Harvey.

Kebebasan berusaha, itulah ciri utama dari prinsip Neoliberalisme, di mana intervensi negara hanya ada dalam aspek sangat minimum atau malah tidak ada sama sekali.

Amerika Serikat dengan berbagai negara bagian yang ada di bawah naungannya menjadikan basis Neoliberalisme sebagai landasan kebijakan ekonomi. Sistem Neoliberal berakar pada gagasan Adam Smith dalam bukunya Wealth of a Nations, yang kemudian dikenal dengan istilah laissez-faire.

Gagasan yang dilahirkan oleh Adam Smith kemudian dikembangkan lebih jauh oleh para ekonom dari Freiburg dan Chicago. Dua kutub tersebut akhirnya melahirkan gagasan yang berlawanan tentang prinsip manusia dalam aktivitas ekonomi dengan premis Homo oeconomicus dan Homo socialis.
.
Aplikasi nilai-nilai Neoliberalisme pada praktiknya merujuk pada definisi prinsip Homo oeconomicus yang diajukan oleh para ekonom Universitas Chicago.

Hal ini dikritik oleh salah satu pendidik Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, B. Herry Priyono.“Homo oeconomicus adalah, apa saja yang ada padanya – dari uang sampai tanah, dan dari kecantikan sampai ijazah – adalah modal (kapital) yang mesti diubah menjadi laba, sama seperti cara-berpikir dan bertindak sang pengusaha kayu yang mengubah hijau hutan menjadi kayu gelondongan dan laba.
Ringkasnya, "seluruh gugus relasi kehidupan adalah perusahaan” (Priyono, 2006: 7).

Perspektif yang ditawarkan oleh penyuara NeoLiberalisme golongan ekstrem menetapkan manusia ideal adalah manusia yang memperlakukan segala hal di sekelilingnya sebagai modal untuk meraih laba.

Priyono mengkritik gagasan tersebut karena merasa kemanusiaan mustahil dinilai dari perspektif Neoliberal yang akhirnya menilai kesempurnaan manusia dari daya beli. Kritik ini lahir dari realitas afeksi gagasan Neoliberal yang begitu besar pada lingkup individu dalam taraf komunal.

Tak bisa dipungkiri, dengan menjadi Homo oeconomicus, uang menjadi segala-galanya. Keberhasilan dalam kepemilikan kapital akan berimplikasi pada status sosial seseorang di dalam masyarakatnya. Para pendukung implementasi Neoliberalisme mengutarakan, orang yang mampu memakmurkan dirinya sendiri adalah orang yang perlu ditiru dan diklasifikasikan sebagai sebuah kesuksesan.

Namun keserakahan menjadi hal yang tidak diantisipasi dalam prinsip Neoliberal. Semakin minim intervensi incumbent terhadap kegiatan perekonomian, semakin besar peluang para pemilik modal mengendalikan aspek kehidupan yang krusial untuk dijadikan aset perdagangan.Hal inilah yang dikritik Marx dalam gagasannya, ia menyebutkan, bagaimanapun, tujuan pemilik modal adalah pergerakan profit tiada henti.

Kritik Marx sebenarnya linear dengan gagasan Adam Smith yang menyebutkan “The fixed capital, and that part of the circulating capital which consists in money, so far as they affect the revenue of the society, bear a very great resemblance to one another“ (Wealth of Nations).

Pembeda di antara kedua nama besar tersebut adalah, Marx melihat implikasi kebebasan ekonomi berorientasi profit secara negatif, sementara Adam Smith melihat hal tersebut sebagai hal yang positif.