Antara Sahabat dan Cinta

images_1595770522932
Sumber foto: https://images.app.goo.gl/ajieRGNYqmLmLkDp7

Mata ini terbelalak tidak percaya. Hatiku seakan dihujam oleh ribuan jarum, rasanya begitu sakit. Sebuah pernyataan yang dilontarkan oleh Aria, yang tak laim adalah sahabatku sendiri mampu membuat duniaku tiba-tiba gelap. Kaki ini melangkah lunglai, tak ada lagi senyum yang menghiasi wajahku. Apa yang harus aku perbuat? Salahkah aku mencintainya dalam diam? Batin ini terus bertanya-tanya mengapa harus Aria orangnya. Ini semua salahku yang menyimpan sebuah rahasia. Seharusnya aku berkata jujur saja jika aku mencintainya, tapi semuanya sudah terlambat.

Tak kusangka langkah kaki ini membawaku ke taman belakang sekolah. Kuliah sekitar hanya ada beberapa siswa disana. Tempat ini sangat cocok untuk hatiku yang sedang pilu. Cuaca yang cerah mungkin akan melunturkan kesedihan yang membelenggu dalam dada. Kuusah wajahku dengan kasar. “Ah sakit sekali” ucapku pelan sambil menepuk-nepuk dada. Seseorang memanggilku. Rea, dia yang memanggilku. Dia adalah sahabat terbaiku sekaligus teman sebangku-ku, hanya dia yang tahu dan mengerti perasaanku.
Rea duduk tepat disebelahku. Langsung saja kupeluk dia dengan erat, kutumpahkan semua air mataku dibahunya. “Ree, aku harus gimana? Hatiku sakit banget…hiks” Rea melepaskan pelukan. Kulihat raut wajah khawatirnya "“Kenapa Nay, cerita aja.” pintanya sambil mengusap air mataku. “Aria, Ree. Dia dia bilang sama aku, kalau dia itu suka sama Raka. Padahal aku yang mengenalkan Raka pada Aria…hiks. Aku bingung harus gimana Ree…” Rea mengambil tanganku dan meletakkannya tepat di dadaku, dia tersenyum dengan tulus dan berkata “Aku percaya kamu bisa nyelesaiin ini semua Nay. Percayalah seberat apapun masalahmu pasti akan ada jalan. Ikuti kata hatimu Nay, kata tidak pernah bohong.” Aku diam sejenak saat mendengar apa yang diucapkan Rea. Sahabatku benar aku harus mengikuti kata hatiku, tetapi jika aku melakukannya maka persahabatanku dengan Aria yang menjadi taruhannya. Aku tidak ingin mementingkan diriku sendiri, aku harus merelakannya demi sahabatku. Keputusanku sudah bulat, aku akan melakukannya. Kutatap Rea sejenak kemudian aku tersenyum kepadanya, kukatakan aku akan merelakannya untuk sahabatku.

Setelah mendengar itu, Rea mengajakku pergi ke kantin untuk makan. Aku sampai lupa kalau sekarang adalah jam istirahat karena memikirkan masalah tadi. Kantin ternyata sudah dipenuhi banyak siswa. Aku mengedarkan pandanganku untuk melihat bangku yang kosong. Pandanganku jatuh pada dua insan yang sesang duduk berdua dengan mangkok baksonya masing-masing. Dua insan itu adalah Raka dan Aria. Disaat yang sama Aria juga melihat kedatanganku dengan Rea. “Hei Nay, disini masih ada tempat yang kosong.” Panggilnya dengan senyum sumringah khasnya. Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil. Rea menatapku dengan khawatir seakan bertanya “Kamu tidak apa-apa Nay?” Aku tersenyum pada Rea “Aku tidak apa-apa kok Ree, yuk kesana”

Aku memilih duduk disebelah Aria dan Rea disebelah Raka. Raka tersenyum ke arahku " Hai Ree, Nay. Mau makan apa? Aku pesanin deh." Aku hanya diam tidak berniat untuk menjawabnya. “Bakso Rak” Jawab Rea “Aku pesanin ya, disana ramai, biar aku aja.” Tawar Raka. Seperti biasa Raka bersikap sangat baik. “Oke makasi Rak. Dua mangkok ya sama Anaya.” Raka pun beranjak pergi untuk memesan makanan. Aku merasa seperti diperhatikan oleh dan benar saja saat kutolehkan kepalaku kesamping Aria menatapku penuh selidiki. “Kok aku ngerasa kamu beda ya Nay.” Tanya Aria dengan memicingkan mata curiga. “Hm beda gimana?” Tanyaku balik. “Ya, setelah aku bilang kalau aku suka sama Raka, rasanya kamu jadi pendiem gitu.” “Gak kok, itu cuma perasaan kamu aja.” Jawabku sambil tersenyum canggung. Kuluhat Aria hanya mengangguk pelan kemudian melanjutkan aktivitas makannya yang tertunda. Diam sejenak. Tidak ada satupun diantara kami yanh memulai pembicaraan. Hingga kuputuskan untuk menanyakan sesuatu yang sangat mengusik pikiranku pada Aria. “Ar, aku boleh nanya sesuatu gak?” Aria hanya mwnjawab dengan anggukan kecil. “Mmm sejak kapan kamu suka Raka Ar? Dan kenapa kamu bisa suka sama Raka” Aria pun menaruh sendok dan garpunya kemudian mulai menceritakan alasannya menyukai Raka. Setelah mendengarkan penjelasannya yang panjang dan lebar, aku menyimpulkan kalau Aria terlalu bawa perasaan pada Raka. Aria salah mengartikan perhatian-perhatian kecil yanv diberikan oleh Raka padanya. Aku rasa perhatian yang diberikan Raka pada Aria sama dengan perhatian Raka kepadaku. Ingin rasanya memberi tahu Aria untuk tidak salah mengartikan perhatian Raka padanya, tetapi aku tidak ingin membuat Aria bersedih. Raka kemudian datang membawa dua mangkok bakso. Aku tersenyum pada Raka setelah menerima mangkok bakso. Aku menatap bakso itu lamat-lamat. Ada sayur kol di dalamnya.Seakan tahu apa yang sedang kupikirkan. Raja mengambil sayur itu dengan sendoknya kemudian memakannya. “Maaf Nay, aku lupa kalau kamu gak suka kol.” Ucap Raka. Aku tersenyum senang, jujur kuakui perasaanku membaik saat mendapatkan perhatian kecil dari Raka. Aku menghentikan aktivitas makanku saat melihat Rea tersedak bakso. Namun yang lebih membuatku terkejut adalah raut muka Raka yang begitu khawatir pada Rea. “Ree kamu tidak apa-apa kan?” Ngapain sih buru-buru makan? Ucap Raka dengan nada khawatir sambil mengusap-usap pelan punggung Rea.
Bel tanda istirahat berakhir berbunyi, kami berempat memutuskan langsung pergi ke kelas. Aku heran pada diriku sendiri, sedari tadi guru menjelaskan di depan namun tidak satupun yang masuk ke otakku. Aku terus berusaha untuk focus, namun tetap saja gagal. Hingga bel tanda pulang berbunyi dengan nyaring. Akupun membereskan seluruh buku dan bersiap pulang ke rumah.

Malam hari datang dengan begitu cepat, langit berhiaskan dengan bulan dan taburan bintang yang meramaikan suasana malam hari. Langit malam nampak begitu bahagia. Tetapi tidak denganku. Aku disini sendiri dengan rasa sakit yang sama. Aku terus mencoba untuk tak memikirkannya lagi, seharusnya perasaan ini tak kuizinkan tumbuh. Kukira perasaan ini akan memudar seiring berjalannya waktu, namun ternyata aku salah, perasaan ini semakin mengakar jauh ke dalam lubuk hatiku. Perasaan dalam diam ini sangat menyiksaku. Aku mulai ragu dengan keputusan yang sudah kuambil. Mampukah aku menyimpan semua rahasia ini dalam hatiku? Aku berguling-guling di atas kasur dengan gundah, kudengar ponselku berbunyi. Kulihat siapa yang mengirimiku pesan, mataku seketika membulat tidak percaya, ternyata Raka. Senyuman merekah di bibir mungilku. Tanpa pikir panjang aku langsung membalasnya. Raka banyak bertanya padaku, namun ada satu pertanyaan yang membuat jantungku berdebar cepat. Raka bertanya " Nay, apa yang biasanya cewek suka? Buka atau apa? Atau kamu suka apa Nay?" Astaga, jantung ini terasa seperti sedang lari maraton. Aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Batinku terus bertanya mengapa Raka menanyakan tentang apa yang kusuka? Apa Raka akan memberiku sebuah hadiah atau hal lainnya? Aku berharap semua itu akan terjadi dan bukan sekadar ilusi saja. Oh pagi cepatlah datang, aku sudah tidak sabar menunggu hari esok.

Akhirnya pagi yang kutunggu pun tiba. Mentari pagi bersinar terang, suara burung berkicau begitu riang, menyambut pagi yang lengang. Angin perlahan berhembus, menggoyang-goyangkan daun. Jalanan sekolah nampak sepi. Mungkin karena aku terlalu bersemangat untuk pergi ke sekolah hingga aku datang terlalu pagi. Benar saja kelas masih kosong, namun beberapa saat kemudian Rea datang dengan sekotak susu stroberi kesukaannya. “Eh, Nay tumben datang pagi. Biasanya juga mepet bel datangnya hahaha” Ejeknya. Aku menceritakan apa yang kualami kemarin malam tentang Raka dan sebuah keraguan akan keputusan yang telah aku ambil. “Ya, kalau begitu kamu harus perjuangkan Raka Nay. Jangan menyakiti diri sendiri itu malah akan membuatmu tersiksa. Lagipula Raka itu baik, pinter, bertanggungjawab, dan tampan juga. Raka pantas buat diperjuangkan dia pria idaman Nay” tutur Rea. Tanpa Ananya dan Rea sadari seseorang mendengarkan percakapan mereka. Anaya dan Rea terkejut saat mendengar suara buku yang terjatuh dari arah pintu. Mereka pun menoleh ke arah sumber suara. Tepat di depan pintu kelas, Aria berdiri. Matanya nampak berkaca-kaca, dia menggigit bibirnya dengan keras seolah menahan isakan tangis. Aku yakin Aria pasti sudah mendengar semuanya. " Maaf Ar…aku minta maaf Ar…" Seraya mengambil tangan Aria. “Sekali lagi aku minta maaf Ar, aku tidak mau menyakiti perasaanmu. Jujur aku suka sama Raka jauh sebelum kamu suka sama dia Ar” Tuturku dengan jujur. Aria menghempaskan tanganku dengan kasar. “Apa ini yang namanya Sahabat Nay? Kamu menyimpan rahasia dalam persahabatan kita dan sekarang kamu ingin menusukku dari belakang iya Nay? Ini yang namanya sahabat. Sahabat itu berbagi suka duka Nay.” Ucapnya dengan emosi sambil terisak. Aria berlari menjauhiku. Dia pergi. Aku tertunduk kemudian bersimbuh di lantai, air mata tak sanggup lagi kutahan. Aku melihat buku yang tergeletak di lantai. Aku menangis sejadi-jadinya saat melihat buku itu ternyata adalah sebuah album foto kebersamaanku bersama Aria dan Rea. Ini adalah hari dimana aku bertemu dengan mereka dan aku menghancurkannya. Aku tak sanggup lagi aku memukul-mukup dada yang terasa sangat sakit. Rea menghampiriku kemudian memelukku “Nay sudah berhenti, Anayaa berhenti kumohon” pinta Rea.
Sampai bel istirahat berbunyi, Aria tak kunjung masuk ke kelas. Aku menjadi khawatir padanya. Aku memutuskan pergi sendiri ke kantin untuk membeli martabak kesukaannya. “Pasti Aria ada di UKS.” Aku membatin. Aku berjalan menuju ruang UKS, saat berjalan di koridor sekolah aku melihat ke arah lapangan basket yang nampak dipenuhi oleh beberapa siswa. Aku penasaran dengan apa yang terjadi. Kulangkahkan kakiku mendekat ke arah lapangan namun belum sampai langkahku terhenti. Martabak yang kubawa jatuh dari tanganku hingga berserakan di tanah. Kakiku terasa kaku, aku berdiri dalam kebisuan tanpa mampu berkata apapun. Aku melihat Raka dan sahabatku, Rea tepat di tengah lapangan. Raka memberikan Rea bunga dan balon. Aku tak menyangka ini terjadi padaku.Hatiku hancur berkeping-keping untuk kedua kalinya. Raka ternyata menyukai Rea dari dulu, Raka berusaha mendekati Rea dengan berteman denganku dan Aria . Terkadang apa yang kita inginkan tidak sepenuhnya dapat terwujud. Ini tentang takdir yang tak dapat diubah. Rea menyadari keberadaanku, dia hendak menghampiriku namun kucegah dengan gelengan kecil. Raka menggenggam tangan Rea " Rea, will you be mine?" Aku menutup bibirku mencoba untuk menahan isak tangisan. Aku mencoba tersenyum ke arah Rea kemudiam menganggukkan kepala tanda arti aku menyuruh Rea untuk menerima cinta Raka. Dari kejauhan aku mengucapkan kata selamat dengan iklas kepada Rea dengan pelan, aku mengerti Rea pasti mengerti apa yang kuucapkan. Meski pada kenyataannya jauh di dasar hati aku mengerang kesakitan. Batinku runtuh bak puing-puinh yang terkena air topan. Aku nyaris tidak dapat mengenal lagi tempatku berpijak . Aku memutuskan untuk menjauhi lapangan, kuseka air mata yang mulai merembes. Saat membalikkan badan kulihat Aria berdiri tepat di belakangku. Aku yakin Aria menyaksikan apa yang telah terjadi. Aku berlari ke arahnya kemudian memeluknya dengan erat.

Dengan ketulusan hati yang terdalam aku akan mengikla skan Raka bersama sahabat baikku. Aku ingin orang yang kucintai bahagia malah bukan aku yang membuatnya bahagia. Berat rasanya namun aku akan mencobanya. Walau rasa ini tidak terbalas, aku tak ingin memaksanya ataupun menuntut lebih. Mungkin ini yang terbaik untuk Raka, Rea, Aria, dan untukku. Aku percaya takdir tidak akan pernah salah.