Aku Melihat Wajah Tuhan

#Challenge3 (Perjuangan)

Cerpen challenge 3
Sumber Foto : Google

Aku Melihat Wajah Tuhan
Oleh : Rika S. Majreha

Klise, acap kali ketika kita memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Kadang kita sering mempertanyakan mengapa dan kenapa sesuatu itu bisa terjadi. Mengapa di dunia ini harus ada perjumpaan dan perpisahan, bahagia dan kecewa, baik dan buruk, kaya dan miskin, dan sederetan hal yang sering aku pertanyakan, namun aku tak kunjung menemukan jawabannya.

Namaku Azam, berumur 13 tahun. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Keseharianku sehabis pulang sekolah selalu membantu ibu berdagang sayuran di pasar yang tak jauh dari rumah kami. Terkadang jika ibu tidak kerepotan, ibu lebih baik memilihku untuk menjaga adikku yang paling bungsu di rumah. Dan bapakku dahulu bisa dikatakn seorang pekerja serabutan. Apabila di kampung sedang panen tebu, bapak ikut membantu. Apabila sedang panen bawang, bapak pun ikut membantu. Tergantung apa saja yang bisa dikerjakan selagi masih sehat dan bisa menghasilkan uang untuk menafkahi keluarga.

Bapakku memang seseorang yang gigih, tak pernah mengeluh, yang rela mengalah walaupun semisal sehari bapak bekerja sampai larut malam dan pulang hanya bisa memberi makan kami saja. Bapak, walaupun capek dan lapar, ia hanya cukup minum air putih saja yang banyak terkadang sambil mengelus perut yang keroncongan. Suatu ketika aku pernah menawarkan, “Pak, Azam sudah makan kok tadi siang, ini nasi dan kerupuk nya buat bapak saja, bapak kan sudah capek bekerja masa tidak makan.” “Tidak apa nak, bapak sudah kenyang kok, tadi kan bapak membantu di kebun bawang milik Pak Rahmat, nah kebetulan tadi para pekerja sebelum pulang diberi nasi bungkus. Sudah, makan saja, lagi pula bapak capek dan ingin langsung tidur. Sana kamu temani ibu dan adik-adikmu makan!” Aku tahu bapak berbohong, sejak kapan yang punya kebun dalam keadaan paceklik seperti ini murah hati sekali mau berbagi makanan. Memikirkan anak istrinya saja sudah morat-marit.

Revolusi industri 4.0 bahkan ada yang sudah berani menyuarakan revolusi industri 5.0 dapat dirasakan dampaknya dari setiap sektor kehidupan. Revolusi industri 4.0 atau bisa disebut sebagai era disrupsi ini semua pekerjaan yang dilakukan oleh manusia sudah tergeser oleh mesin dan bahkan digital. Dahulu saja semisal petani untuk menghasilkan beras harus melalui beberapa tahap dan membutuhkan beberapa orang untuk memanen padi, memisahkan padi dari daunnya, kemudian menjemur padi sampai kering, sampai menumbuk padi kering itu agar menjadi beras. Kini semua pekerjaan itu sudah tergeser hanya dengan sebuah alat yang bernama autonomous tractor . Traktor ini berfungsi untuk mengolah tanah menggunakan sistem navigasi Real Time Kinematika (RTK) yang dapat melakukan pengolahan lahan sesuai perencanaan dengan akurasi 5-25 cm. Belum juga yang sudah berhasil mengembangkan bibit padi unggul varietas M400 dan M70D yang mampu menghasilkan panen lebih dari 9 ton per hektar.

Kemajuan zaman pasti ada keuntungan juga pasti ada kerugian, tergantung cara kita memandang dan menyikapinya. Karena bapak memang seseorang yang dari dahulu sampai sekarang sering sekali mengikuti kemajuan zaman hanya dengan cara membaca koran pinjaman di warung kopi BONGKAR milik Pak Junarsih. Memang sih, penamaan warung kopi Pak Junarsih ini terinspirasi saat penyanyi Iwan Fals membintangi iklan sebuah produk kopi. Kemudian karena bapak sering membaca koran, bapak terinspirasi beralih profesi menjadi seorang penjaja ojek online. Bapak bisa membeli sepeda motor dari hasil tabungan keringat beserta jerih payahnya selama menjadi buruh serabutan. Di dalam hati, aku bergeming, bapak luar biasa sekali hanya bekerja sebagai buruh serabutan tetapi bisa memberi makan keluarga, bisa menyekolahkan aku yang sekarang duduk di kelas 2 SMP dan Hammam yang kini duduk di kelas 4 SD, bisa bersedekah pula tiap hari Jum’at. Bapak tak pernah ketinggalan selalu mengisi kencleng yang dikelilingkan saat Jum’atan. Luar biasa sekali bapak ini. Apakah ini yang dinamakan dengan Rizki berkah itu.

Sudah dua tahun bapak bekerja menjadi supir ojek online ini, atau sapaan dekat masyarakat sih mamang ojol. Setiap pagi bapak selalu mengantarkan aku ke sekolah dan si anak pengais bungsu tak lupa di apit di tengah olehku dan bapak. Sudah anak tengah, duduknya senang di tengah pula. Padahal tingginya dan tinggiku lebih tinggi dia. Dia memang hobi olahraga, karena dia punya cita-cita ingin menjadi tentara. Memang menjadi tentara adalah tugas yang mulia untuk menjaga negeri ini dari para orang asing yang sering merebut reklamasi batas laut, atau hanya judulnya sih sekedar jalan-jalan pelesir ke Indonesia, tanpa membawa pasport tetapi bisa membeli sebuah pulau yang tak terjamah oleh manusia, atau mungkin menangkap para koruptor yang hanya sekedar pelesir ke warung makan Padang dari tahanan bintang 7 nya itu.

Hari ini Senin, 30 Maret 2020 langit sangat cerah dan sangat mendukung untuk semangat baru dan perubahan baru. Tapi tiba-tiba guru-guru di koridor membicarakan hal yang menghebohkan. “Esok, tolong ya pak segera membuat rencana pembelajaran kedepan untuk anak-anak di rumah. Mohon mempertimbangkan jadwal guru-guru juga dan jika bisa jangan yang memberatkan anak-anak.” Sahut Pak Sugandi yang merupakan kepala sekolah kepada Pak Khumaidi wakasek kurikulum sambil melewati aku yang sedang berjalan menuju kelas di koridor.

Hari ini pelajaran pertama adalah pelajaran Fisika, gurunya bernama Bu Ariyani, kami akrab memanggilnya dengan Bu Ani. “Anaku sekalian, nampaknya lusa kita sudah belajar di rumah ya!” “Yeeeeee… Asyikkkkkk!” Sahut murid-murid yang lain, tampak bahagia kegirangan karena jarang sekali mendapat liburan. Tapi ada yang aneh menurutku, aku pun langsung memberanikan diri mengangkat tangan, “Bu, jika boleh tahu kami diliburkan ada apa ya? Lusa tidak ada tanggal merah, bahkan sekolah jika akan mewacanakan libur biasanya ada pemberitahuan seminggu lagi, tapi kok ini mendadak ya, bu? Ada apa?” Tiba-tiba rona wajah Bu Ani yang teduh itu berubah. “Sepertinya kini mendung akan menyelimuti negeri kita, kita akan merasakan di mana saudara-saudara kita seperti di Palestina, Suriah, Uyghur, terampas kebebasannya.” Aku mendelik teman-teman sekelasku yang hanya terdiam, “Maksudnya bu? Saya belum paham.” “Anaku sekalian, kalian pernah mendengar berita tentang wabah virus Corona atau Covid-19 yang sedang tersebar luas di Cina?” “Pernah, pernah bu!” Sahut salah seorang murid yang duduk di depan pojok sebelah kanan. “Sekarang negeri kita, tempat kita bersama tinggal sedang terancam oleh virus mematikan itu.” “Bu, bukannya itu kan jauh bu di Wuhan, Cina, kenapa sekarang bisa sampai ke Indonesia?” Sahut Ihsan seorang murid yang sangat update dengan berita-berita terkini.

Kemudian Bu Ani pun bangun dari tempat duduknya, menghampiri meja anak-anak yang paling depan “Awal mulanya, ada orang Indonesia bertemu salah seorang temannya yang mana merupakan warga negara asing di Depok dalam sebuah acara. Tanpa ia sadari temannya tersebut ternyata sudah terinfeksi virus tersebut, maka akibat kontak langsung dengan penderita virus tersebut warga negara Indonesia ini langsung terindikasi sebagai OTG (Orang Tanpa Gejala) tetapi sebelum 14 hari status ia berubah menjadi ODP (Orang Dalam Pemantauan), karena menimbulkan gejala yang sama seperti temannya yang sudah terinfeksi virus Covid-19 ini. Lama kelamaan banyak sekali warga asing yang masih lalu-lalang, keluar-masuk Indonesia. Saat negara lain sedang ramai-ramainya menyuarakan lockdown , negara Indonesia sendiri belum lockdown . Bahkan para TKI banyak yang dipulangkan, tanpa disadar mereka sudah menjadi ODP. Tetapi, mereka tidak mengisolasi diri selama 14 hari, mereka langsung pulang ke kampung halaman bertemu dengan keluarga mereka. Banyak juga warga Indonesia yang telah berlibur dari negara lain, kemudian pulang ke Indonesia sudah menjadi ODP. Tetapi, mereka enggan mengisolasi diri selama 14 hari. Maka dari situ pemerintah barulah turun tangan dan menghimbau agar kita masyarakat Indonesia melakukan lockdown . Maka imbasnya sekolah-sekolah di ganti menjadi di rumah.” penjelasan dari Bu Ani.

“Bu, kalau boleh tahu kami belajar di rumah sampai kapan ya bu? Kasian juga kakak kelas kami yang mau US dan UN bu! Dan kami pun bakal tertinggal jauh materi yang di sekolah!” Sahut Nadira siswi terajin di kelas kami. “Ibu pun belum tahu nak, tetapi yang pasti kita sama-sama berdo’a saja yaa kepada Allah Swt agar tetap diberikan kesehatan dan selalu ada dalam lindungan-Nya, juga agar wabah ini cepat selesai.” “Aamiiinnnnn…!!!” Sahut semua siswa.

Sore itu aku melangkah, menyusuri jalan setapak, sambil melangkah tanganku meraba semua besi, tembok, atau apapun di pinggir jalan. Perkataan Bu Ani, masih terngiang di telingaku, apa jadinya jika kami belajar di rumah, tidak melihat teman, tidak ada canda tawa teman, tidak ada guru, papan tulis, kena marah, di suruh berdiri didepan kelas, pasti bakal sedih sekali. Kami pasti bakal rindu sekali. Bumi, ada apa dengan dirimu? Apakah engkau baik-baik saja? Jika engkau marah… Maafkan kami semua.

Jam di dinding bilik rumah menunjukkan pukul 17.30, bersamaan dengan itu kulihat bapak memarkirkan motor di halaman rumah berukuran 2 X 1 meter sangat sederhana untuk ukuran halaman rumah layak huni. “Assalamu’alaikum…!” “Wa’alaikumcallam…!” Sahut si bungsu sambil berlari dan berusaha meraih tangan bapak. Kerut di dahi bapak semakin terlihat layu, wajah bapak muram bagai senja hari ini. Bapak perlahan melepaskan jaket hijau beserta helm hijau kebanggaannya. “Pak, ada apa? Kok wajah bapak kusut, kenapa?” Sahut ibu sambil membawa secangkir teh hangat. Bapak menarik napas panjang. “Bu, bagaimana ya… Akhir-akhir ini ojek bapak sepi. Dari pagi sampai tadi sore bapak hanya dapat orderan penumpang 2 orang.” “Oh, ya sudah pak, tak apa mungkin itu rezeki kita, kita syukuri saja.” Mendengar percakapan ibu dan bapak, aku pun tertarik menghampiri. Aku duduk di sebelah bapak yang sedang menyeruput teh hangat buatan ibu. “Bu, Azam juga mulai besok sekolah di rumah kata Bu Ani.” “Maksudnya, Zam?” “Iya, katanya untuk sementara sekolah dialihkan ke rumah, seluruh siswa belajar di rumah.” “Ai, ai, iaiaia… Hammam juga sama bu!” Sahutnya sambil berlari dengan kepala masih basah habis mandi. “Hah? Loh kok, gak seperti biasanya. Ada apa katanya Zam?” “Katanya sih bu, kondisi negeri kita ini sedang genting karena satu virus yang bermula dari Wuhan, Cina. Katanya virus tersebut mematikan bu!” “Iya, bapak juga baca dari koran di warung kopi BONGKAR, katanya negeri kita sedang genting dan kita diminta untuk download !” “ Download pak? Hmmmm” sahut Hammam sambil memegang dagu dan garuk-garuk kepala yang tidak gatal. “ Lauk daun , pak sahut Bu Ani sih… Pokoknya sih, intinya kita harus berdiam diri di rumah dan agak membatasi sosialisasi dengan masyarakat sekitar. Termasuk dengan anggota keluarga kita pun gak boleh saling berdekatan harus berjarak minimal 1 Meter!”

“Bapak tak bisa membayangkan bu, kita kedepannya akan seperti apa. Kita akan makan apa kalau semisal bapak tidak bekerja. Pekerjaan ojol ini kan sangat menopang bahkan mata pencaharian utama keluarga kita, mana bulan puasa dua minggu lagi bu!” Sambil mengusap peluhnya sisa tadi. “Sudah pak, tak usah dipikirkan, tak usah dirisaukan, Insha Allah kita pasti ada rezekinya, anak-anak kita dan kita sudah diatur rezekinya oleh Allah, kita harus yakin, pak!”

Seminggu dari masa social distancing, Taqi si adik bungsu yang selalu ceria dan selalu tersenyum walaupun ibu sedang capek, marah, ataupun sedih, ia demam. Demam itu telah merenggut wajah polosnya dan keceriaannya. Ibu khawatir, ibu cepat berlari melihat dompet di laci lemari siapa tahu ada uang tersisa untuk membawa Taqi ke dokter. Ketika ibu membuka dompet, terjatuh saja uang logam berwarna putih lambang bunga melati, menggelinding dan terjatuh tepat di ujung ibu jari kaki bapak. “Ada apa bu? Pagi-pagi kok sudah memasang wajah seperti khawatir tak karuan begitu?” Sambil mata berkaca, “Pak, anak kita Taqi demam. Sedangkan ibu sama sekali tak punya uang sepeser pun!” Sontak bapak pun memutar kepala tujuh keliling. “Bagaimana jika pinjam dulu ke Bu Marni?” ”Jangan pak, ibu malu… Ibu sudah banyak berhutang beras dan kebutuhan pokok ke warungnya masa sekarang meminjam uang ke Bu Marni. Tak enak pak!” “Baiklah, bu… Sekarang bapak mau berangkat ngojek dahulu, do’akan ya… Semoga bapak dapat orderan sehingga bisa membawa Taqi ke dokter, untuk sementara biar demam nya reda oleh ibu dengan cara tradisional dahulu ya… Tunggu bapak pulang, semoga membuahkan hasil!”

“Yaa Allah… Bagaimana ini, anak bungsuku sedang sakit, sedangkan kondisi sedang seperti ini.” Sambil mengendarai motor. Waktu menunjukkan pukul 10.00 siang, tiba-tiba HP bergetar, tanda ada orderan masuk. Notifikasi orderan dari seorang laki-laki, orderan itu berisi pemesanan yang di tujukan ke Kedai Ayam Geprek MANTUL LADA. Ayam geprek 5 kotak beserta bubble tea 3 dan chochoc red velvet 2. “Alhamdulillah… Ada orderan!” Aku langsung gesit menghubungi pemesan. “Selamat siang, apakah benar ini dengan abang yang memesan ayam geprek 5 kotak beserta bubble tea 3 dan chochoc red velvet 2?” “Oh, iya! betul pak!” “Ditunggu ya bang!” “Iya, siap, siap pak!” Motor pun langsung di starter, dengan gesit menuju Kedai Ayam Geprek MANTUL LADA.

Setelah tiba, antrean lumayan panjang. “Kang, bagaimana orderannya? Penuh… Penuh?” “Alhamdulillah… Begini saja pak! Ya… dari pagi sampai orderan yang ini baru dapat 3 orderan… Biasanya sudah 5!” “Ya, Alhamdulillah atuh ya kang! Wih, antreannya panjang ya kang?” “Iya pak, sekarang kan orang-orang pada gak boleh keluar, jadi pada males keluar, alhasil kedai ini jadi sasarannya” “Nomor antrean 119, atas nama Pak Husna!” Sahut mbak mbak berbaju kuning dan berikat kepala putih “Wah, nama saya sudah di panggil, Pak! Mangga atuh pak, saya duluan!” “Oh, ya ya kang… Mangga!” Barulah 7 menit kemudian nomor antreanku dipanggil. Aku pun bergegas, langsung mengambil 2 bungkusan keresek besar dan langsung tancap gas menuju rumah pemesan.

Ketika dipertengahan jalan akan berbelok dan masuk gang tiba-tiba ada panggilan masuk. “Selamat siang pak! Saya abang yang memesan ayam geprek 5 kotak beserta bubble tea 3 dan chochoc red velvet 2 tadi! Pak, orderannya di cancel ya pak! Tidak jadi! Teman saya ternyata sudah memesan tadi!” “Waduh bang, kok bisa gitu? Ini saya sedikit lagi sampai dan ini sudah membawa pesanan abang!” “Bapak kelamaan sih, saya kesel!” “Iya bang, maaf… Tadi soalnya antrean panjang!” “Sudah! sudah! Pokoknya tidak jadi di cancel saja!” “Tapi bang!” tut tut tuttt… Telepon itu tiba-tiba dimatikan.

“Yaa Allah…!!!” Teriakku di dalam hati. Adzan dzuhur pun berkumandang. Aku langsung menyandarkan motor, sambil mengusap peluh yang menetes bercampur dengan buliran air hangat yang jatuh seketika. “Yaa Allah… Bagaimana ini… Sedangkan anakku Taqi harus segera di bawa ke dokter, sedangkan pesanan ini banyak sekali tetapi dibatalkan!” Perlahan-lahan aku membuka satu kotak, lalu aku makan. “Yaa Allah… Bagaimana dengan sisanya apa yang harus aku lakukan, sedangkan hari sudah mulai siang… Aku baru dapat 1 orderan dan itu pun di cancel !” Gumamku di dalam hati. Tiba-tiba ada seorang pemulung lewat, “Pak! Pak!” “Muhun, aya naon nya pak?”Pak abdi gaduh katuangan, mangga kanggo bapak, candak we pak!” “Yaa Allah, Alhamdulillah… Hatur nuhuuuuunnn, pisan! Abdi tienjing ta acan tuang, peurih ieu patuangan!” “Oh, kaleresan atuh pak, mangga di candak we pak!” “Yaa Allah, haturnuhunnn…! Sing kagentosan deui, sing digampilkeun usahana sareng sagala rupina!” Sambil menaruh jingjingan keresek itu ke depan dahinya.

“Dinda, melihat wajahmu seperti melihat wajah Tuhan… Maafkan aku yang belum bisa membahagiakanmu dan membahagiakan anak-anak kita! Tidak ada seorangpun yang mau hidupnya menderita, melarat, tapi kamu rela dengan ikhlas membersamaiku dan membersamai anak-anak kita! Melihat Azzam yang tumbuh dengan kedewasaan sebelum waktunya. Melihat Hammam yang tampan dan gagah. Serta melihat Taqi tersenyum dengan kepolosan dan tak ada dosa sedikit pun tergambar di raut wajahnya. Aku seperti melihat wajah Tuhan. Semoga Tuhan rela mengampuni dosa-dosaku yang belum bisa menjadi kepala keluarga yang baik dan belum bisa membahagiakan kalian semua! Uhuk! Uhuk! Yaa Allah sepertinya akhir-akhir ini penyakit paru-paruku kambuh. Kuatkanlah Yaa Allah, jangan sampai anak dan istriku mengetahuinya! Uhuk-uhuk!!!”


Ramadhan pun tiba…

Ramadhan yaa syahrul shiyam… Ramadhan yaa kariim… Ada yang berbeda dari Ramadhan tahun ini. Semua hening, awan sendu, pohon-pohon sepanjang jalan layu seperti merasakan hal yang sama. Ada apa dengan bumi ini? Sambil menenteng sayuran segar di keranjang yang akan dijual ke pasar aku duduk di sebuah tembok pinggiran jalan. Hari ini sudah jatuh pekan ke enam masa lockdown . Ramadhan kali ini serasa berat sekali. Ekonomi masyarakat mulai terasa morat-marit. Bagi kaum mapan mereka sudah bisa membeli stok persediaan makanan selama dua minggu sekali. Sedangkan bagi kaum marginal seperti kami harus tetap berjuang mati-matian demi bisa mendapatkan sesuap nasi untuk berbuka puasa. Terkadang sahur hanya cukup segelas air putih saja. Bapak sedang terbaring lemah, karena sudah tiga hari sahur dan berbuka puasa hanya dengan air putih. Bapak terserang gejala demam tinggi dan batuk-batuk. Bapak bilang tak apa-apa karena bapak sudah biasa. Sekarang giliran aku yang berusaha untuk menggantikan posisi bapak.

Kami sebenarnya masyarakat yang tahu dan patuh terhadap aturan. Kami mendengar pemerintah menyuarakan harus lockdown dan tidak boleh keluar rumah. Kami dengar. Tapi apalah daya, kami hanya masyarakat kecil yang mendapatkan uang hanya sehari, kami tak punya gaji. Dan tak ada yang mau menggaji kami, jika kami tidak berusaha sendiri. Apabila tidak mencarinya kami tidak makan. Kadang jika mencaripun pas-pasan hannya cukup untuk membeli beras saja, tetapi itu pun sudah kami syukuri.

Jika ini ramadhan terakhirku. Akan aku titipkan anak dan istriku kepada-Mu Tuhan. Jagalah mereka, sayangilah mereka, kasihilah mereka sebagaimana Engkau mengasihi setiap makhluk yang bernyawa. “Nak! Azzam! Anak bapak paling tegar, anak bapak paling shaleh!” Sambil menggenggam tanganku. “Jika memang ini adalah ramadhan terakhir bapak, bapak titip, jangan pernah tinggalkan sholat dan jika kamu suatu saat ditakdirkan menjadi orang yang berada, tolong jangan biarkan kaum fakir-miskin disekitarmu kelaparan, ya Nak! Tolong jadilah contoh yang terbaik untuk kedua adikmu, suatu saat kamu akan menggantikan posisi bapak, Nak! Uhuk! Uhuk!” Sambil nafas tersendat dan batuk-batuk. “Nak! Ingatlah selalu bahwa kemanapun kau memandang, di situlah wajah Tuhan! Nak, sepertinya bapak sudah tidak kuat lagi!” “Bapak jangan berbicara seperti itu!” Sambil menahan tangis. Tatapan mata bapak kosong dan tiba-tiba bapak melihat ke atas, kemudian bapak menarik nafas terpanjangnya “A… All… Lah… Allah…! Laailaahailallah…!!!” mata bapak pun tertutup. “Bapaaaakkkkkkkkkk!!! Jangan Tinggalkan Azammm!!!”

Pak, sekarang aku paham apa yang dikatakan bapak. Sekarang aku melihat wajah Tuhan pada bapak. Bapak rela banting tulang pagi sampai larut malam mencari nafkah demi kami. Aku bangga pada bapak. Bapak telah menjadi contoh yang baik bagi keluarga bapak. Bapak meninggalkan kami dalam keadaan syahid. Bapak meninggal karena memiliki riwayat penyakit paru-paru akut, tapi kenapa bapak tak pernah sedikitpun cerita pada kami. Yang lebih membuat aku sedih dan sakit, bapak meninggal dengan status orang yang positif terkena virus Corona (Covid-19). Dan aku beserta ibu dan kedua adikku pasca kepergian bapak di karantina oleh aparat setempat. Kami diungsikan terlebih dahulu. Kami dikucilkan oleh lingkungan sekitar.

Bapakku adalah satu dari sekian ratus atau bahkan ribu orang yang meninggal karena virus Corona (Covid-19). Bagiku bapak adalah pahlawan yang sejati yang gugur dalam medan pertempuran untuk mencari nafkah, yang di mana saat ini warga masyarakat menolak jenazahnya untuk dikuburkan dilingkungan sekitar.