Aku dan Kekasihku - Sebuah Cerita Pendek

Sudah dua hari aku berada di sini. Awalnya tempat ini dipenuhi udara segar nan sejuk dari alam Tuhan yang dipenuhi anugerah, tetapi aku baru sadar kalau tempat ini aku tutup rapat semenjak aku kehilangannya. Cahaya matahari pun sudah tak sudi karena sifatku yang arogan meski ia berusaha memasuki melalui celah-celah atap rumahku. Debu hasil pergeseran tubuhku dan atom-atom alam pun sudah menggempur ruangan yang remang dan kumuh. Kumuh karena barang-barang berjatuhan dan berserakan.

Apa yang harus kulakukan? Apakah aku pantas untuk menyudahi semua ini?

Persetan dengan celotehan sahabat dan kolegaku. Gawaiku hanya berdering dan tak kubaca. Apa guna aku membaca pesan-pesan membosankan yang berusaha untuk mendoakanku agar merelakan kehilangannya. Ucapan-ucapan yang tak mampu menciptakan progresivitas dalam stabilitas akal dan hatiku. Kalian tak tahu apa yang telah kurasakan. Aku tahu kalau kalian adalah sahabat dan kolegaku, tapi kau tak tahu bagaimana rasanya.

Istriku telah meninggal. Harusnya istriku tidak pantas untuk lepas dari hidup ini. Masih belum pantas untuk menerima semua ini. Siapa lagi yang kucinta selain dia? Permaisuriku! Cinta pertamaku! Satu-satunya wanita yang pantas menerima cintaku! Tiada yang lain selainnya! Bahkan nyawa adalah taruhan untuk menjaganya, aku pun rela. Tapi, ternyata aku tidak bisa mempertaruhkan itu. Persetan diriku!

Dia adalah istimewa. Wanita paripurna bagiku. Sudah lama semenjak aku menginjak remaja, sifat-sifat anehku bermunculan. Terlalu tabu untuk di buka. Bahkan seperti bukan manusia. Philophobia . Hingga akhirnya aku tersadar bahwa aku mengidap “penyakit” itu. Aku tidak terlalu suka untuk mencintai wanita. Lebih nyaman aku memiliki teman wanita dari pada harus memilikinya sebagai pacar atau kekasih. Kegiatan yang membuang-buang waktu. Tidak bermanfaat! itu yang terpatri dalam otakku. Setidaknya aku menganggap diriku sendiri sebagai manusia merdeka. Tidak ada yang bisa mengikatku, kecuali Tuhan.

Semenjak itu ia muncul. Aneh! Mengapa ia bisa membuat rasa yang begitu tabu dalam hatiku. Rasa yang tidak pernah muncul sejak lama. Sering kali aku bertemu wanita, tapi tidak sepertinya. Apakah aku jatuh cinta? Mengapa philophobia ku tidak bekerja di hadapannya? Mengapa ia tidak seperti wanita lainnya? Apakah aku sudah tenggelam karenanya? Atau memang cinta mengarahkanku untuk memilikinya?

Ternyata aku benar-benar jatuh cinta padanya.

Philophobia tidak punya kuasa untuk menahan rasa ini lagi. Dia, permaisuriku! Dia sudah menjadi bagian dari hidupku. Bahkan kehidupanku penuh diisi tentang dirinya. Cinta membuatku mabuk. Aku sudah hilang sadar karena dirinya. Seakan-akan kehidupan ini hanya milikku dan dirinya.

Dan sekarang? Tuhan telah mengambilnya dariku. Apakah Tuhan cemburu denganku? Cemburu karena cintaku yang telah kucurahkan pada istriku tercinta? Apakah Tuhan bahagia saat aku mulai nyaman dengan philophobia ku? Apakah Tuhan rela mengambilnya dariku dan menyisakan sebuah kenangan. Kenangan indah yang diracuni oleh keputusan yang tidak masuk akal. Tuhan tolong berikan aku jalan keluar!

Apakah Tuhan ingin aku bertemu dengan-Nya secepatnya dengan cara mengambil kekasihku terlebih dahulu? Apakah matiku juga diharapkan oleh-Mu?

Apakah Engkau bahagia bila aku mencintai kekasihku di surga-Mu? Tapi, dengan jalan apa aku harus tiba dengan cepat menjemput kekasihku dan surga-Mu?

Tuhan! Mengapa Engkau tidak memberikan jawaban hingga kini? Aku sudah muak dengan kondisi seperti ini!

Semenjak aku berada di ruangan remang ini, pisau, tali, obat nyamuk sudah memandang tajam seakan-akan menggodaku untuk mendekatinya. Melambaikan simbol-simbol kecintaan mereka kepadaku seketika kekasihku sudah tiada. Kelihatannya mereka sudah tahu kalau kekasihku telah tiada. Dan mereka berharap agar cintaku berpindah ke lambaian mereka. Andai semua itu sukses. Kalau iya?

Apakah jalan ini bisa mengantarkanku ke singgasana tempat tinggal kekasihku? Apakah Tuhan merestuiku dengan jalan seperti itu? Ataukah istriku sudah tidak menghiraukan diriku karena cinta Tuhan yang di curahkan kepadanya sehingga ia lupa akan diriku? Atau Tuhan tidak menghiraukan hidup dan matiku seketika mengambil kekasihku?

Haruskah aku bunuh diri?

Yang Sulit Kutafsiri
RZM