Akio Morita : Pendiri SONY Corporation

Sumber : www.ozy.com

Biografi, Akio Morita


Pekerjaan
Ex - CEO SONY Corporation

Afiliasi
the Japan Business Federation
the Japan-U.S. Economic Relations Group
the Trilateral Commission

Tempat, Tanggal lahir
Nagoya, Jepang, 26 januari 1921

Meninggal
03 Oktober 1999, di Tokyo, Jepang karena penyakit peunomia

Kewarganegaraan
Jepang

Pendidikan
Osaka University

Penghargaan
Albert Medal by the UK’s Royal Society of Arts in 1982.
the Legion of Honor In 1984
the First Class Order of the Sacred Treasure from the Emperor of Japan in 1991

Riwayat Hidup


akio morita lahir di nagoya, jepang pada tanggal 26 januari 19921. Dia lahir dari keluarga pembuat sake dan kecap, pada awalnya dia di ajari oleh ayahnya untuk meneruskan bisnis keluarga namun akio morita lebih tertarik ke dunia elektronik saat remaja dia masuk ke osaka university jurusan fisika dan setelah lulus dia masuk ke angkatan laut jepang, dan disinilah dia bertenu dengan masaru ibuka yang akan mennjadi teman seperjuangan saat mendirikan sony corporation, setelah keluar dari angkatan laut tepatnya tahun 1946 morita dan ibuka menderikan tokyo tsushin kogyo yang menjadi cikal bakal berdirinya sony corporation, kemudian morita menikah dengan yoshiko pada tahun 1951 dan memiliki 2 putra dan 1 putri. karir morita terus meningkat sejalan denngan berkembangnya sony, morita juga di anugrahi banyak penghargaan, hingga pada tahun 1993 morita menderita stroke dan pada tahun 1995 morita resmi mundur dari kepemimpinan sony dan pada tahun 1999 morita meninggal karena penyakit peunomia, di usia 78 tahun

Perjalanan Karir


pada tahun 1946 akio morita dan masaru ibuka membentuk Tokyo Telecommunications Co, yang kemudian berganti nama menjadi Sony. Dengan modal awal 190.000 yen dan 20 karyawan produk awal perusahaan termasuk voltmeter tabung vakum, amplifier dan besar alat perekam. terobosan nyata pertama Sony datang ketika diproduksi radio transistor pertama di tahun 1955. Pada saat itu morita lebih mengurusi bagian pemasaran produk. Awalnya morita melihat bahwa amerika merupakan pasar yang sangat besar untuk produknya karena antusiasme warga amerika sangat besar hingga akhirnya perusahaan bulova memberi tawaran kepasa morita bahwa mereka akan membeli 100.000 buah radio transistor tersebut asalkan pemasarannya di bawah nama bulova.

namun morita menolak karena ingin menjadikan sony sebagai perussahaan internasional, hingga akhirnya sony menemukan agem pemasaran yang setuju untuk memasarkan radionya dengan nama sony. Hingga pada tahun 1960 morita mendirikan perusahaannya di amerika, dan 3 tahun setelahnya morita bersama keluarga pindah ke new york untuk mengawasi operasional perusahaannya. Dan karena kecintaan warga amerika terhadap musik maka sony melakukan inovasi-inovasi hingga terciptalah walkman. Dan karena perkembangan teknologi sony terus menciptakan alat-alat elektronik baru seperti :

  • AM radio transistor
  • radio transistor berukuran saku
  • band radio transistor
  • FM radio transistor
  • televisi all-transistor
  • rumah-menggunakan VCR
  • Kamera video 8 mm
  • Betamax Blunde

Hingga akhirnya pada tahun 1987, Sony membeli CBS Records sebesar $ 2 miliar, kemudian pada tahun 1989, Sony juga membeli Columbia Pictures, dan pada tahun 1995 morita mundur dari ketua sony corporation

Fakta-Fakta


  1. Terlahir dari keluarga pembisnis, yaitu bisnis sake dan kecap dari sejak dulu dan di wariskan dari generasi ke kegenerasi
  2. Sebelum mendirikan sony corporation, akio morita merupakan anggota angkatan laut
  3. Salah satu pendiri sony corporation, selain massaru ibuka
  4. Menjadi orang yang mengembangkan recording magnetic pertama
  5. Pada tahun 1958 Akio morita dan ibuka mengubah nama perusahaan dari tokyo Telecommunications Engineering Corporation menjadi sony corporation
  6. Selain pembisni, akio morita juga menulis beberapa buku, contohnya : Gakureki Muyÿ Ron, otobiografi berjudul “Made in Japan”
  7. Walaupun sudah terkena stroke tetap menjadi pimpinan sony corporation

Quotes


  • We tell our young managers: ‘Don’t be afraid to make a mistake. But make sure you don’t make the same mistake twice’. Akio Morita
  • More people are interested in trying to shuffle paper assets around than building lasting assets by producing real goods. Akio Morita
  • Executives of the company must have the necessary qualities to direct the personnel by showing them the way to do things. Akio Morita
  • A company will get nowhere if all of the thinking is left to management. Akio Morita

[details=Referensi]





http://www.encyclopedia.com/people/social-sciences-and-law/business-leaders/akio-morita
http://akiomorita.net/en/profile/life.html
https://en.wikiquote.org/wiki/Akio_Morita[/details]

Setelah perang dunia ke-2, banyak perusahaan jepang yang menginvasi pasar amerika dengan berbagai macam produk yang murah dan kurang berkualitas, sehingga berbagai macam produk “Made in Japan”dicap sebagai produk murahan. Namun sekarang persepsi itu rasanya sudah hilang berkat kontribusi seorang tokoh kreatif bernama Akio Morita lewat perusahaannya yaitu Sony Corporation.


Pendidikan dan Masa Kecil
Akio Morita lahir di Nagoya, Jepang pada tahun 1921. Sang pendiri Sony Corporation ini lahir di tengah-tengah keluarga pembuat sake dan kecap. Sebagai anak pertama, Akio diharapkan untuk meneruskan bisnis keluarganya ini, namun ia lebih tertarik dengan dunia elektronik. Morita juga berhasil mendapatkan gelar sarjana di Osaka imperial University untuk bidang studi Fisika.

Pada tahun 1946, Perang Dunia II baru saja usai. Di ruang bawah tanah bekas department store, Akio Morita dan Masaru Ibuka mengerjakan tape recorder pertama Jepang. Suaranya masih jelek, namun ia bekerja. Dan dari awalan yang sederhana inilah, Sony terlahir. Selama 68 tahun berikutnya, Sony menjadi merek konsumen nomor satu di dunia. Orang yang bertanggung jawab untuk prestasi luar biasa ini adalah pemasar brilian yang memiliki perpaduan pola pikir antara Barat dan Timur: Akio Morita.
Morita pernah menulis sebuah buku berjudul Gakureki Muyō Ron, yang artinya “jangan pedulikan sejarah sekolah“. Di sini, ia menekankan bahwa catatan semasa sekolah tidak penting untuk kesuksesan.

“Saya menerapkan sebuah aturan bahwa, sekali kami mempekerjakan karyawan, maka catatan sekolahnya adalah masa lalu dan tidak lagi digunakan untuk mengevaluasi hasil kerjanya atau mempertimbangkan promosinya,” kata Morita.
Fokus Sony adalah mempekerjakan orang-orang yang mampu bekerjasama. Morita tidak pernah peduli apakah karyawannya datang dari universitas terbaik, atau jika mereka memiliki nilai terbaik.

Prinsip ini datangnya bukanlah sekedar demi kenyamanan Morita. Bukan berarti ia tidak lulus secara prestisius. Morita justru memperoleh gelar sarjana di bidang fisika dari Osaka Imperial University. Ia bahkan terlahir dari sebuah keluarga kaya. Keluarganya memiliki bisnis penyulingan bir. Dan sebagai anak tertua, ia diharapkan mengambil alih bisnis keluarga. Akan tetapi, minat Morita berada di tempat lain.
“Ketika di SMA, ayah saya membelikan sebuah fonograf. Suaranya fantastis. Saya sangat terkesan. Saya mulai bertanya-tanya bagaimana dan mengapa suara tersebut keluar. Saat itulah saya menemukan minat saya di elektronik,” katanya. Maka, ia meyakinkan ayahnya untuk membiarkan adiknya meneruskan bisnis keluarga, sementara ia melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah.


Jadi, kenapa catatan sekolah tidak penting bagi Morita?
“Setiap orang terlahir dengan kemampuan kreatif, tapi sangat sedikit yang tahu bagaimana menggunakannya,“ katanya. Menurutnya, tugas utama manajemen adalah membantu mengeluarkan kemampuan terbaik karyawan mereka. Dan mempertimbangkan catatan sekolah karyawan justru sama sekali tidak membantu.
Manajemen harus mampu menciptakan perasaan seperti keluarga dalam korporasi. Bahwa karyawan dan manajer berbagi nasib yang sama. Oleh sebab itu, Setiap ada kesempatan, Morita akan menggunakannya untuk mengunjungi setiap pabrik dan menemui setiap karyawannya. Dia ingin memastikan bahwa karyawan mereka merasa diperlakukan layaknya manusia, bukan alat.
“Saya percaya bahwa salah satu alasan kami mampu melalui periode pertumbuhan yang luar biasa adalah karena kami memiliki atmosfir diskusi yang bebas. Sebuah perusahaan tidak akan pergi kemanapun jika pemikiran hanya diserahkan pada manajemen.”


Motivasi tidak datang dari uang
Teori populer yang sering digaungkan Morita adalah ‘motivasi kerja tidak datang karena uang’.
“Saya percaya bahwa orang-orang bekerja untuk kepuasan,” katanya. “Uang bukan satu-satunya cara untuk memberi kompensasi seseorang atas pekerjaannya. Mereka memang butuh uang. Akan tetapi mereka juga ingin kebahagiaan dalam kerja mereka, dan bangga karenanya.”
Maka menurutnya, perusahaan harusnya tidak membuang anggaran mereka untuk memberi bonus dan tunjangan besar bagi eksekutif. Alih-alih, manajemen harus mampu menyediakan gol yang jelas.
“Solusi saya untuk mengeluarkan kreatifitas adalah selalu mengatur target,” katanya. “Manajemen harus memberikan target yang konstan pada teknisi.”


Awal Karir
Pada tahun 1946, Akio bersama Masaru Ibuka membuat perusahaan Tokyo Telecommunications Engineering yang berlokasi di bekas department store yang hancur akibat perang. Karena keadaan ekonomi Jepang yang sangat buruk ketika itu, mereka mencoba memasarkan produknya untuk pasar di barat.

Pada tahun 1955, Akio mencoba untuk mendesain radio yang dapat dimasukan di saku untuk pasar amerika, namun ternyata ukuran radio tersebut masih terlalu besar. Untungnya, ia mengakali masalah tersebut dengan menyuruh salesman-nya menggunakan baju dengan baju bersaku besar, sehingga radio tersebut dapat dimasukkan ke saku ketika melakukan demonstrasi. Akhirnya, radio tersebut berhasil terjual dengan baik dan bahkan menjadi sangat populer di masa itu.


Pembentukan Sony
Morita sangat menyadari jika nama atau brand sebuah perusahaan merupakan elemen yang penting dari kesuksesan perusahaan tersebut. Ia menganggap nama Tokyo Telecommunications Engineering Corp terlalu panjang dan susah untuk diucapkan apalagi diingat sehingga ia memutuskan untuk menggantinya. Beberapa orang menganggap idenya tersebut sangat gila karena pada saat itu perusahaannya sedang ada di masa kejayaan.
Namun Morita tetap bersikukuh dan mengubahnya menjadi Sony pada tahun 1958. Nama Sony sendiri diambil dari bahasa latin “sonus”yang artinya suara. Ia mengubahnya menjadi Sony karena terdengar lebih sederhana dan familiar.
Pada tahun 1960, ia berhasil mendirikan sebuah cabang di amerika yang diberi nama Sony Corporation of America. Dan setahun kemudian, Sony berhasil menjadi perusahaan Jepang pertama yang masuk ke bursa efek di New York Stock Exchange.
Pada tahun 70an, tape player portable menjadi barang yang sangat populer di amerika, namun semuanya berukuran besar dan berat. Morita kemudian mencetuskan ide untuk membuat sebuah tape player yang ditenagai baterai dan juga diberikan headphone sehingga para penggunanya dapat mendengarkan musik sambil melakukan aktivitas yang lain.

Saat itu, banyak perusahaan yang percaya bahwa sebuah tape player tanpa adanya fitur untuk merekam merupakan produk yang tidak akan disukai oleh pasaran. Namun Morita tetap bersikukuh membuat sebuah tape player yang kecil tanpa perlu fitur recoeder tersebut. Ternyata, langkah Morita tersebut sangat tepat karena semenjak itu produknya yang diberi nama Walkman tersebut berhasil menjadi produk elektronik tersukses sepanjang masa dengan jumlah penjualan mencapai 250 juta unit semenjak peluncurannya tahun 1979.
Setelah itu, Sony juga menjadi perusahaan jepang pertama yang mendirikan pabrik perakitan di amerika serikat, kemudian dilanjutkan dengan mendirikan pabrik di berbagai wilayah lainnya seperti amerika utara, eropa, dan asia.


Akhir Hayat
Akio Morita merupakan sosok yang sangat bersahabat sehingga banyak disukai orang. Kemampuannya untuk bersosialisi dengan leingkungannya membuatnya mudah diterima oleh masyarakat. Skill berkomunikasi yang sangat baik juga mengantarkannya untuk dapat dengan mudah menjadi jembatan antara kultur jepang dan ameika yang sangat berbeda. Walaupun ia seorang yang sangat gila akan pekerjaan, namun Morata juga sangat menggemari berbagai macam olahraga sepanjang hidupnya. Bahkan ia juga masih suka melakukan ski air, scuba diving, hingga berselancar di usianya yang sudah mencapai 60 tahun.

Pada tahun 1993, Morita terserang stroke ketika sedang bermain tennis sehingga ia harus berjalan menggunakan kursi roda semenjak itu. Morita kemudian meninggal pada tahun 1999 di usia 78 tahun karena penyakit pneumonia yang ia derita. Pada saat kematiannya, Akio Morita merupakan orang jepang paling terkenal di dunia dan Sony menjadi perusahaan nomor satu di amerika serikat.


Referensi

https://studentpreneur.co/blog/inilah-akio-morita-sang-pendiri-sony/
http://www.plimbi.com/article/110342/akio-morita-sosok-kreatif-sang-pendiri-sony-corpor

Riwayat Hidup

jh5mfk5xdss4ff9u1knd

Akio Morita lahir pada tanggal 26 Januari 1921, di kota Nagoya, dari sebuah keluarga pengusaha bir sake. Keluarga Morita menekuni usaha pembuatan bir selama hampir 400 tahun di kota Tokoname, dekat Nagoya. Di bawah pantauan ayahnya, Kyuzaemon, Akio dipersiapkan untuk menjadi pewaris bisnis keluarga. Sebagai mahasiswa, Akio sering dilibatkan dalam rapat perusahaan dengan ayahnya dan ia membantu bisnis keluarga bahkan pada liburan sekolah.

Sejak usia dini, Akio gemar mengutak-atik peralatan elektronik. Matematika dan fisika adalah mata pelajaran favorit selama SD dan SMP dan sekolah tinggi. Setelah lulus dari Sekolah Tinggi, ia masuk Jurusan Fisika di Osaka Imperial University. Pada saat lulus dari Universitas, Jepang terlibat dalam perang Pasifik dan Akio bergabung dengan Angkatan Laut pada tahun 1944. Morita menikah dengan yoshiko pada tahun 1951 dan memiliki 2 putra dan 1 putri. karir morita terus meningkat sejalan denngan berkembangnya sony, morita juga di anugrahi banyak penghargaan, hingga pada tahun 1993 morita menderita stroke dan pada tahun 1995 morita resmi mundur dari kepemimpinan sony dan pada tahun 1999 morita meninggal karena penyakit peunomia, di usia 78 tahun.

Perjalanan Karir

Ketika ia kembali ke rumah keluarga di Nagoya setelah perang, ketika sebuah artikel tentang laboratorium penelitian didirikan oleh Ibuka muncul dalam kolom surat kabar Asahi disebut, “Blue Pensil”. Morita diundang untuk bergabung dengan fakultas Institut Teknologi Tokyo oleh salah seorang profesor. Morita mengemasi barang-barangnya dan siap untuk berangkat ke Tokyo. Dengan berakhirnya perang, Ibuka mendirikan Institut Penelitian Telekomunikasi Tokyo untuk memulai awal yang baru. Setelah membaca artikel ini, Morita mengunjungi Ibuka di Tokyo dan mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan baru bersama.

Pada tanggal 7 Mei, 1946 Ibuka dan Morita mendirikan Tsushin Tokyo Kogyo KK (Tokyo Telekomunikasi Engineering Corporation) dengan sekitar 20 karyawan dan modal awal 190.000 yen. Pada waktu itu, Ibuka berusia 38 tahun dan Morita 25 tahun.

Selama kemitraan mereka yang panjang, Ibuka mencurahkan energinya untuk penelitian teknologi dan pengembangan produk, sementara Morita berperan dalam memimpin Sony dalam bidang pemasaran, globalisasi, keuangan dan sumber daya manusia. Morita juga mempelopori Sony untuk masuk ke dalam bisnis perangkat lunak, dan dia memberikan kontribusi kepada manajemen perusahaan secara keseluruhan.

Mendorong perusahaan untuk mengembangkan usahanya secara global terlihat dalam keputusan untuk mengubah nama perusahaan menjadi Sony di tahun 1958, sebuah keputusan yang tidak diterima dengan baik di dalam atau di luar perusahaan karena Tsushin Tokyo Kogyo sudah dikenal secara luas. Untuk pandangan semacam itu, Morita menegaskan bahwa sudah saatnya mengubah nama perusahaan agar lebih mudah untuk diucapkan dan diingat, agar perusahaan dapat tumbuh dan meningkatkan persaingan perusahaan secara global. Selain itu, Morita beralasan bahwa suatu saat perusahaan akan membuat produk-produk baru selain elektronik dan nama Tsushin Tokyo Kogyo akan tidak lagi sesuai. Oleh karena itu, ia mengubah namanya menjadi Sony Corporation dan memutuskan untuk menulis ‘Sony’ dalam abjad katakana (alfabet Jepang
yang biasanya digunakan untuk menulis nama asing), sesuatu yang belum pernah terjadi pada waktu itu.

Pada tahun 1960, Sony Corporation of America didirikan di Amerika Serikat. Morita memutuskan untuk pindah ke AS bersama keluarganya dan memimpin untuk membuat pangsa pasar baru bagi perusahaan. Dia percaya bahwa Sony harus mengembangkan distribusi penjualan sendiri secara langsung, bukan mengandalkan dealer lokal.

Banyak produk yang telah diluncurkan sepanjang sejarah Sony dapat dikatakan bahwa itu semua berkat kreativitas dan ide-ide inovatif dari Morita. Ide-idenya melahirkan gaya hidup yang sama sekali baru, dan ini jelas terlihat dari produk-produk seperti Walkman dan perekam kaset video.

Morita juga menunjukkan kemampuannya untuk melepaskan diri dari pemikiran konvensional di sektor keuangan, ketika Sony mengeluarkan American Depositary di Amerika Serikat pada 1961. Ini adalah pertama kalinya bahwa sebuah perusahaan Jepang telah menawarkan saham di New York Stock Exchange, dan ini memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan modal tidak hanya di Jepang. Sony membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan Jepang untuk meningkatkan modal asing, pada saat praktek umum manajemen Jepang adalah untuk meminjam dana dari bank.

664xauto-asal-mula-nama-sony

Mengubah nama Tsushin Tokyo Kogyo ke Sony menunjukkan, Morita sangat ingin diversifikasi operasi Sony di luar bisnis elektronik. Pada tahun 1968, perusahaan perangkat lunak memasuki bisnis musik di Jepang dengan mendirikan CBS / Sony Group Inc bersama-sama dengan CBS, Inc Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 1979, Sony memasuki bisnis keuangan di Jepang dengan mendirikan Sony Prudential Life Insurance Co Ltd, perusahaan patungan 50-50 dengan The Prudential Life Insurance Co of America. Selanjutnya, Sony mengakuisisi CBS Records Inc pada tahun 1988. Tahun berikutnya, Sony mengakuisisi Columbia Pictures Entertainment, Inc, memungkinkan perusahaan untuk menjadi perusahaan entertainment yang komprehensif yang memiliki kualitas perangkat lunak dan perangkat keras yang sangat baik.

Fakta-Fakta

Selain mengelola Sony, Morita aktif dalam membangun jembatan budaya antara Jepang dan di luar negeri sebagai Wakil Ketua Keidanren (apan Federation of Economic Organizations) dan sebagai anggota dari Hubungan Ekonomi Group Jepang-AS, lebih dikenal sebagai " Wise Men’s Group". Dia berperan penting dalam mengurangi friksi perdagangan antara Jepang dan Amerika Serikat, dan melalui publikasi produknya dengan kalimat seperti Made In Jepang, ia menjadi, “salah satu orang Jepang paling terkenal di AS”

Morita adalah orang Jepang pertama yang dianugerahi Medali Albert dari United Kingdom’s Royal Society of Arts pada tahun 1982. Pada tahun 1984, ia menerima penghargaan dari National Order of the Legion of Honor (Ordre National de la Légion d’Honneur), yang tertinggi dan paling bergengsi dari Prancis, dan pada tahun 1991, ia dianugerahi Penghargaan First Class Order of the Sacred Treasure dari Kaisar Jepang. Selain itu, Morita menerima sejumlah penghargaan dari negara-negara seperti Austria, Belgia, Brasil, Jerman, Spanyol, Belanda, dan Amerika Serikat.

Pesan Moral

Morita pernah menulis sebuah buku berjudul Gakureki Muyō Ron, yang artinya “jangan pedulikan sejarah sekolah“. Di sini, ia menekankan bahwa catatan semasa sekolah tidak penting untuk kesuksesan.
“Saya menerapkan sebuah aturan bahwa, sekali kami mempekerjakan karyawan, maka catatan sekolahnya adalah masa lalu dan tidak lagi digunakan untuk mengevaluasi hasil kerjanya atau mempertimbangkan promosinya,” kata Morita.

Fokus Sony adalah mempekerjakan orang-orang yang mampu bekerjasama. Morita tidak pernah peduli apakah karyawannya datang dari universitas terbaik, atau jika mereka memiliki nilai terbaik.
“Ketika di SMA, ayah saya membelikan sebuah fonograf. Suaranya fantastis. Saya sangat terkesan. Saya mulai bertanya-tanya bagaimana dan mengapa suara tersebut keluar. Saat itulah saya menemukan minat saya di elektronik,” katanya. Maka, ia meyakinkan ayahnya untuk membiarkan adiknya meneruskan bisnis keluarga, sementara ia melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah.

Jadi, kenapa catatan sekolah tidak penting bagi Morita?

“Setiap orang terlahir dengan kemampuan kreatif, tapi sangat sedikit yang tahu bagaimana menggunakannya,“ katanya. Menurutnya, tugas utama manajemen adalah membantu mengeluarkan kemampuan terbaik karyawan mereka. Dan mempertimbangkan catatan sekolah karyawan justru sama sekali tidak membantu.

Manajemen harus mampu menciptakan perasaan seperti keluarga dalam korporasi. Bahwa karyawan dan manajer berbagi nasib yang sama. Oleh sebab itu, Setiap ada kesempatan, Morita akan menggunakannya untuk mengunjungi setiap pabrik dan menemui setiap karyawannya. Dia ingin memastikan bahwa karyawan mereka merasa diperlakukan layaknya manusia, bukan alat.

“Saya percaya bahwa salah satu alasan kami mampu melalui periode pertumbuhan yang luar biasa adalah karena kami memiliki atmosfir diskusi yang bebas. Sebuah perusahaan tidak akan pergi kemanapun jika pemikiran hanya diserahkan pada manajemen.”

Motivasi tidak datang dari uang

Teori populer yang sering digaungkan Morita adalah ‘motivasi kerja tidak datang karena uang’.
“Saya percaya bahwa orang-orang bekerja untuk kepuasan,” katanya. “Uang bukan satu-satunya cara untuk memberi kompensasi seseorang atas pekerjaannya. Mereka memang butuh uang. Akan tetapi mereka juga ingin kebahagiaan dalam kerja mereka, dan bangga karenanya.”

Maka menurutnya, perusahaan harusnya tidak membuang anggaran mereka untuk memberi bonus dan tunjangan besar bagi eksekutif. Alih-alih, manajemen harus mampu menyediakan gol yang jelas.
“Solusi saya untuk mengeluarkan kreatifitas adalah selalu mengatur target,” katanya. “Manajemen harus memberikan target yang konstan pada teknisi.”

SUMBER

http://fbm-entrepreneur.blogspot.co.id/2015/05/biografi-akio-morita-pendiri-sony-corp.html

“Salah Satu” Insan Kunci Kebangkitan Jepang Sebagai Co-Founder Dari Sony


Akio Morita Profile

PROFIL

  • Nama : Akio Morita ( 盛田昭夫 )
  • Tempat, Tanggal Lahir : Nagoya, Prefektur Aichi, 26 Januari 1921
  • Tempat, Tanggal Meninggal : Tokyo, 3 Oktober 1999 ( Umur 78 tahun )
  • Penyebab Meninggal : Pneumonia (Stroke)
  • Tempat Tinggal : Prefektur Aichi, Jepang
  • Kewarganegaraan : Jepang
  • Almamater : Universitas Osaka
  • Pekerjaan : Ex-CEO Sony Corporation (Insinyur, Pebisnis, Teknisi)
  • Kekayaan : 50 milliar USD (tahun 80-an)

LATAR BELAKANG

Akio Morita merupakan anak dari ayah-nya Hikotaro Kyuzaemon Morita (1887-1964) pernah sebagai pemimpin perusahaan keluarga Morita dan ibu-nya Shu Morita.

Akio Morita terlahir dari keluarga kaya yaitu keluarga pengusaha bir sake (minuman keras beras Jepang). Keluarga Morita menekuni usaha pembuatan bir selama hampir 400 tahun di kota Tokoname, dekat Nagoya.

Akio Morita merupakan anak sulung dari 4 bersaudara. Beliau memiliki 2 saudara laki-laki yaitu, Masaaki Morita dan Kazuaki Morita serta 1 saudara perempuan yaitu, Kikuko Morita Imawa.


KELUARGA

Akio Morita memiliki keluarga dengan pasangan hidup/ istri-nya Yoshiko Kamei. Dikaruniakan 2 anak laki-laki yaitu, Hideo Morita dan Masao Morita serta 1 anak perempuan yaitu, Naoko Morita.

Anak Laki-Laki - Akio Morita


ASAL MULA SONY CORPORATION

Setelah Perang Dunia II, perusahaan Jepang mulai membanjiri pasar Amerika dengan banyak dibuat produk yang murah dan buruk, kebanyakan orang Amerika memberikannya dengan kata-kata “Made in Japan”. Akio Morita ingin mengubah persepsi tersebut dengan membangun sebuah perusahaan Internasional yang namanya berkaitan dengan inovatif dan berkualitas tinggi di seluruh dunia.

Sejak usia dini, beliau gemar mengutak-atik peralatan elektronik. Matematika dan Fisika adalah mata pelajaran favorit selama SD, SMP dan Sekolah Tinggi. Setelah lulus Sekolah Tinggi, beliau masuk Jurusan Fisika di Osaka Imperial University. Pada saat lulus dari universitas, Jepang terlibat dalam perang Pasifik dan beliau bergabung dengan Angkatan Laut sebagai letnan pada tahun 1944. Selama bergabung di dalam perang inilah, beliau bertemu dengan seorang insinyur listrik bernama Masura Ibuka.

Setelah perang, beliau ditawari posisi mengajar di Tokyo Institute of Technology, tetapi beliau membaca sebuah artikel koran tentang Masura Ibuka membuka laboratorium penelitian dan beliau tidak menerima tawaran posisi tersebut dan memilih untuk membentuk kemitraan bersama Masura Ibuka.

Masura dan Akio

Pada tahun 1946, mereka memulai Tokyo Telecommunications Engineering, Corp di department store di reruntuhan pasca perang Tokyo. Masura Ibuka berfokus pada rekayasa dan desain produk, sementara beliau menangani pemasaran, personil dan pendanaan. Produk pertama mereka adalah rice cooker otomatis, tetapi itu tidak terlalu sukses.

Pasar mereka tidak banyak konsumen dikarenakan pasca-perang Jepang sehingga ekonomi telah hancur. Beliau pun memandang ke bagian Barat sebagai pasar untuk produk-produk mereka. Banyak perusahaan Jepang menikmati kesuksesan sederhana dengan murah dari produk yang dikembangkan di Barat, tetapi beliau ingin mengembangkan produk baru dan inovatif sendiri.

Mereka ingin mengembangkan tape recorder, tetapi tidak bisa menemukan sumber untuk pita magnetik. Mereka harus membuat rekaman mereka sendiri dengan mengelilingi atasan magnet dan menempel bubuk untuk strip kertas sehingga mereka bisa menguji prototipe mereka. Mereka menyempurnakan tape recorder magnetik pertama di Jepang pada tahun 1950, dan setelah beberapa pemasaran yang agresif oleh beliau, itu merupakan kusuksesan yang sederhana.

Tape Recorder Magnetic

Pada tahun 1955, beliau mencoba untuk merancang sebuah radio berukuran saku untuk pasar Amerika, tetapi radio terkecil mereka mampu masih sedikit yang terlihat. Beliau memecahkan masalah itu dengan membuat salesma-nya memakai kemeja dengan saku yang sedikit besar, sehingga mereka bisa mengeluar-masukkan radio dengan mudah selama demonstrasi. Radio mereka pun yang pertama terjual dan sukses secara komersial serta sangat populer di seluruh dunia.

Radio

Beliau menyadari bahwa identifikasi nama merek itu sama pentingnya dengan produk yang baik untuk keberhasilan suatu perusahaan. Teknik Telekomunikasi Tokyo, Corp memang bagus, dan beliau ingin nama yang mudah untuk diucapkan dan mudah diingat. Semua orang berpikir beliau gila untuk mengubah nama perusahaan yang sukses. Tetapi pada tahun 1958, beliau mengubah nama perusahaan menjadi Sony. Itu berasal dari kata latin yaitu Sonus yang berarti suara, dan Sony yang menurutnya berarti ramah yang juga terdengar seperti matahari.

Pada tahun 1960, beliau membentuk anak perusahaan Amerika bernama Sony Corporation of America. Pada tahun 1961, Sony adalah perusahaan Jepang pertama yang memiliki saham tercatat di Bursa Efek New York.

Beliau memindahkan keluarganya ke kota New York pada tahun 1963. Beliau ingin belajar semua tentang Amerika dan budaya mereka, sehingga Sony bisa merancang produk yang disesuaikan untuk pasar Amerika. Beliau juga menghabiskan banyak waktu untuk bersosialisasi dengan banyak pembisnis dan politik Amerika yang elit dan kaya agar mampu membangun hubungan yang langgeng.

Selama tahun 1970, tape player portabel populer di Amerika, tetapi tape tersebut besar dan berat. Beliau memiliki ide untuk pemutar kaset bertenaga baterai kecil dengan headphone, sehingga seseorang bisa mendengarkan musik dan masih memiliki kebebasan untuk bergerak. Banyak orang di industri percaya bahwa pemain kaset tanpa fungsi perekam tidak akan bagus, tetapi beliau yakin bisa membuat perangkat jauh lebih kecil dan lebih portable tanpa itu. Naluri beliau benar, dan Sony Walkman telah menjadi salah satu produk elektronik pribadi yang paling sukses, dengan lebih dari 250 unit terjual sejak debut pada tanggal 1979.

Sony merupakan perusahaan Jepang pertama yang membangun fasilitas manufaktur di Amerika Serikat. Seiring waktu, beliau mendirikan banyak manufaktur lainnya, R&D dan pusat-pusat desain di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Beliau percaya bahwa Sony dapat memberikan kontribusi pada negara-negara perekonomian terbesar tempat mereka berada.

Beliau ramah dan ceria. Banyak yang mengatakan bahwa beliau memiliki cahaya alami dan beliau memikat perhatian semua orang yang datang padanya untuk membuat kontrak. Keterampilan komunikasi yang baik dan pesona yang besar memungkinkan beliau mudah menjembatani kesenjangan budaya antara Jepang dan Barat. Beliau seorang pekerja keras, namun beliau menyukai olahraga dan tetap sangat aktif sepanjang hidupnya, bahkan mencoba ski air, scuba diving dan selancar angin di umur enam puluhan.

Semangat beliau adalah inovasi. Sony mengembangkan dengan sukses TV portable bertenaga baterai pertama, tabung Trinitron gambar, yang menetapkan standar baru kualitas untuk TV berwarna, dan warna pertama video rumah yang disebut Betamax. Sony juga mengembangkan standar media, 3 1/2 inci floppy drive, perekam video 8mm dan CD audio dalam bekerja sama dengan Philips.

TV protable

TV Portable Bertenaga Baterai

Tabung Trinitron

                            Tabung Trinitron

Betamax

                     Betamax

QUOTE

Qoute merupakan suatu kalimat atau ucapan menarik yang berisikan ide, pendapat atau gagasan seseorang. Dari 105 quotes Akio Morita berdasarkan quoteswise. Saya memilih salah satu quote yang berbunyi : “Curiosity is the Key to creativity”


MINI BIO (.mp4)


PENGHORMATAN

Akio Morita telah menerima penghormatan sebanyak 36 penghormatan. Salah satu penghormatan yang paling tertinggi adalah The Albert medal from the Royal Society of Arts.

Penghormatan


SUMBER


https://agilewriter.com/Biography/Morita.htm

http://www.akiomorita.net

1 Like