Akhir dari Perasaanku

patah-hati-ilustraasi-4dec1bde6b1b6eca359be8a21efa9760_600x400
instagram.com/pascalcampionart/
Kakiku melangkah sedikit berat, menatapi lingkungan yang terasa asing ini. Mendapati beberapa orang yang berlalu-lalang dengan urusannya masing-masing.
“Huh,” aku menghela nafas.
Kepalaku tanpa henti menoleh ke kanan dan ke kiri. Menatapi hal-hal baru yang kulihat di sini. Mengendong tas dan berseragam anak SMA, mengikuti ayahku yang berjalan di depan. Entah apa yang membuat ayahku memutar otak untuk memindahkanku sekolah ke ibu kota, yang pasti karena pekerjaan beberapa tahun ke depan yang tidak bisa ditinggalkan oleh ayahku.
Ayahku sudah memasuki ruang kepala sekolah, aku masih berjalan pelan sambil mengamati sekelilingiku yang dipenuhi pepohonan dan tanaman yang berjajaran. Tiba-tiba, “brukk,” tak sengaja aku menubruk seseorang dan membuat setumpuk buku yang tengah dibawanya terjatuh ke lantai, aku pun langsung membantunya menata buku-buku itu, “maaf, aku nggak sengaja,” ucapku sambil menyerahkan buku dan menatapnya yang tengah menata buku-buku lainnya. Dia pun langsung mengambil buku yang berada di tanganku
“Lain kali kalau jalan hati-hati,” jawabnya sedikit judes. Aku masih terdiam kaku menatapnya dari jogkok sampai berdiri kembali, “anak baru ya?” aku hanya bisa mengangguk, “pantesan,” dia langsung pergi meninggalkanku. Mataku masih terpaku menatapnya yang semakin menjauh hingga tak terlihat lagi.
“Fanya,” tiba-tiba ayah menanggilku, aku pun bergegas masuk ke ruangan itu.


Seorang guru mengantarku menuju ke suatu kelas, “Fanya ini kelas kamu, jika kamu butuh bantuan bisa panggil ibu,” guru itu mengantarku sampai depan kelas.
“Baik bu,” jawabku. Aku pun langsung memasuki ruangan kelas itu.
“Silakan perkenalkan diri kamu,” kata pak guru, aku pun mengangguk dan langsung membalikkan badan untuk melihat teman-teman baruku. Saat aku menatapi setiap wajah dari orang-orang dihadapanku, aku terkejut dengan seorang laki-laki yang aku temui tadi berada di kelas yang sama denganku. Dia yang juga sedang memperhatikanku membuat jantungku bergetar hebat sejak pertama melihatnya tadi pagi.
“Ayo kenalkan dirimu,” pak guru kembali menegaskan.
“Iya pak,” jawabku sedikit gugup. “Hay, nama saya Fanya Ardina, saya pindahan dari Yogyakarta. Saya senang bsa bertemu dengan kalian,” seluruh siswa membalas sapaanku, mereka sepertinya terlihat senang dengan kehadiranku.
“Baiklah, sekarang kamu duduk di sana,” guru itu menunjuk ke arah bangku kosong, tepat di belakang cowok yang mampu membuat jantung ku berdegup kencang setiap menatapinya.
Pelajaran pun dimulai, tak jauh berbeda dengan sekolahku di Jogja. Mendengarkan penjelasan guru, lalu mencatatnya, setelah itu mengerjakan soal yang diberikannya adalah hal yang dilakukan sepanjang perajaran.
Bel istirahat berbunyi, semua siswa meninggalkan kelas untuk membuang rasa suntuknya setelah 3 jam berada di dalam kelas.
“Mau ke kantin enggak?” kata teman sebelahku yang bernama Dira.
“Boleh,” balasku, kita pun pergi meninggalkan kelas, “oiya, cowok depanku tadi namanya siapa sih?” tanyaku di tengah perjalanan menuju kantin.
“Dito, kenapa?”
“Enggak cuma tanya aja,”
“Oh Cuma tanya, kirain kamu naksir dia,”
“Emang kenapa?”
“Nggak papa sih,” Dira tersenyum kecil kepadaku.
“Kok kelihatannya cuek banget,”
“Emang begitu sikapnya, tapi dia baik kok,” aku pun hanya mengangguk dan langsung duduk di bangku yang kosong sesampainya di kantin. Kita langsung memesan dua porsi bakso dan dua gelas es jeruk.
Setelah selesai makan kita pun kembali ke kelas, tak sengaja kita melewati lapangan basker yang kudapati juga Dito di sana, “Dir, lihat ke sana dulu yuk kayaknya seru,” Dira pun mengikut. Kita duduk di pinggir lapangan basket. Mataku tetap memandang kemana arah lari Dito, hingga membuatku tidak begitu paham dengan ucapan Dira yang sesekali menjelaskanku akan berbagai hal baru di sekolah ini. Di tengah aku yang asik melihat arah lari Dito, tanpa disengaja bola itu terlempar ke arahku dan mengenai kepalaku. Pusing, hanya itu yang terasa hingga aku pingsan karena tak kuat menahannya.
Tak lama kemudian aku perlahan membuka mata, pusing masih terasa, “dimana ini?” tanyaku dengan lirih.
“Di UKS,” jawab Dira.
“Dir, udah sadar tuh, kamu bantuin dia ya aku mau keluar,” Dira terlihat mengangguk dengan ucapan Dito.
“Dari tadi dia di sini,” Dira mengangguk.
“Dito juga yang gendong kamu sampai di sini,” aku sedikit terkejut dengan ucapan Dira. Tak pernah terbayangkan olehku bisa digendong oleh Dito, “andai saja aku tadi tidak pingsan,” ucapku dalam hati sambil membayangkan hal itu.
“Kenapa kamu Fan?”
“Nggak papa Dir,” balasku, “udah bel masuk kelas nih Dir, ke kelas aja yuk,”
“Kamu udah mendingan? Kalau masih pusing nggak usah dipaksain,”
“Nggak papa kok,” ucapku meyakinkan.
Kita pun kembali ke kelas, Dira menggandengku dan menuntunku dengan pelan sampai ke dalam kelas. Sesampainya di sana, ku jumpai Dito yang tenah asik bercerita dengan temannya.
“Udah baikkan?” ucapnya setelah aku duduk dibangkuku.
“Udah,” balasku, “oh iya makasih buat bantuannya tadi,” ucapku dengan sedikit terbata-bata.
“Iya sama-sama, lagian aku juga minta maaf tadi nggak sengaja bolanya kelempar ke kamu,”
“Nggak papa kok,” balasku.
Tak lama kemudian seorang guru pun masuk ke dalam kelas, pelajaran pun dimulai sampai bel pulang berpunyi. Setelah pelajaran selesai, guru itu menyuruh aku dan Dito untuk tetap tinggal di kelas setelah beliau membubarkan kelasnya hari ini. Aku dan Dito pun mendekatinya.
“Fanya, karena kamu murid baru dan harus mengikuti materi-materi yang belum kamu dapatkan di sini, maka dari itu kamu harus mengejar ketertinggalan kamu. Paham?”
“Iya bu,” aku mengangguk.
“Maka dari itu, ibu minta bantuan Dito untuk membantumu, kamu mau kan Dit?”
“Iya bu,” jawabnya tanpa bertele-tele.
Entah mengapa aku merasa senang sekali dengan hal ini. Mungkin kedepannya aku punya banyak waktu untuk dekat dengan Dito, seorang yang mampu membutku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hari demi hari pun berlalu, setiap pulang sekolah Dito menyempatkan wantunya untuk mengajariku beberapa materi pelajaran yang belum aku dapatkan di sini, dan dari hari ke hari itu membuat rasa cinta dihatiku semakin tumbuh padanya. Sosoknya yang tampan, pintar, dan baik membuat hatiku cepat luluh dan menaruh rasa.
“Udah seminggu aku nemenin kamu belajar, dan besok-besok kamu bisa belajar sendiri. Kata Bu Mira kalau kamu ada peningkatan, maka aku hanya perlu seminggu saja mengajarimu,”
“Kalau aku merasa belum ada peningkatan?”
“Berarti aku sia-sia mengajarimu selama ini,” aku sedikit bersedih mengetahui bahwa hari ini adalah hari terakhir kita berduaan.
“Tapi kalau aku belum paham juga, masih bisa kan aku bertanya padamu?” Dia mengangguk meyakinkanku.
Hari pun semakin petang dan langit terlihat begitu mendung, kita memutuskan untuk mengakhiri perjumpaan terakhir ini sebelum hujan turun, “terimakasih Dit, udah mau membantuku,” ucapku memegang tangannya sebelum kita benar-benar berpisah.
“Sama-sama,” Dito pun memegang punggung tanganku yang memegangnya, hingga membuat jantungku berdegup dengan kencangnya.
Tiba-tiba kilat menyambar di langit tanpa permisi membuat aku langsung memeluk Dito tanpa sengaja. Sedetik setelah itu membuat kita terdiam dengan posisi yang sama dan saling bertatapan. Tak pernah ku sangka bisa memandang Dito sedekat ini. Setelah beberapa menit, Dito pun melepaskan pelukan itu.
“Maaf,” ucapku, menatapnya membuang muka.
“Mendingan cepat pulang deh, hujan sudah mau turun,” kita terdiam sejenak di tengah gazebo taman kota, “itu seperti mobil ayahmu,” ucapnya menujuk ke arah mobil berwarna hitam di pinggir jalan.
Aku mengangguk, “ya udah aku pulang dulu ya Dit,”
“Hati-hati,”
Kita sudah tidak bisa menikmati masa-masa berdua setelah ini. Semua hal yang sudah kita lalui pasti akan aku kenang dalam hati Dit, dari kamu yang rela meluangkan waktu belajarmu untukku, cerita-cerita darimu yang membuat aku semakin nyaman berada di dekatmmu, hingga pelukan dan tatapan terakhir yang menjadi hal termanis di hari ini. Aku berharap kita tidak hanya dekat untuk sementara waktu ini. Semoga kedekatan kita ini, juga bisa aku rasakan sewaktu kita berada di sekolah. Aku pun berjalan mendekati mobil untuk pulang.
Sesampainya di rumah aku langsung berbaring di tempat tidur. Tanganku menotak-atik ponsel yang aku genggam, hingga tak sengaja mendapati story whatsapp milik Dito yang membuatku ingin langsung membukanya. Seketika, jantungku seakan berhenti berdetak mengetahui story yang dibuat Dito. Itu adalah fotonya bersama Dira, aku seakan tidak yakin pada hal ini. Hatiku seakan teriris melihat postingan itu. Apa ini artinya mereka berpacaran? Kenapa mereka hanya diam saja selama ini. Ya Tuhan, hatiku begitu sakit kali ini. Aku pun mencoba mencari informasi dari teman-teman sekelasku dan ternyata memang benar dugaanku prihal hubungan mereka.
Saat itu hatiku remuk, seremuk-remuknya. Aku begitu sakit hati dan merasa terbohongi oleh perasaanku sendiri. Mungkin aku yang terlalu gegabah dalam mencintai seseorang, seharusnya aku mencari tahu dulu status Dito sebelum aku benar-benar menaruh perasan padanya.
Hari itu adalah hari yang sangat menyedihkan bagiku. Aku tak ingin kejadian ini ada lagi dalam alur kehidupanku. Sejatinya manusia itu memanglah sangat mudah meningat-ingat hal yang bisa membuatya jatuh cinta tapi begitu sulit melupakan hal-hal menyakitkan yang membuatnya terluka.

4 Likes