Adakah Hewan yang Dapat Berbicara Menggunakan Bahasa Seperti Manusia?

https://i.ytimg.com/vi/ZqZkPbCxeuQ/maxresdefault.jpg
Tak hanya memiliki kemampuan untuk membuat suara-suara. Untuk menyebutnya dapat berbicara, hewan-hewan itu harus memahami artinya.
Beragam hewan seperti gajah dan burung beo dapat meniru suara manusia berbicara. Tetapi apakah hewan-hewan itu dapat memahami apa yang mereka katakan?


Pada April 2010, Adriano Lameira meletakkan kamera videonya di depan sebuah pagar di Kebun Binatang Cologne di Jerman. Di dalamnya tinggal seekor orang utan bernama Tilda.

Ada kabar yang menyebutkan Tilda dapat bersiul seperti seorang manusia. Lalu, Lemeira dari universitas Amsterdam di Belanda, tertarik untuk merekamnya dengan kamera.

Tetapi hasil rekaman kamera tersebut menunjukkan Tilda tak hanya sekedar bersiul. Dia bertepuk dengan tangannya, memukul bibirnya, dan mengeluarkan suara dari dalam tenggorokan – hampir mirip seperti manusia yang menghirup gas sulfur hexafluoride yang membuat suara manusia lebih berat.

Ketika menyaksikan rekaman tersebut, Lameira merasa bingung. "Ini sangat berbeda dengan apa yang kita pernah dengar tentang orang utan liar selama ini, tetapi kita juga dapat melihat sejumlah persamaan dengan kemampuan bicara manusia,” kata dia.

Tilda bukanlah hewan pertama yang tampaknya dapat meniru kemampuan bicara manusia. Spesies lain seperti gajah dan paus putih serta burung beo juga mengeluarkan suara seperti berbicara.

Hewan-hewan ini tampaknya memiliki kemampuan untuk menjembatani hambatan berbahasa yang memisahkan kita. Dan upaya mereka untuk berbicara seperti kita, membuat mereka sangat menarik.

Tetapi apakah mereka dapat berbicara seperti kita? Tak hanya memiliki kemampuan untuk membuat suara-suara. Untuk menyebutnya dapat berbicara, hewan-hewan itu harus memahami artinya.

Tilda lahir sekitar tahun 1965, hasil penangkapan dari Pulau Kalimantan dan dibesarkan dalam kandang. Dia merupakan ‘sepupu dekat’ kita yang dikenal dapat meniru suara manusia.

Tim Lameira menemukan bahwa bunyinya sangat mirip dengan bicara manusia. Ritme yang cepat sangat mirip dengan cara bicara manusia dan tampak menggabungkan vokal dan konsonan seperti suara. Ini merupakan dasar bagaimana kita membentuk suku kata, kata dan kalimat, jelas Lameira.

Selain orang utan, burung beo pun memiliki kemampuan yang baik dalam meniru suara manusia. Seekor burung beo yang menjadi juara menirukan suara yaitu dikenal dengan Alex, berwarna abu-abu dari Afrika.

Dia dilatih oleh pakar kognitif Irene Pepperberg dari Universitas Harvard di Cambridge, Massachusetts. Alex dapat dengan cepat mempelajari dan meniru kata-kata baru dalam bahasa Inggris. Dia bahkan dapat mengatakan “aku cinta kamu” dan membisikkan kata selamat malam kepada Pepperberg setelah seharian menjalankan pelatihan. Ketika Alex mati pada 2007 lalu di usia 31 tahun, penggemarnya di seluruh dunia pun berkabung.

Jadi apa yang membuat burung beo seperti Alex menjadi improsionis yang handal?

Bagian dari jawaban ini bersandar pada saluran vokal, kata Pepperberg. "Saluran vokal mereka memiliki otot yang kompleks, tebal, fleksibel, lidah mereka dapat membantunya memproduksi suara manusia dengan mudah,” kata dia.

Bagaimanapun mekanisme untuk meniru dengan membuat suara sangat berbeda. Seperti yang dilakukan Noc, seekor paus putih di Vancouver Aquarium di Kanada, yang kemampuan berbicaranya diungkapkan pada 2012 lalu.

Noc ditangkap ketika masih berusia muda oleh pemburu dari bangsa Inuit ( Eskimo) dan dibesarkan oleh mereka sampai kematiannya pada 1999, Noc dapat menghasilkan suara sengau yang mirip suara manusia, melalui rongga hidungnya.

Salah satu gajah yang juga dapat meniru bicara manusia, menggunakan metode yang lain. Digambarkan pada 2012 lalu, Koshik si gajah memproduksi sejumlah kata bahasa Korea dengan meletakkan bagian belalainya ke dalam mulut untuk mengatur saluran vokalnya.

Angela Stöger-Horwath dari Universitas Wina di Austria mengatakan dengan melakukan gerakan itu Koshik secara akurat meniru susunan tinggi rendah nada dan warna bunyi yang dicontohkan pelatihnya.

Apa yang dilakukan Koshik itu luar biasa, menurut Stöger-Horwath, karena saluran vokal gajah dan anatominya berbeda dengan manusia; milik mereka lebih panjang dan mereka memiliki belalai selain bibir.

Kendati ada perbedaan gaya meniru, hewan-hewan ini memiliki sesuatu yang sama. Mereka semua adalah “pembelajar vokal”. Mereka mendengar suara, mempelajari untuk menirunya dan kemudian memproduksinya.

Manusia, merupakan pembelajar vokal yang terbaik, dapat belajar dan memproduksi suara berbeda yang tidak terhitung jumlahnya. Paus putih beluga dan Lumba-lumba juga secara natural mempelajari ratusan jenis suara selama hidup mereka.

Sejumlah burung beo dan jenis burung berkicau juga merupakan pembelajar yang baik, kadang mereka juga mengambil suara dari spesies lain dan obyek yang berada di dekat mereka.

Burung berkicau jenis lyrebirds telah mempelajari cara meniru suara seperti bunyi kamera, penutup jendela, dan gergaji. Tetapi ada juga hewan yang memiliki kemampuan terbatas dalam mempelajari suara.

Sebagian besar hewan bukan merupakan pembelajar vokal. Mereka hanya memproduksi suara sejak mereka lahir yang dikenal dengan : sapi melenguh, anjing mengonggong, dan babi menguik Hewan-hewan ini tidak dapat meniru suara baru.

Jadi apa yang terjadi pada otak hewan-hewan yang dapat menirukan suara?

Menurut Erich Jarvis dari Universitas Duke di Durham, Negara Bagian North Carolina, Amerika Serikat, kuncinya ada pada otak bagian depan. Terutama bagian sirkuit otak yang mengontrol otot untuk menghasilkan suara, dan hanya beberapa hewan yang memilikinya.

Dalam sebuah makalah pada 2004 lalu, Jarvis menggambarkan bagian otak depan yang memiliki hubungan langsung dengan otot suara pada manusia dan burung beo. Sirkuit otak ini membantu mereka untuk mempelajari suara-suara baru, dan kemudian mengontrol otot saluran vokal mereka untuk memproduksi suara tersebut.

Pada 2014 lalu, Jarvis dan rekan-rekannya meneliti tentang bagaimana gen bisa muncul atau tidak dalam otak hewan yang berbeda. Dalam penelitian itu ditemukan 50 gen menunjukkan pola aktivitas yang sama di pusat kontrol bicara dari para pembelajar vokal, termasuk manusia, burung beo, burung berkicau dan burung Kolibri.

Artinya manusia mengunakan gen yang sama untuk berbicara dan burung dalam bernyanyi. Jarvis mengatakan hewan yang tidak dapat mempelajari suara baru seperti ayam dan monyet ekor pendek, tidak memiliki gen yang aktif yang bekerja dengan cara yang sama.

Meski orang utan seperti Tilda bisa meniru suara, anehnya kera besar tidak dapat melakukannya, meski pun memiliki kekerabatan yang dekat dengan manusia dan otak mereka sama dengan kita.

Kotak suara mereka dapat memproduksi banyak suara berbeda seperti yang manusia lakukan.

Selama ini para peneliti yakin organ vokal mereka merupakan isu utama. Saluran vokal mereka sama dengan manusia, tetapi penelitian pada abad 20 menunjukkan bahwa kotak vokal mereka bukan didapat secara turun temurun seperti milik kita.

Tetapi, menurut Jarvis, teori tersebut tidak benar, pada 2003, para peneliti menemukan bahwa kotak suara bayi simpanse diturunkan sejak lahir, seperti manusia.

Secara teoritis kotak suara mereka dapat memproduksi banyak suara yang berbeda, seperti yang kita lakukan,” kata Jarvis. “Tetapi mereka tidak melakukannya.” Kera tidak memiliki saluran otak depan untuk mempelajari vokal atau saluran itu tidak berfungsi karena sejumlah alasan.

Faktanya, ketika kita membuat daftar spesies mana saja yang dapat memproduksi suara baru, mereka sangat jauh dari pohon evolusioner. Lima kelompok mamalia yang dapat memproduksi suara dapat melakukannya : manusia, kelelawar, gajah dan anjing laut, juga hewan laut lainnya seperti lumba-lumba dan paus.

Ada juga kelompok burung yang dapat mempelajari suara baru seperti; burung beo, burung berkicau dan burung kolibri.

Sebagian besar hewan yang dapat berbicara termasuk spesies yang lebih tinggi secara sosial, kata Diana Reiss dari Hunter College di New York. Tetapi karena hidup dalam tahanan, mereka terpisah dari jenis mereka dan hanya berinteraksi dengan manusia.

Jadi manusia menjadi model imitasi mereka, kata Lameira. “Meniru suara manusia seperti meniru kawan sebaya.”

Meniru suara manusia juga merupakan cara untuk menjalin kedekatan dengan mereka, kata Stöger-Horwath. Dia berpikir itu pula yang membuat Koshik si gajah melakukannya.

Sama dengan seekor paus beluga atau paus putih bernama Nack, yang menurut pelatihnya Tsukasa Murayama dari Tokai University di Kanagawa, Jepang. Nack dapat meniru kata-kata bahasa jepang dan suara-suara dasar, termasuk “Tsukasa”. Murayama berpikir itu cara dia bermain dengan manusia, dia tidak mendapatkan imbalan untuk melakukan itu.

Sementara di alam liar, para pembelajar vokal menggunakan suara mereka untuk menjalin kedekatan dengan spesies mereka. Kemampuan untuk mempelajari suara baru juga memungkinkan mereka untuk mengubah suara sebagia contok jika mereka butuh untuk bergabung dengan kawanan baru, kata Pepperberg.

Kemampuan suara mereka juga dapat membuat mereka lebih atraktif bagi lawan jenis, dengan menunjukkan kecerdasan mereka, kata Jarvis.

“Saya pikir hal sepeti itu juga terjadi pada manusia, ketika anda laki-laki atau perempuan ingin menunjukkan bagaimana kepintaran dan bagaimana kecerdasan dengan informasi yang mereka miliki. Saya pikir itulah yang disebut meniru.”

Meski dapat meniru tetapi hewan-hewan ini tidak mengetahui apa artinya. Seperti Koshik yang telah dilatih jika penjaganya mengatakan “nuo” kata dalam bahasa Korea yang artinya “berbaring” maka dia akan berbaring.

Koshik juga dapat mengatakan kata “nuo” dengan menirunya, tetapi dia tidak dapat memaknai kata itu dengan mengharapkan penjaganya untuk bebaring, dia hanya menirukan suara kata Stöger-Horwath.

Koshik merupakan hewan yang normal. Anda dapat mengajari anjing Anda untuk mengerti kata “duduk” atau “ambilkan koran”, kata Jarvis. Tetapi anjing tidak dapat meniru kata-kata.

Bagaimanapun, meniru vokal merupakan dasar dalam bahasa manusia. Kemampuan kita meniru mengijinkan kita untuk mempelajari dan memproduksi berbagai suara yang berbeda.

Kita tidak mengetahui kapan kemampuan bicara dan bahasa kita mulai muncul. Apakah nenek moyang seperti Australopithecus, dapat berbicara? Bagaimana dengan spesies yang lebih dulu ada seperti Neanderthal?

Sejumlah hewan dapat meniru perkataan manusia.

Kasus Tilda dapat membantu menjawab pertanyaannya ini. Sangat jelas, suara yang dia tiru tidak telalu sulit untuk orang utan, kata Lameira. Kondisi itu memunculkan dugaan kemampuan untuk memproduksi suara berkembang sebelum garis keturunan orang utan terpisah dari garis keturunan yang berkembang menjadi manusia.

“Ini dapat memberikan kita petunjuk waktu dari evolusi bicara,” kata Lameira.

Mungkin kita tak terlalu terkejut dengan kemampuan nenek moyang untuk meniru suara. Banyak mekanisme yang terlibat, seperti kemampuan untuk mengontrol bunyi yang Anda buat itu sangat mendasar dan banyak hewan memilikinya.

Kebenaran tampaknya hanya pada sejumlah hewan dapat meniru suara manusia, tetapi hanya sedikit sekali yang dapat berbicara dengan makna seperti yang dilakukan manusia.

Hewan-hewan yang kurang memiliki kemampuan ini sangat menganggumkan seperti sangat terlatih, karena mereka dapat mengungkapkan bagaimana kemampuan bahasa kita berkembang.