Ada berapa macam neraka di akhirat ?

Setelah kematian akan ada hari pembalasan dan kehidupan yang kekal. Manusia akan mendapatkan balasannya dalam bentuk tempat kembalinya sebagai tempat tinggalnya yang baru di alam akhirat. Jika amalan buruk lebih berat dalam timbangan, maka tempat kembali manusia tersebut adalah neraka. Neraka memiliki beberapa tingkatan.

2 Likes

Neraka adalah seburuk-buruknya tempat kembali bagi manusia dan jin yang mengkufuri-Nya, mengingkari perintah-perintah-Nya, dan mendustakan para Nabi dan Rasul-Nya.
Tempat dimana Allah subhanahu wa ta’ala telah siapkan dengan kepedihan siksaan-Nya, dan dahsyatnya api nereka. Dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan kita semua dalam firman-Nya :

“Maka, kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Lail Ayat 14)

Dalam Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah Subhanahu wata’ala terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim Ayat 6)

Pada dasarnya Neraka memiliki 7 pintu, setiap pintu ada bagian tertentu yang di peruntukkan bagi kaum laki-laki dan wanita.

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Hijr ayat 44 :

“Jahanam itu memiliki tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah di tetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.”

Neraka di jaga oleh 18 malaikat (Zabaniyah) yang bentuknya seperti Malaikat Malik, yang mengepalai para malaikat yang lainnya, yang berada di bawah perintah kekuasaannya, jumlah mereka ini banyak sekali, hanya Allah Subhanahu wa ta’ala yang tahu jumlah mereka.

Berikut Nama, Tingkatan Neraka beserta Penghuninya :

  1. Neraka Hawiyah.
    Neraka ini terletak paling bawah (dasar), merupakan neraka yang paling dahsyat sisksaannya. Penghuninya adalah orang-orang munafik, orang kafir, termasuk juga keluarga Fir’aun.

    Sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

    Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS Al Qori’ah ayat 9)
    Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?” (QS Al Qori’ah ayat 10)
    (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS Al Qori’ah ayat 11)

  2. Neraka Jahim.
    Tingkat neraka ke-6, yaitu di atasnya neraka Hawiyah. Di tempati oleh orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah. Ada dalam Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

    "Dan di perlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat ",
    (QS Asy-Syu’araa ayat 91)

  3. Saqar.
    Tingkat neraka ke-5, terletak di atasnya neraka Jahim. Dihuni oleh orang-orang yang menyembah berhala. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

    " Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka) ? " (QS Al-Muddatstsir ayat 42)

  4. Neraka Ladza.
    Tingkat neraka ke-4, terletak di atasnya neraka Saqar. Di dalamnya di tempati Iblis laknatullah beserta orang-orang yang mengikutinya dan orang-orang yang terbujuk rayuannya. Kemudian orang-orang Majusi pun ikut serta menempati neraka Ladza ini. Mereka kekal bersama Iblis di dalamnya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

    “Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak”.
    (QS Al-Ma’arij ayat 15)

  5. Neraka Huthamah.
    Tingkat neraka ke-3, terletak di atasnya neraka Ladza. Penghuninya orang-orang Yahudi beserta para pengikutnya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

    Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” “Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?” “(Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,” (QS Al-Humazah ayat 4-6)

  6. Neraka Sa’ir.
    Tingkat neraka ke-2, terletak di atasnya neraka Huthamah. Di dalamnya di tempati oleh orang-orang Nashrani dan para pengikutnya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

    “Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.“ (QS Al Insyiqaq ayat 12)

  7. Neraka Jahanam.
    Tingkat neraka ke-1. Merupakan pintu neraka yang paling atas (pertama). Di dalamnya berisi umatmu (Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam) yang melakukan dosa-dosa besar dan tidak tobat sampai mereka meninggal dunia. Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

    “Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah di ancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya.” (QS: Al-Hijr ayat 43).

Tentang neraka Jahanam Ibnu Abbas radhiallahu anhu meriwayatkan : Pada hari kiamat neraka jahanam di datangkan, di sekeliling jahanam ada 70.000 barisan para malaikat. Setiap baris jumlahnya lebih banyak dari jumlah jin dan manusia. Mereka mendekat, memegang kendali Jahanam, juga memiliki 4 kaki, jarak antara setiap kaki sejauh perjalanan 1.000 tahun. Ia juga memiliki 30 kepala, setiap kepala terdapat 30.000 mulut. Setiap mulut memiliki 30.000 gigi geraham. Setiap gigi geraham besar seperti gunung uhud 1.000 kali. Setiap mulut terdapat 2 bibir, setiap bibir besarnya seperti seluasnya dunia. Di dalam bibirnya terdapat rantai dari besi. Setiap satu rantai terdapat 70.000 lingkaran, di pegang oleh para malaikat yang tidak terhitung jumlahnya.

Referensi :

1 Like

Artinya: Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat mereka semuanya. Dia mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu untuk kelompok tertentu. QS. Al Hijr ayat 43-44

Para mufassir klasik semisal al Thabari, dan Ibnu Katsir mengatakan maksud dari sab’atu abwāb adalah bahwasanya neraka Jahanam mempunyai tingkatan atau thabaqat. Senada dengan pendapat para mufasir adalah pendapat Ibnu Abi al Dunya dengan sanad dari Ikrimah bahwasanya sab’atu abwāb adalah neraka mempunyai tujuh tingkatan. Gambaran pintu tersebut-sebagaimana yang diberitakan oleh Imam Ali ra-bertingkat satu dengan yang lain, sehingga menurut riwayat Ibnu Juraij, Ibnu Abbas dan Dhahak tingkatan-tingkatan tersebut secara berurutan adalah; Jahannam , Laẓa , Huṭamah , Sa’īr , Saqar , Jahīm , dan Hawiyah yang paling bawah.

Menurut Quraish Shihab, tidak ditemukan penjelasan dari al Quran tentang makna pintu-pintu neraka atau surga. Karena itu kita tidak dapat memastikan apakah pintu yang dimaksud disini adalah tempat masuk serupa halnya dengan tempat masuk dan keluar dari satu ruangan. Kata tujuh juga diperselisihkan maknanya. Ada yang memahaminya dalam arti banyak, dan ada juga yang memahaminya dalam arti angka yang diatas enam dan dibawah delapan.

Dalam kitab al Tahwif min al Nār, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Salam al Madaini (dan ini dhaif) dari Dhahak bahwasanya neraka mempunyai tujuh pintu, pintu tersebut merupakan suatu tingkatan yang saling bertingkat satu sama lain, dan yang paling atas didalamnya dihuni oleh golongan ahli tauhid yang maksiat yang di adzab oleh Allah sesuai kadar amalnya di dunia dan kemudian dikeluarkan dari neraka tersebut. Dan pada tingkatan kedua terdapat golongan/kaum Yahudi, dan tingkat ketiga dihuni oleh kaum Nasrani, pada tingkat keempat dihuni oleh kaum al Shabi’un, di tingkat kelima dihuni oleh golongan/kaum Majusi, dan golongan Musyrik menempati tingkat keenam dan yang paling bawah/ketujuh dihuni oleh golongan/kaum munafik. Sebagaimana firman Allah dalam QS. al Nisa’:145;

Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

Al Nār merupakan bentuk mashdar dari kata Nāra-Yanūru-Nāran yang merupakan perubahan dari kata Nawara . Arti asalnya adalah bersinar. Sedangkan arti mashdar -nya ada beberapa makna, antara lain, melihat api dari jauh, memberi tanda, pendapat atau pikiran, cap, api dan terakhir adalah Neraka. Kata Nāra dalam al Quran dengan seluruh derivasinya berjumlah 196 kata dengan 37 jenis kata yang berbeda. Sedangkan dalam bentuk mashdar Nār , baik menggunakan alif lam maupun tidak, dengan seluruh i’rab -nya berjumlah 145 kata.14 Kata nār dalam al Quran mengandung pengertian api dan neraka. Kata Nār yang mengandung arti api seperti dalam ayat berikut:

Artinya: (yaitu) api yang sangat panas. (QS. al Qoriah: 11)

Artinya: (yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan.(QS. al Humazah: 6)

Sedangkan ayat-ayat al Quran yang menggunakan kata nār, dalam pengertian neraka seperti:

Artinya: Barang siapa berbuat keburukan, dan dosanya telah menenggelamkan, maka mereka itu penghuni neraka, merek kekal di dalamnya. ( QS. Al-Baqoroh: 81)

Artinya: Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tinkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. (QS. An-Nisa’: 145)

Jahannam

Jahannam berasal dari bahasa Arab yang memiliki banyak arti. Secara harfiah berarti memiliki penampilan jahat atau berwajah murung, Kegelapan. dan Jahm digunakan untuk bagian tergelap dari malam, awan yang tak berair. Kata Jahannam dalam al Quran disebutkan sebanyak 77 kali. Jika semua arti tersebut dijadikan satu, maka menjadi Jahannam adalah tempat yang teramat menyeramkan dan gelap. Karena jahannam memiliki penampakan yang dapat menciutkan nyali dan tak memiliki air/ kering kerontang.

Di dalam al Quran banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan golongan orang-orang yang diancam Allah dengan neraka Jahannam , yaitu:

  • Orang kafir (orang yang tidak beriman kepada Allah, Malaikat, Rasul, Hari Kiamat, serta mengingkari kebenaran agama Allah).

  • Orang-orang Munafiq

    Artinya: Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS. Al Taubah: 68)

  • Golongan orang-orang yang durhaka, yaitu orang yang lebih senang melakukan kejahatan.

    Artinya: dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga. (QS. Maryam: 86)

  • Golongan pengikut-pengikut syaitan (orang yang menuruti kehendak dan hawa nafsu, senang dan bangga dalam melakukan segala kemaksiatan).

    Artinya: Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. (QS. Al Hijr: 43)

  • Orang-orang yang diliputi dosa, atau orang yang menimbun dosa, yang sampai mati belum bertaubat.

    Artinya: Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. (QS. Thāha: 74)

  • Golongan orang yang menentang kebenaran ajaran Rasul, orang yang tidak menafkahkan hartanya di jalan Allah, dan orang yang menentang Nabi.

    Artinya: Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. ( QS. Al Nisā’: 115)

    Artinya: Beginilah (keadaan mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka Jahannam, yang mereka masuk ke dalamnya; maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat tinggal. (QS. Shād: 55-56 )

Itulah antara lain macam-macam golongan yang secara tegas disinyalir calon-calon penghuni neraka Jahanam dalam al Quran.

Ladza

Kata laẓa pada mulanya berarti kobaran api yang murni, yang sangat panas, yang membakar dirinya sendiri jika tidak ada sesuatu yang dibakarnya. Berasal dari kata laẓiya yalẓa laẓan, yang berarti kobaran api atau nyala api. Ada yang menyebutkan kata laẓa berasal dari la ẓa ẓa yang-kemudian salah satu ẓa nya diganti alif-berarti langgengnya siksa. Disebutkan sebanyak 2 kali dalam al Quran. Yaitu dalam Qs. Al Ma’arij (70): 15 dan al Lail (92): 14. Kata ini kemudian menjadi salah satu nama dari neraka, dikatakan pada peringkat kedua.

Ilustrasi dari neraka laẓa adalah api murni yang bergejolak. Mengelupaskan kulit kepala, bahkan semua bagian kulit tubuh, yang senantiasa memanggil orang-orang yang membelakangi iman dan kebenaran dan yang berpaling dari ajakan rasul serta mengmpulkan harta benda dan apa saja yang dapat dikumpulkannya tanpa menghiraukan hukum dan ketentuan Allah lalu menyimpan apa yang dikumpulkannya serta enggan menafkahkannya di jalan Allah. Seperti dalam firman Allah:

Artinya: Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak, yang mengelupas kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama), serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. (QS. Al Ma’arij ayat: 15-18)

Huṭamah

Selain terma diatas, al huṭamah juga merupakan term yang oleh ulama’ diidentifikasikan sebagai sebuah term yang merujuk pada arti sebuah neraka. Kata Huṭamah dalam al Quran disebutkan sebanyak 2 kali yakni dalam QS. Al Humazah: 4-5. Sementara kata yang memiliki akar kata Huṭamah disebutkan 6 kali, semuanya bermakna hancur, memecahkan atau meremukkan sesuatu, seperti terdapat dalam QS. An Naml 27: ayat 18.

Kata Huṭamah terambil dari kata haṭama yang berarti hancur, sehingga Huṭamah dapat diartikan amat menghancurkan atau membinasakan. Dikatakan pula huṭamah adalah nama salah satu dari nama neraka atau nama salah satu dari pintu Jahannam . Api yang menyala-nyala dinamakan al huṭamah karena menghancurkan, merusak, memecah apa-apa yang ia temui.

Ilustrasi mengenai neraka huṭamah tersebut dapat dilihat dalam al Quran sebagai berikut:

Artinya: Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huṭamah, dan tahukah kamu apa Huṭamah itu?, (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. (QS. Al Humazah: 4-7)

Tafsir mengenai ayat tersebut adalah, Allah mengisyaratkan betapa hebatnya neraka dan bahwa ia di luar kemampuan nalar manusia untuk menjangkaunya, ayat-ayat di atas bagaikan menyatakan bahwa: sekadar untuk menggambarkannya sesuai kemampuan kamu, Huṭamah adalah api Allah yang naik secara sempurna sampai ke hati semua pendurhaka. Jangan duga ada di antara mereka yang dapat menghindar, jangan juga duga bahwa api itu mematikan mereka karena sesungguhnya ia-yakni tempat api itu dikobarkan atas mereka-secara khusus ditutup rapat-rapat sedang para yang tersiksa itu diikat pada tiang-tiang yang sangat panjang.

Nārullah berarti api Allah, dinisbatkan api itu kepada Allah memberi kesan bahwa ia bukan api biasa, tetapi ia api yang diciptakan Allah khusus untuk tujuan tertentu. Sebagian ulama menggambarkan betapa dahsyat api neraka dengan mengatakan api dunia ini sebenarnya telah didinginkan sedemikian rupa, sehingga tidak dapat dibandingkan dengan api yang disiapkan itu.

Api itu naik sampai ke hati, menggambarkan bahwa api itu membakar sekujur tubuh sang durhaka, hingga pada akhirnya membakar hatinya. Hati yang dibakar, karena hatinya menjadi wadah kemusyrikan dan menampung segala kedurhakaan.

Adapun neraka huṭamah diperuntukkan bagi mereka yang mengumpulkan, menumpuk dan menghitung-hitung harta benda yang dengannya dia menjadi kikir, tidak mau menafkahkan di jalan Allah.

Artinya: orang yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung (yang dengannya dia menjadi kikir, tidak mau menafkahkan di jalan Allah). Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya. (QS. Al- Humazah: 2-3)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Utsman dan Ibnu Umar berkata: "Masih segar terdengar di telinga kami bahwa ayat ini (QS. Al Humazah:1-2) turun berkenaan dengan Ubay bin Khalaf, seorang tokoh Quraisy yang kaya raya, yang selalu mengejek dan menghina Rasul dengan kekayaannya. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim yang bersumber dari Utsman dan Ibnu Umar.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (QS.al Humazah:1,2,3) turun berkenaan dengan al-Akhnas bin Syariq yang selalu mengejek dan mengumpat orang. Ayat ini turun berkenaan sebagai teguran terhadap perbuatan seperti itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi hatim yang bersumber dari as-Suddi.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (QS.al Humazah:1-3) turun berkenaan dengan Jamil bin Amir al Jumbi seorang tokoh musyrik yang selalu mengejek dan menghina orang. (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari seorang suku Riqqah.).

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Ummayah bin Khalaf selalu mencela dan menghina Rasulullah apabila berjumpa dengannya. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS.al Humazah:1-9) sebagai ancaman siksa yang sangat dahsyat terhadap orang-orang yang mempunyai anggapan dan berbuat seperti itu. (Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ibnu

Sa’īr

Kata Sa’īr berasal dari kata sa’ara yang berarti menyalakan, mengobarkan, mempercepat, dan al Sa’īr berarti nyala api. Lafadz Sa’īr serta berbagai derivasinya dalam al Quran disebutkan sebanyak 15 kali, dan sebagaimana riwayat dari Dhahak dan Ibnu Abbas kata sa’īr merupakan salah satu nama neraka atau sifat dari pada Jahannam.

Adapun calon penghuni neraka Sa’īr, sebagaimana yang disebutkan dalam al Quran antara lain; diisi oleh orang-orang kafir, dan orang yang memakan harta anak yatim dengan cara zalim. Sebagaimana Firman-Nya:

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (QS. al Nisa’:10)

Termasuk penghuni neraka sa’īr adalah Orang-orang yang mengingkari segala apa yang diturunkann Allah, termasuk pula didalamnya orang-orang kafir, dan juga orang yang terpedaya terhadap (neraka) Jahim.

Saqar

Kata saqar disebutkan sebanyak 7 kali dalam al Quran. Kata saqar terambil dari kata saqara yang berarti menyengat atau mengecap untuk menandai binatang. Kata saqar diartikan juga sebagai sengatan terik matahari atau besi panas yang digunakan untuk mengecap binatang. Kata ini digunakan al Quran sebagai salah satu nama tempat penyiksaan (neraka) di hari kemudian atau nama dari salah satu tingkat dari tempat penyiksaan itu. Menurut al Qurthubi, berdasarkan salah satu riwayat yang dinisbahkan kepada Nabi saw, Ibn Abbas, saqar adalah tingkat keenam dari tujuh tingkat neraka.

Al Quran, ketika memberitakan siksaan di hari kemudian dengan kata saqar, bermaksud menggambarkan keadaan neraka abstrak itu dengan sesuatu yang konkret dan dapat dijangkau oleh manusia, khususnya oleh masyarakat arab yang hidup di tengah-tengah padang pasir dan yang sering kali mengalami sengatan panas matahari.

Uraian mengenai karakteristik neraka saqar secara jelas tergambar dalam al Quran:

Artinya: Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar, tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu?, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia, Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (QS al Muddatstsir: 26-30 )

Ada yang memahaminya dalam arti neraka saqar yang tampak bagi manusia dari tempat yang sangat jauh. Terlihatnya saqar dari jarak tersebut mengisyaratkan besarnya kobaran apinya. Ada juga ulama yang memahaminya dalam arti neraka saqar itu haus terhadap mangsanya dan menghauskan mereka atau bahwa ia mengubah, menghitamkan, dan menghaluskan kulit mereka yang terjerumus didalamnya. Terlihatnya neraka secara jelas bagi mereka yang berdosa seakan-akan berarti memanggil-manggil mereka, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al Ma’arij: 17. Ayat 29 dengan makna tersebut mengisyaratkan bahwa neraka saqar menyiksa jiwa seseorang jauh sebelum orang itu dijerumuskan ke dalamnya. Dari kejahuan, calon-calon penghuninya telah melihatnya sehingga mereka telah membanyangkan betapa pedih siksa yang menanti. Pandangan ini tentunya melahirkan kecemasan, ketakutan, bahkan siksaan tersendiri.

Adapun calon penghuni neraka Saqar dalam Al Quran:

Artinya : "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?", Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang- orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian." ( QS. Al Muddatstsir: 42-47)

Jahīm

Kata jahīman berasal dari juhmah yang berarti nyala api yang berkobar-kobar, sehingga jahīm berarti api (neraka) yang berkobar-kobar. Ada juga yang mengartikannya api di atas api. ditemukan sebanyak 26 kali dalam al Quran.

Neraka ini diancamkan kepada mereka yang bermegah-megahan dengan apa yang mereka peroleh dan tidak membelanjakan di jalan Allah dan tidak pernah merasa syukur kepada-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam QS. al Takatsur ayat: 6, serta golongan orang-orang yang durhaka

Artinya: Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar- benar dalam neraka. (QS. Al Infithar: 14)

Hāwiyah

Kata hāwiyah terambil dari kata hawa yang berarti meluncur kebawah. Kata hāwiyah disebutkan 1 kali dalam al Quran yakni dalam QS. al Qari’ah ayat 9. Sedangkan kata yang menunjuk akar katanya ( hawa ), disebutkan sebanyak 38 kali.

Mereka adalah orang-orang yang lebih senang melakukan kejahatan daripada melakukan kebaikan, mereka ini adalah calon-calon penghuni neraka Hāwiyah. Al Quran menegaskan bahwa orang yang lebih ringan timbangan kebaikannya dibandingkan dengan amal keburukannya setelah ditimbang dengan neraca (mizan) di hari kiamat kelak, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

Artinya: dan adapun orang yang ringan tmibangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka hawiyah, dan tahukah kamu apa neraka hawiyah itu?, yaitu api yang sangat panas. (QS. Al Qoriah: 8-11)

Wail

Sebagaimana keterangan diatas bahwa nama-nama neraka yang diriwayatkan oleh Dhahak ataupun Ibnu Abbas, tidak kita dapati nama wail . Namun dalam beberapa literatur dan sangat familiar di masayarakat kita bahwa wail merujuk pada salah satu nama neraka. Maka dalam hal ini penulis tetap sertakan dalam salah satu nama neraka, dengan catatan masih ada pendapat ulama’ (mufassir) yang menjelaskan akan hal itu.

Kata wail pada mulanya digunakan oleh pemakai bahasa Arab sebagai doa jatuhnya siksa, tetapi al Quran menggunakannya dalam arti ancaman jatuhnya siksa, atau dalam arti satu lembah yang sangat curam di neraka.

Selain digunakan untuk menggambarkan kesedihan, kecelakaan atau kenistaan, kata ini juga digunakan untuk mendoakan seseorang agar mendapatkan kecelakaan dan kenistaan itu. Dengan demikian ia dapat menggambarkan keadaan buruk yang sedang atau kenistaan yang akan dapat dialami, dan dengan demikian ia menjadi ancaman buat pengumpat dan pencela. Sementara ulama’ ber pendapat bahwa wail adalah salah satu lembah di neraka, yang akan melakukan pelanggaran tertentu akan disiksa di sana.

Kata wail digunakan dalam arti kebinasaan dan kecelakaan yang menimpa akibat pelanggaran dan kedurhakaan. Ada yang memahaminya dalam arti nama dari salah satu tingkat siksaan neraka. Artinya ayat ini merupakan ancaman terjerumus ke neraka wail. Ada juga yang memahami dalam arti ancaman kecelakaan tanpa menetapkan waktu serta tempatnya. Ini berarti bahwa kecelakaan itu dapat menimpa pendurhaka dalam kehidupan duniawi atau ukhrawi. Pendapat ini baik karena tidak ada indikator pada konteks ayat ini, demikian juga dengan ayat-ayat lain, yang menggunakan kata wail yang menunjukkan adanya pembatasan waktu dan tempat. Benar bahwa ada ayat yang secara tegas menyatakan bahwa salah satu penyebab keterjerumusan ke dalam neraka saqar adalah mengabaikan shalat (QS. al Muddatstsir: 42-43) namun ini bukan berarti bahwa wail adalah salah satu tingkat neraka atau bahwa kecelakaan dan kebinasaan itu hanya dialami di akhirat kelak.

Adapaun calon-calon penghuni neraka wail, sebagaimana yang disebutkan dalam al Quran adalah:

Neraka Wail disediakan untuk orang-orang yang mendustakan ajaran agama islam (menghardik anak yatim, tidak menganjurkan memberi makan anak yatim, melalaikan solat, ahli berbuat riya’, enggan membayar zakat).

Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (QS. Al Ma’ūn: 1-7)

Orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan. Sebagaimana firman Allah:

Artinya: Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebathilan. (QS. Al Thūr: 11-12)

Orang-orang yang perbuatannya dan pekerjaannya mengurangi takaran, ukuran dan timbangan. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah:

Artinya: Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang , (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (QS. Al Muthaffifīn: 1-3)

1 Like