Achmad Zaky : Pendiri dan CEO Bukalapak

Achmad Zaky dilahirkan di Sragen pada tanggal 24 Agustus 1986. Masa kecil Zaky tak berbeda dengan anak-anak kecil lainnya. Ia tumbuh dan besar di Sragen, TK-SMA di Sragen , Jawa Tengah.

Achmad Zaky mulai mengenal dunia komputer pada tahun 1997 yaitu usia 11tahun. Ketika itu pamannya membelikan ia buku-buku tentang komputer. Sejak saat itu hobi seorang Achmad Zaky adalah utak-atik komputer .

Kecerdasan Achmad Zaky terlihat nyata ketika dibangku SMA ia ditunjuk mewakili sekolahnya untuk berkompetisi di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang computer. Dan Achmad Zaky pun menang sampai tingkat nasional.

Lulus SMA, Achmad Zaky diterima sebagai mahasiswa Teknik Informatika ITB. Pada semester 4 ia mencapai IPK 4.00 , yaitu nilai sempurna untuk semua mata kuliah di semester itu.

Tak hanya bidang akademis, bidang organisasipun Achmad Zaky menonjol. Terbukti atas buah pemikirannya, di ITB sekarang ada jurusan/cabang Share Global Student Think-Tank. Kemudian Ahmad Zaky juga mendirikan Entrepreneur Club ITB atau Technopreneur Club (TEC ITB).Achmad Zaky juga sering menjadi pembicara di Amateur Radio Club (ARC) ITB.

Prestasi Achmad Zaky yang lain semasa kuliah yaitu ia sering menjadi pemenang dalam kejuaraan sains tingkat nasional. Seperti menyabet Juara II di kompetisi Indosat Wireless Innovation Contest pada tahun 2007. Pada kompetisi itu Achmad Zaky membuat MobiSurveyor yaitu software yang berfungsi untuk melakukan fast counting dalam sebuah survey.

Kemenangan Achmad Zaky lainnya adalah pada ajang INAICTA (Indonesia ICT Awards) ia berhasil mendapatkan Merit Award di tahun 2008.

Berkat otaknya yang cemerlang juga, saat masih mahasiswa tahun 2008 Achmad Zaky mendapat scholarship atau beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk bersekolah di Oregon State University . Kemudian di tahun 2009 ditunjuk untuk mewakili almamaternya dalam kompetisi Harvard National Model United Nations.

Setelah Achmad Zaky lulus kuliah dari ITB, ia mendirikan Suitmedia yaitu semacam perusahaan konsultasi dibidang teknologi terutama teknologi computer. Ia sering mendapat job untuk membangun system IT berbagai perusahaan besar di tanah air.

Disela kesibukannya tersebut, Achmad Zaky berfikir ingin membangun sesuatu yang lebih berguna untuk orang banyak. Ia kemudian memutuskan untuk mendirikan situs belanja online yang lebih simple dan bisa digunakan oleh banyak orang secara gratis. Berdirilah BUKALAPAK.COM pada tahun 2010. Yang misi dan visinya adalah Memajukan para UKM di Indonesia lewat internet.

Disaat bukalapak.com dibuat, tak banyak orang yang mau bergabung dan membuka lapak/toko online di Bukalapak.com padahal menjadi merchant (membuka stand online) di bukalapak.com gratis dan mudah. Hingga Achmad Zaky harus turun ke mall-mall untuk mengajak pedagang membuka stand online di Bukalapak.

Walaupun tak dipungut biaya sepeserpun alias gratis, tak serta-merta mereka para pedagang di mall ini mau membuka stand online mereka di bukalapak.com karena mungkin mainstream mereka adalah mereka gak mau belajar, gak mau ribet dengan berbagai hal online. Ya, pada tahun itu (2010) tak banyak orang yang melek internet, paham tentang toko online, tahu tentang potensi e-commerce bagi bisnis mereka.

Achmad Zaky tak berputus asa, ia terus mengedukasi para pedagang itu agar melek internet, bahwa dengan dibantu internet dagangannya bakalan makin laris, karena makin luas jangkauan pemasarannya. Hingga satu demi satu pedagang itu mau membuka stand onlinenya.

Kebanyakan dari mereka adalah pedagang kecil yang mengaku omsetnya dari offline kecil sekali hungga mereka berharap dengan adanya stand online bisa menambah pemasukan. Tak pelak lagi dalam waktu yang relative singkat para pedagang tersebut mengaku omsetnya naik.

Dari sini Achmad Zaky menyimpulkan bahwa ia akan focus untuk mengajak pengusaha/pedagang kecil dulu, karena ini calon merchant yang potensial. Hingga terkumpullah sampai sekarang 10.000 merchant di bukalapak.com.

Bukalapak.com adalah e-commerce online marketplace yang bertujuan memberdayakan usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia dengan menjual produk-produk UKM secara online. Sejak didirikan pada tahun 2010, kini Bukalapak telah menjadi e-commerce besar yang paling berkembang di Asia Tenggara, dengan pertumbuhan penjualan 20 persen perbulan.Sudah 150 ribu lebih Pelapak (UKM) yang telah bergabung, Bukalapak telah berhasil menjadi marketplace yang mampu mengumpulkan kelompok penjual di Indonesia dan menjadi online marketplace terbesar di Indonesia (menurut ComScore).

Achmad Zaky, CEO sekaligus Pendiri Bukalapak.com merupakan dalang dibalik kesuksesan Bukalapak.com saat ini. Beliau lahir di Sragen, Jawa Tengah, 24 Agustus 1986. Beliau merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Informatika.

Selama menempuh pendidikan di ITB, beliau tercatat pernah mendirikan beberapa organisasi kemahasiswaan di ITB. Beliau menjadi salah satu penggagas lahirnya cabang ShARE Global Student Think-Tank di ITB. beliau juga mendirikan Entrepreneur Club ITB yang kemudian dikenal dengan Technoentrepreneur Club (TEC ITB). Ia pun aktif di Amateur Radio Club (ARC) ITB. Selain itu, beliau sering menjuarai beberapa kompetisi tingkat nasional, Salah satunya adalah juara II pada Indosat Wireless Innovation Contest tahun 2007. Ia membuat perangkat lunak yang disebut MobiSurveyor. Perangkat ini berguna untuk melakukan perhitungan cepat dalam sebuah survei. Beliau juga mendapatkan Merit Award pada kompetisi INAICTA (Indonesia ICT Awards) pada tahun 2008. Beliau juga sempat meraih beasiswa studi ke Oregon State University dari pemerintah Amerika Serikat selama dua bulan pada tahun 2008. Selain itu, ia juga pernah mewakili ITB dalam ajang Harvard National Model United Nations 2009.

Sebenarnya sebelum berkuliah di ITB, tujuannya kuliah hanya untuk memperoleh pekerjaan bagus dengan gaji besar. Namun seiring berjalannya waktu setelah kuliah ia mengalami perubahan cara berpikir. dimana di ITB itu sangat entreprenerial, karena lulusannya yang menjadi pengusaha bisa menjadi role model, seperti Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro yang sukses menjadi pengusaha sukses di tanah air. Oleh karena itu setelah lulus di ITB pilihannya hanya ada dua, yaitu kerja di perusahaan besar seperti Mckinsey dan BCG atau membangun perusahaan sendiri.

Akhirnya sejak kuliah beliau sudah berkecimpung di dunia StartUp dengan mendirikan Suitmedia yang merupakan perusahaan jasa konsultan website perusahaan, dan hingga kini usaha ini masih tetap dijalani. Pada 2010, melihat perkembangan Suitmedia yang sangat pesat. Beliau mendirikan Bukalapak. Sejak itulah beliau memutuskan untuk fokus membangun Bukalapak menjadi online marketplace terpercaya yang banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Ide Mendirikan Bukalapak berawal dari garasi, Achmad Zaky bersama Nugroho yang juga pendiri Bukalapak yang memiliki pengalaman membuat dan memasarkan website di Suitmedia, sadar bahwa para seller dan buyer menginginkan suatu situs online marketplace yang bisa mempertemukan antara penjual dan pembeli secara aman tanpa penipuan. Mereka pun akhirnya membuat sebuah situs online marketplace bernamakan Bukalapak.com.

Awalnya hanya 3 orang yang terlibat di Bukalapak, 1 orang sebagai staf yaitu Nugroho Herucahyono, 1 orang bantu-bantu yaitu Fajrin Rasyid, dan 1 orang lagi yaitu Achmad Zaky sendiri yang secara masif mengajak orang-orang bergabung di Bukalapak. Ia mengundang orang-orang bergabung saat di sela-sela pekerjaan di Suitmedia.

Ketika itu melalui fitur message di Facebook beliau hanya bisa mengajak 100 orang perhari untuk mengajak orang berjualan di Bukalapak. Tantangan terberatnya dalam mengajak seller bergabung yaitu masalah kepercayaan terhadap e-commerce, karena kebanyakan orang takut tertipu. Jadi diawal beliau dan tim fokus menyelesaikan masalah kepercayaan dengan cara mengedukasi seller. Saat itu Bukalapak sering membuat kisah sukses seller dan menyebarkannya ke Twitter guna mengedukasi seller lain agar menjadi seller terpercaya.

Beliau berkeinginan untuk menjadikan Bukalapak sebagai sarana online marketplace yang aman dan menjanjikan di masa depan. Bukalapak hadir mewadahi sektor usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia untuk tumbuh berkembang melalui internet. Beliau yakin bahwa peluang e-commerce sangat terbuka lebar. Setiap orang dapat bergabung serta menjadi penjual dan pembeli secara gratis. Baginya berjualan di toko fisik membutuhkan investasi besar, seperti biaya sewa toko. Pengeluaran semacam itu dapat dipangkas apabila berjualan melalui internet.

Bukalapak saat ini telah berkembang dengan pesat dengan adanya 150.000 lebih penjual yang menjual produknya di Bukalapak sehingga Bukalapak dianggap berhasil menjadi high impact enterprise di Indonesia melalui bisnis marketplace online. Bukalapak ingin mendorong para UKM agar dapat memanfaatkan teknologi seperti internet untuk dapat memperluas pangsa pasar mereka. Para UKM dapat berjualan secara profesional dengan memanfaatkan platform Bukalapak, dan tentunya dengan sistem yang lebih aman dan terpercaya baik bagi para pelapak maupun para pembeli.

Setelah berhasil memperoleh kucuran dana investasi dari EMTEK Group sejumlah ratusan miliar rupiah, kedepannya CEO sekaligus Pendiri Bukalapak, Achmad Zaky menargetkan pertumbuhan 8 kali lipat pertahun di berbagai aspek, mulai dari penjualan hingga pengguna.

Bukalapak memperoleh traksi dan menarik peluang investasi dari Batavia Incubator. Sadar akan adanya ruang yang bisa diisi di pasar e-commerce, Zaky menjadikan Bukalapak sebagai proyek utama.

Bukalapak sekarang mempunyai nilai transaksi lebih dari Rp 500 juta per hari. Tim Bukalapak optimis bahwa mereka bisa mendorong lebih banyak pembeli untuk melakukan transaksi mereka di platform pembayaran Bukalapak bernama BukaDompet tahun ini. Bukalapak baru-baru ini memperoleh pendanaan dari sekelompok investor Jepang untuk membantunya bertumbuh lebih cepat.
sumber : https://id.techinasia.com/kisah-sukses-founder-startup-indonesia

Pernakah anda mendengar Bukalapak? atau anda sebagai pengguna/ konsumen Bukalapak? Sudah kenal dengan pemiliknya? disini saya akan bercerita tentang Achmad Zaky pendiri Bukalapak perusahaan startup di Indonesia yang dianggap sebagai contoh startup berbasis e-commerce yang cukup sukses menjadi bisnis yang besar.

Achmad Zaky dilahirkan di Sragen pada tanggal 24 Agustus 1986.Achmad Zaky mulai mengenal dunia komputer pada tahun 1997 yaitu usia 11tahun. Ketika itu pamannya membelikan ia buku-buku tentang komputer. Sejak saat itu hobi seorang Achmad Zaky adalah utak-atik komputer .

Prestasi saat SMA yaitu menjuarai tingkat nasional Olimpiade Sains Nasional bidang komputer.Lulus SMA, Achmad Zaky diterima sebagai mahasiswa Teknik Informatika ITB.

Prestasi saat kuliah di ITB

  • Juara II di kompetisi Indosat Wireless Innovation Contest pada tahun 2007.
  • INAICTA(Indonesia ICT Awards) ia berhasil mendapatkan Merit Award di tahun 2008.
  • Mendirikan Entrepreneur Club ITB atau Technopreneur Club (TEC ITB)
  • tahun 2008 Achmad Zaky mendapat scholarshipatau beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk bersekolah di Oregon State University

Setelah Achmad Zaky lulus kuliah dari ITB, ia mendirikan Suitmedia yaitu semacam perusahaan konsultasi dibidang teknologi terutama teknologi computer. Ia sering mendapat job untuk membangun system IT berbagai perusahaan besar di tanah air. Karena Achmad Zaky memiliki kreatifitas yang tinggi dia mencoba untuk membuat sesuatu yang dapat berguna bagi masyarakat secara gratis. Berdirilah BUKALAPAK pada tahun 2010 yaitu situs belanja online yang misi dan visinya adalah memajukan para UKM di Indonesia lewat internet.

Tahun demi tahun, pertumbuhan bukalapak menunjukkan hasil yang signifikan. Dalam sehari ada 4- sampai 5Milyar rupiah total transaksi yang terjadi di Bukalapak.com . Hal ini membuat Achmad Zaky mulai dilirik investor asing seperti Softbank dan Sequoia Capital

Achmad Zaky dianggap telah berhasil menjadikan Bukalapak.com sebagai situs e-commerce , sebagai bisnis startup dan sebagai Marketplace yang cukup berhasil. Keberhasilannya ini membuat Achmad Zaky pada tahun 2015 dinobatkan sebagai 10 Technopreneur under 30th yang berpengaruh di Asia Tenggara

Kisah Perjuangan Awal Bukalapak

by: Achmad Zaky

Sukses yang diraih pendiri sekaligus CEO Bukalapak, Achmad Zaky, tidak datang serta-merta. Setidaknya ada tiga hal yang telah mengubah hidupnya. Semua itu dipaparkan Zaky dalam kuliah umum di hadapan ribuan mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) beberapa waktu lalu.

“Saya ingin berbagi cerita mengenai 3 hal yang menurut saya penting buat adik-adik sekalian ketahui,” ujarnya dalam acara itu.

Inilah 3 faktor tersebut:

1. Soal Keberuntungan (Luck)

image

Saya berasal dari kampung di pinggir Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Saya bukanlah anak paling pintar di kampung tersebut. Orangtua saya juga bukan paling kaya, keduanya guru mengajar di SMP sekitar rumah. Tapi saya beruntung mereka memikirkan saya, mendidik saya, dan menabung agar saya bisa kuliah di universitas terbaik. Inilah keberuntungan pertama saya dalam hidup. Dan saya kira adik-adik semuanya yang sudah kuliah di salah satu universitas terbaik, sudah jauh lebih beruntung dari saya. Kita harus bersyukur karena ini. Manfaatkanlah keberuntungan ini dengan sebaik-baiknya.

Sebagai mahasiswa dari daerah, kuliah di ITB tidaklah mudah. Saya sempat tidak pede karena banyak mahasiswa ITB yang pintar-pintar. Tapi ternyata disinilah keberuntungan saya selanjutnya. Saya berteman dengan orang-orang yang jauh lebih pintar. Salah satu teman dekat saya adalah mahasiswa paling pintar di ITB. Dia tidak pernah mendapatkan nilai selain A selama kuliah di ITB 4 tahun. Bahkan untuk mata kuliah Agama dia mendapat A sementara Ketua Keluarga Mahasiswa Islam waktu itu mendapat B.

Satu minggu sebelum ujian biasanya saya datang ke kosan dia untuk belajar. Jadi menjelang hari H saya siap betul. Ketika H-1 teman saya banyak bertanya ke saya soal ujian, pasti bisa, wong saya sudah belajar dari mahagurunya. Dengan mengajari teman-teman, saya juga jadi lebih pintar. Mereka tidak tahu bahwa saya sebelumnya belajar dari Fajrin. Namanya Fajrin Rasyid, dia kini jadi salah satu pendiri dan CFO di Bukalapak.

Jadi agar beruntung, bertemanlah sebanyak-banyaknya dengan teman yang lebih cerdas & lebih pintar. Bidang apapun, tidak harus secara akademik.

Sebagai mahasiswa dari daerah, saya memiliki momok yang sangat besar: Bahasa Inggris. SD tempat saya sekolah di kampung tidak mengajarkan Bahasa Inggris sama sekali di saat teman-teman SMP saya semuanya mendapatkannya. Di SMP dan SMA, saya hampir tidak lulus hanya karena Bahasa Inggris. Les tidak membantu karena menjadikan saya malah takut dan minder.

Di test TOEFL se-ITB, saya menduduki peringkat 3 dari bawah. Inilah ketakutan saya selama kuliah di ITB, saya harus mengubur keinginan saya kuliah di luar negeri yang semuanya mensyaratkan TOEFL. IP sebagus apapun tidak akan bisa membantu jika TOEFL kurang bagus. Tapi Allah berkehendak lain, keberuntungan selanjutnya datang. Waktu itu ada beasiswa pertukaran pelajar ke Amerika yang hanya ditujukan untuk mahasiswa yang tidak bisa Bahasa Inggris.

Saya langsung mencari informasi terkait beasiswa tersebut. Saya datangi beberapa alumni yang pernah mendapatkannya untuk menganalisa bagaimana mendapatkan beasiswa tersebut. Rupanya kriteria utama beasiswa tersebut adalah “tidak bisa berbahasa Inggris”; sudah pasti saya mendapatkan nilai terbaik disini, hehehe…

Kriteria kedua adalah nilai akademik yang baik. Di poin ini saya juga tidak buruk berkat keberuntungan pertama tadi. Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa dan berangkat ke Amerika Serikat. Setibanya di Amerika, saya baru tahu “How are you”, “I’m fine”, “Thank you” dsb, itu padahal kuno banget. Saya mulai menyadari bahwa esensi belajar (bidang apapun) adalah melakukan alias Doing, bukan hanya di kelas-kelas atau berdasarkan textbook yang kadang saklek dan menakutkan.

Teman-teman di Amerika juga maklum jika saya sering salah ngomong. Dari sinilah saya mendapatkan banyak teman luar negeri hingga relasi-relasi luar negeri, yang kelak membantu membesarkan jaringan investor saya untuk membesarkan Bukalapak juga.

Pelajaran dari poin pertama ini adalah keberuntungan datang saat kita siap! Banyak kesempatan di depan mata menanti yang siap diambil. Kita harus siapkan diri untuk mengambil kesempatan-kesempatan yang datang di masa depan.

2. Soal Kesenangan (Passion)

image

Saya selalu senang hal baru. Hal baru memberikan pembelajaran baru dan wawasan baru. Kampus ITB saya manfaatkan juga untuk mengeksplor hal-hal baru. Saya bergabung dengan banyak organisasi sewaktu di ITB. Dari KM ITB saya belajar berpikir kritis (kadang sering demo). Dari himpunan saya belajar kekompakan. Dari Menwa saya belajar kedisiplinan dan ketahanan. Dari ARC saya belajar bagaimana ngoprek dan memecahkan suatu masalah.

Saya juga senang sekali mengikuti lomba-lomba di bidang software sehingga memiliki tabungan yang lumayan lah. Waktu-waktu di ITB sangat tidak saya sia-siakan. Saya terus mencari apa yang sebenarnya menjadi kesenangan saya yang abadi nanti. Kita tidak pernah tahu apa isi hati/jiwa kita sampai kita terus mencoba dan mengeksplorasinya.

Karena pertemanan yang luas di kampus, saya juga membuat sebuah unit bernama Techno Entrepreneurship Club. Kami berpikir, mahasiswa ITB harusnya membuka lapangan pekerjaan, bukan malah mendesak mahasiswa lain yang dulu sudah gagal masuk ITB, masa harus gagal lagi masuk dunia kerja gara-gara mahasiswa ITB, ha ha ha…

Di klub ini kami konkrit membuat warung mie ayam sebagai eksperimen. Semua menggunakan uang pribadi kita sendiri-sendiri, dan ternyata gagal. Di sinilah saya pertama kali gagal dan kehilangan uang besar (untuk ukuran waktu itu) untuk pertama kalinya. Sedih rasanya waktu itu. Tapi belakangan saya bersyukur, karena kegagalan inilah saya bisa lebih matang menyiapkan eksplorasi saya selanjutnya.

Suatu ketika, saya dikontak oleh sebuah stasiun televisi untuk membuat sebuah software quick count pemilu, mereka mendapatkan referensi dari teman saya. Walau saya belum pernah membuat software quick count, tapi saya yakin itu bisa dilakukan, toh semua ada di Internet. Tidak ada yang tidak mungkin dibuat, itu dogma jurusan saya Teknik Informatika, STEI.

Tanpa berpanjang-lebar saya mengiyakan bisa membuat software tersebut yang diberi deadline hanya 7 hari. Mereka bertanya berapa biayanya? Saya jawab “1.5 juta”. Hitung-hitungan saya, uang tersebut cukup untuk 6 bulan hidup, toh cuma 7 hari pengerjaannya. Pasti untung… wong tidak ada biaya… cincai laaa (seperti iklan Bukalapak).

Pagi-siang-malam saya begadang mengerjakan software tersebut di kosan (Tubagus) dan akhirnya di hari H software tersebut lancar disiarkan di stasiun TV nasional. Itulah project komersial pertama saya yang dinikmati oleh puluhan bahkan ratusan juta orang di seluruh Indonesia. Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, senang sekali rasanya waktu itu hasil karya tangan sendiri dinikmati banyak orang.

Namun belakangan saya baru tahu nilai proyeknya ratusan juta. Tapi saya tidak menyesal karena setelahnya saya yang masih kuliah tingkat 3 waktu itu, mendapatkan kepercayaan dari stasiun TV nasional untuk project selanjutnya, yang tentu nilainya kini berbeda dari sebelumnya. Saya naikkan 10x lipat dan mereka masih mau! Kesenangan inilah yang menjadi momen penting dan jatuh cintanya saya pada dunia software.

Kita tidak pernah tahu apa jadinya diri kita di masa depan. Hidup ini menurut saya seperti air. Ikuti saja kemana air mengalir, sambil mencoba hal-hal baru yang lewat dan terus ikuti kata hati kita (inner voice). Jika senang dan mau, coba! Jika tidak ya tidak perlu dicoba. Kita bisa menjadi terbaik karena kita senang dan mau di bidang itu. Carilah kesenanganmu (passion).

3. Soal Tujuan Hidup (Purpose)

image

Setelah lulus, saya sejenak pulang kampung. Saya mengamati banyak sekali tetangga saya di kampung yang memiliki usaha kecil, tapi pendapatannya masih sama dengan belasan tahun sebelumnya, padahal ada inflasi. lnilah yang menjadi inspirasi awal pembuatan software lanjutan ini, supaya bagaimana software tersebut bisa membuka kesempatan bagi usaha-usaha kecil seperti tetangga saya dan jutaan usaha kecil lainnya, untuk melebarkan sayap dan berkembang lebih besar lagi.

Perjalanan baru pun dimulai. Saya mencari nama dan domain. Dari ratusan nama yang saya daftar, terpilihlah Bukalapak. Selain harganya murah 90 ribu, nama ini menggambarkan misi software ini, bahwa siapapun bisa semudah menggelar tikar atau lapak dengan software. Siapapun bisa berbisnis dan menjadi besar lewat Internet.

Saya juga memutuskan mencari partner, karena misi besar ini tidak bisa saya bangun sendirian. Tidak banyak yang tertarik ketika saya utarakan konsep Bukalapak, tapi saya tidak menyerah. Saya akhirnya dipertemukan dengan teman yang sebenarnya sudah lama satu jurusan dan juga satu SMA, Xinuc, saat ini CTO di Bukalapak. Dia tidak aktif organisasi, tapi senangnya ngoprek komputer di kosan.

Ketika saya cerita ide Bukalapak, dia yang paling semangat. Rupanya dia selama ini di kosan terus karena terobsesi dengan mesin. Bagaimana menciptakan mesin yang bisa secara bersamaan digunakan oleh jutaan orang. “Ini menarik,” kata dia. Kami diskusi siang-malam bagaimana memulai semua mimpi kami tersebut.

Kami kemudian mulai membangun Bukalapak selama dua bulan non-stop berdua di kamar kosan. Ya, dua laki-laki dalam satu kos. Tapi ini ga aneh-aneh lo ya, ha ha ha… Kita berdua ini sedang membuat software. Website kami live pada Januari 2010, dan tidak ada yang mengunjungi website kami. Ada sih 1-2 pengunjung tapi pas kita cek sistem, itu komputer kami sendiri, sedih dan marah rasanya, tapi lagi-lagi kita pantang padam. Kami selalu ingat Tujuan Besar kami.

Perjalanan baru dimulai. Saya mulai sisir lapak-lapak di pinggir jalan (offline) dan juga online untuk bergabung dengan Bukalapak. Banyak yang tidak tertarik dengan software kami. Tapi ada segelintir yang tertarik. Aktivitas ini kami ulang terus setiap hari hingga 1 tahun kami memiliki pasukan UKM hingga 10 ribu. Kami senang karena Tujuan kami perlahan-lahan mulai mewujud.

Tapi ada satu masalah besar: bisnis Internet saat itu memang belum matang, pasarnya juga masih kecil. Uang pribadi kami habis untuk menghidupi Bukalapak. Kami coba cari investor, tidak ada yang tertarik. Sementara orang tua dan mungkin calon mertua sudah mulai bertanya “Kerja di mana kamu?”. Pertanyaan sakral ini menghantui kami terus, selain kenyataan bahwa kas kami sudah nol. Xinuc pun pernah memiliki ide bagaimana kalau kita sudahi saja. Tapi sekali lagi kami tidak menyerah, saya selalu ingatkan diri dan Xinuc juga pada Tujuan Akhir.

Saya sampaikan ke dia: “Lihatlah 10 ribu UKM itu, mereka hidup dari kita. Kalau ini ditutup, mereka hidup dari mana?” Selalu mengingat Tujuan Utama & Tujuan Akhir kita akan membuat kita jadi terus semangat. Tak diduga-duga, pertumbuhan kami lebih cepat setelah itu. Internet di tahun 2012 menjadi bisnis yang sudah mulai menarik dan terus berlanjut. Per hari ini kami memiliki 1,8 juta UKM dan juga memproses 1 Triliun-an transaksi setiap bulannya.

Pelajaran dari poin ketiga ini: carilah Tujuan Hidupmu. Tujuan inilah yang menguatkan kita di masa-masa sulit. Hidup hanya sekali, Tujuan ini pulalah yang memberikan makna dalam hidup kita.

Sukses selalu kawan-kawan, dan jangan pernah menyerah…